Setrap ala Literasi


 

 

Catatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

 

 

Gara-gara berisik saat jam pelajaran fisika, kami beberapa murid laki-laki disuruh Pak Guru maju di depan kelas. Termasuk sang ketua kelas, Viktor Setiawan, yang kini menjadi dokter di Bekasi. Kami dihukum berdiri selama pelajaran. Kejadian ini berlangsung saat saya masih duduk di bangku kelas 2 di sebuah SMP negeri di Bekasi Timur.

Ketika SMP, saya lumayan sering kena setrap. Biasanya karena telat masuk sekolah, lupa mengerjakan PR, dan tidak membawa topi saat upacara bendera yang biasanya dihelat tiap Senin pagi. Hukumannya macam-macam. Kalau tidak ikut upacara bendera, biasanya kami disetrap di tiang bendera dan disuruh hormat sampai setengah jam. Jika lupa merampungkan PR, biasanya kami dihukum dengan mengerjakannya di luar kelas atau tidak boleh ikut pelajaran tersebut.

Namun, yang bikin geram, ada guru kami yang bukan main galaknya. Jika kami melakukan kesalahan yang menurut beliau fatal, kami mesti rela menerima martabak bangka. Yakni, istilah di kelas kami untuk menyebut tempelengan dari guru killer itu.

Pernah suatu ketika beberapa rekan saya mematahkan kursi saat jam pelajaran Basa Sunda. Apesnya, insiden tersebut ketahuan sang guru. Mereka lantas diminta berjejer di depan kelas. Kalau tidak salah, ada empat atau lima siswa waktu itu. Tanpa ampun, mereka semua dihadiahi martabak bangka di pipi. Tak ada di antara kami satu pun yang berani melaporkan tindakan itu.

Uniknya, saat reuni SMP kami pada 2012, guru tersebut mendapat penghargaan dari kami sebagai salah satu guru favorit. Kendati terkenal killer, sebenarnya ia bisa menjadi sosok yang sangat humoris ketika mengajar. Dalam sebuah kesempatan, ia mengaku tidak akan melakukan penempelengan apabila tindakan muridnya dinilai tidak keterlaluan. Ia pun meminta maaf. Kami bisa memahami sikap beliau. 

Saya pikir, hukuman-hukuman model begitu (seperti yang pernah saya alami dulu) sudah ketinggalan zaman. Harus ada hukuman yang lebih mendidik, tapi sekaligus bisa menyenangkan dan menguntungkan. Lho kok?

Maksudnya, ketika ada murid yang melanggar aturan atau tata tertib sekolah, ia bisa diberi hukuman dengan membaca buku di perpustakaan. Kemudian, ia diminta membuat resume atau rangkuman dari buku yang dibacanya.

Si murid boleh memilih sendiri bacaannya. Hasil dari rangkuman yang telah dibuat lantas dibacakan di depan kelas. Ia mesti bisa memberikan penilaian tentang sisik menarik dari cerita dalam buku itu. Nah, para siswa lainnya juga dapat dilibatkan dengan cara memberikan kritik atau masukan terkait rangkuman tersebut.

Dengan demikian, diharapkan terjadi diskusi literasi yang menarik di kelas. Guru pun harus bisa menghidupkan suasana dan tidak memosisikan murid yang melanggar aturan tadi sebagai terdakwa yang layak dipermalukan di depan audiens (kelas).

Yang lebih penting, guru juga perlu mendalami bacaan apa saja yang diminati oleh para muridnya. Pertanyaan-pertanyaan yang persuasif terkait itu bisa menjadi ide untuk menyusun pembelajaran tematik yang lebih menarik.  

Sebenarnya, untuk semua mata pelajaran bisa diterapkan diskusi dan setrap literasi seperti ini. Siswa yang dihukum pun merasa tidak disudutkan dan dipermalukan. Justru secara tidak langsung ia digiring ke pembiasaan membaca. Jadi, jangan lagi ada setrap seperti kaplok dan berdiri di kelas dengan satu kaki dan kedua tangan memegang daun telinga. Itu sudah kuno!

 

 

 

Kota Delta, 21 Juli 2013

 

 

 

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 22, 2013, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: