Ketika Allah Menyuruh Kita Berbudaya Literasi


 

Catatan Must Prast

penulis buku Kekuatan Pena dan Merekam dengan Kata-Kata

 

Dalam bulan suci Ramadan, ada satu momen penting yang selalu diperingati umat Islam setiap 17 Ramadan. Yakni, Nuzulul Quran. Pada malam itulah, Allah memberikan perintah kepada manusia untuk memiliki budaya literasi lewat turunnya ayat pertama Alquran tentang perintah membaca (iqra’).

Mengapa demikian? Sebab, manusia adalah makhluk yang diberi keistimewaan karena memiliki akal budi. Hal inilah yang membedakannya dengan makhluk lain. Namun, akal budi saja belum cukup untuk membangun sebuah peradaban bangsa. Diperlukan kemauan belajar yang baik dan intensif agar mampu menghasilkan gagasan dan kreativitas yang bermanfaat.

Sebuah hasil tidak akan terwujud tanpa melalui sebuah proses. Di sinilah kegiatan belajar itu mengambil peran amat penting. Proses belajar inilah yang sesungguhnya dibutuhkan untuk membuka wawasan keilmuan. Tanpa belajar, tidak ada hasil. Dengan demikian, tentu saja juga tidak akan ada manfaat yang bisa diharapkan.

Kita bisa bayangkan bagaimana jadinya apabila Thomas Alva Edison berputus asa ketika percobaannya saat membuat alat penerang berkali-kali menemui kegagalan. Tentu tidak bakal ada lampu. Namun, yang terjadi adalah Edison justru banyak belajar dari berbagai percobaan yang tidak berhasil tersebut.

Kecanggihan dan modernitas teknologi yang kian berkembang saat ini juga tidak bisa dilepaskan dari hasil belajar. Para ilmuwan terus mengembangkan teknologi dari berbagai bidang yang pada hakikatnya ditujukan untuk membantu atau memudahkan aktivitas manusia. Semua ini tidak dapat terwujud apabila tidak ada proses pembelajaran.

Jika kita mau berpikir lebih dalam dan meresapi kembali ayat pertama (iqra’) tadi, sesungguhnya Allah menginginkan manusia sebagai makhluk pembelajar. Sebab, Allah telah menunjuk manusia sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi dengan ditunjuknya nabi dan rasul dari kaum manusia. Bukan makhluk lain seperti malaikat dan jin.

Hal itu hanya dapat diwujudkan melalui sebuah budaya yang mampu mengubah peradaban bangsa dan dunia, yaitu literasi. Kita tentu sama-sama menyadari bahwa Allah tidak serta-merta memberikan perintah atau kewajiban apabila tidak ada manfaat bagi umat manusia. Lantas, masihkah kita berpaling dan enggan berbudaya literasi yang bisa dimulai dari diri sendiri?

Kota Delta, 19 Juli 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 18, 2013, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: