Ingin Kutonjok Muka Muhammad Ali


Catatan Must Prast

(cita-cita terdekat saya adalah menumbuhkan kumis)

Dalam sebuah kelas menulis sesi awal yang diikuti beberapa siswa SMA, saya menyetel video rekaman pertandingan tinju yang melibatkan Muhammad Ali dan George Foreman pada 30 Oktober 1974. Ini adalah salah satu duel tinju terhebat sepanjang masa. Keduanya sama-sama punya nama besar di kelas berat.

Duel ini dikenang dengan sebutan The Rumble in the Jungle. Saya meminta para siswa untuk menyimak hingga habis. Termasuk adegan ketika Muhammad Ali melancarkan psy war-nya yang terkenal sebelum memasuki hari pertandingan.

Ali memang dikenal sebagai petinju bermulut besar. Gaya bicaranya ceplas-ceplos dan doyan meremehkan lawan. Sikap inilah yang membuat banyak lawannya gemes. Namun, ia tetap dikenang sebagai salah seorang petarung di atas ring paling hebat sepanjang masa.

Kelas pun hening. Kami sama-sama asyik memperhatikan video tersebut. Mereka pun ikutan gemes saat adegan Muhammad Ali berkoar-koar untuk menjatuhkan lawannya dalam tiga ronde saja. Bukan apa-apa, Ali mengucapkannya dengan raut muka yang bisa bikin kita mentolo ngremus ae (menyantapnya).

Setelah tayangan usai, saya memberikan tugas kepada mereka. ”Rasanya saya ingin menonjok muka Muhammad Ali yang terlihat angkuh itu. Tapi, saiki (sekarang) Ali sudah sangat tuwir dan tak berdaya karena penyakit Parkinson yang diderita. Bagaimana caranya agar keinginan tersebut bisa terpenuhi?” pancing saya.

Beberapa di antaranya terlihat berpikir keras. ”Bikin cerpen, Pak,” ucap tiba-tiba salah seorang siswa laki-laki. ”Sip. Betul…!” sahut saya. Kelas tersebut memang saya ciptakan untuk menggiring para siswa mampu mengembangkan imajinasi dan menautkannya dengan pengalaman hidup sehari-hari. Salah satu kiat untuk memotivasi menulis dan memberikan ide buat mereka adalah menonton video seperti itu.

Saya kemudian menyuruh mereka untuk mengungkapkan keinginan masing-masing setelah melihat video tinju tadi. Juga menuliskan beberapa pertanyaan untuk dijawab agar menjadi sebuah kerangka tulisan yang baik. Mereka saya bebaskan untuk menguraikan bentuknya ke dalam esai ataupun cerpen. Hasilnya kami diskusikan bersama dan membuat kelas menjadi heboh. Semakin hidup.

Kota Delta, 18 Juli 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 17, 2013, in Menulis. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: