Percayalah, Sekolah yang Tidak Membiasakan Budaya Literasi Bakal Melahirkan Lulusan yang Kurang Percaya Diri


Catatan Must Prast

penulis Stand Up Komodo

Di rumah saya banyak buku mata pelajaran bahasa Indonesia, terutama tingkat sekolah dasar (SD). Mulai kelas 4 hingga kelas 6. Jangan keburu heran. Sebab, istri saya memang guru pelajaran tersebut. Tahun ini ia menjadi wali kelas 3 sehingga banyak buku pelajaran bahasa Indonesia kelas 4-6 yang sudah tak terpakai lagi.

Semuanya saya kumpulkan. Tidak hanya buat koleksi, tapi juga saya baca. Kadang saya mengajak istri saya berdiskusi seputar pembelajaran di kelas yang terkait dengan bahasa Indonesia. Juga metode-metode pengajaran yang ia terapkan. Saya banyak menanyakan kepadanya tentang kegiatan literasi (membaca dan menulis) di sekolahnya.

Soal kegiatan membaca bagi siswa, perhatian sekolah tempat istri saya mengajar tersebut termasuk baik. Mereka punya jam khusus membaca di kelas dan perpustakaan. Wali kelas dan guru pendamping selalu mengontrol hasil bacaan para siswa.

Apabila saya menjemput nyonya pulang kerja sore hari, hampir selalu saya temui murid yang membaca buku sambil menunggu jemputan. Mereka melakukannya di masjid sekolah maupun teras rumah warga setempat. Tak heran jika kultur literasi yang sejuk ini melahirkan beberapa penulis cilik di sekolah tersebut. Di antara mereka, ada yang sudah lulus.

Tak jarang, saya berbagi kiat kepada istri untuk materi mengarang. Misalnya, guru sebisa-bisanya menjelaskan dengan rinci dan memberikan contoh yang sesuai. Guru juga tidak harus saklek mengajarkan menulis berdasar buku teks. Improvisasi pun diperlukan agar suasana pembelajaran tidak membosankan. Misalnya, siswa diminta mengembangkan imajinasinya ketika latihan membuat puisi. Ada pula teknik menguraikan cerita singkat, lalu dibuat menjadi puisi yang pendek namun pesannya tetap sama. Pelajaran membaca dan menulis pun menjadi menyenangkan.

Tiap semester saya tak lupa bertanya kepada nyonya tentang progres latihan literasi di sekolahnya. Khususnya materi membaca dan mengarang dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Saya juga melakukan penelitian sederhana dengan mewawancarai beberapa siswa kelas 6 dan wali murid. Terutama murid yang aktif ikut di kegiatan literasi seperti jurnalistik.

Ada seorang ibu yang mengaku bahwa anaknya kian percaya diri setelah anaknya mengikuti ekstrakurikuler jurnalistik yang menitikberatkan pada pengembangan keterampilan menulis. ”Padahal, anak saya ini dulu sangat pemalu dan nggak pedean,” ucapnya.

Salah satu manfaat menulis memang membangun kepercayaan diri. Sebab, dalam aktivitas itu, dibutuhkan kemampuan menggali dan memberikan informasi secara baik kepada pembaca. Tatkala informasi tersebut mendapat respons yang baik pula dari pembaca, si penulis tentu mendapatkan motivasi. Nah, spirit inilah yang secara tidak langsung meningkatkan level kepercayaan diri seseorang.

Tidak semua orang memiliki bakat dan keterampilan menulis. Tetapi, hal ini bisa dipupuk melalui membaca sebagai modal dasar seorang penulis. Mengingat banyak tahapan yang mesti dilalui untuk menjadi penulis yang baik, tak heran apabila banyak anggapan bahwa menulis itu ribet dan sulit.

Tetapi, bukankah tidak ada keberhasilan yang diraih dengan mudah? Suatu keterampilan bisa dikuasai hanya dengan latihan, latihan, dan latihan. Kalau mau memiliki keahlian membaca cepat, ya mesti membaca, membaca, dan membaca. Pada tingkat berikutnya, jika ingin bisa menulis, kata Dahlan Iskan langkahnya hanya tiga: menulis, menulis, dan menulis.

Untuk itulah, saya mendorong nyonya dalam mengembangkan keterampilan membaca dan menulis para siswanya dengan pembelajaran yang kreatif dan mengasyikkan. Mengapa ini penting untuk dilakukan. Alasannya ya itu tadi: literasi bermanfaat dalam membangun kepercayaan diri siswa.

Jalurnya sudah benar, yakni dilakukan sejak dini. Saya merasakan betul betapa kompleksnya masalah ketika melatih mahasiswa menulis. Lha wong sebagian besar belum terbiasa membikin tulisan. Apabila mengoreksi tulisan mahasiswa seperti ini, ibaratnya saya mesti menyiapkan obat pereda sakit kepala. Ampun mama!

Inilah yang semakin meyakinkan saya bahwa budaya literasi harus diperkenalkan dan diterapkan sejak usia dini. Pola pembekalannya juga jangan kaku. Harus seluwes-luwesnya sehingga siswa merasa nyaman. Kreativitas guru sangat dibutuhkan.

Dalam pengamatan saya, apabila guru hanya berpedoman pada buku teks pelajaran saat mengajarkan materi mengarang, hasilnya bisa jauh dari harapan. Apalagi jika siswa tidak dilatih untuk mengembangkan imajinasinya. Bisa-bisa kejadiannya seperti ketika saya masih SD dulu. Kalimat pembuka yang saya tulis ketika dapat PR mengarang adalah ”Suatu hari, bla…bla…bla….” Selalu itu. Ya atau iya?

Maka, sudah seharusnya para guru mampu mendorong siswa untuk mencintai kegiatan membaca dan menulis. Sebab, manfaat aktivitas yang menjadi mesin utama budaya literasi tersebut sangat banyak.

Pada era persaingan global seperti sekarang, Indonesia membutuhkan banyak generasi muda yang andal dan berdaya saing di berbagai bidang. Namun, tidak ada bidang yang tidak membutuhkan keterampilan literasi. Dengan menguasai keterampilan ini, bisa dipastikan seseorang memiliki kemampuan komunikasi yang baik.

Jika kita tidak membiasakan kultur literasi sejak dini kepada anak-anak didik kita mulai sekarang, harapan untuk menuju generasi emas pada 2045 bisa jadi hanya angan-angan belaka. Sekarang atau tidak sama sekali!

Kota Delta, 17 Juli 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 16, 2013, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: