Penulis Butuh Stres


Catatan Must Prast

jengkol balado + sambal pete = prahara cinta

Bagi saya, stres itu adalah ketika ikut ujian skripsi. Membayangkan kumis dosen penguji yang mimiknya sama sekali tak memamerkan senyum bakal membuat perut saya mulas. Belum lagi membayangkan pertanyaan yang terkesan mencari kelemahan, wah kepala saya pasti pening berat.

Bagi saya, stres saat menjalani ujian skripsi lebih dahsyat ketimbang ikut sunat massal. Saat nama dipanggil ke dalam ruang ujian, keringat dingin mulai menetes. Dalam waktu sepersekian detik, kita dituntut untuk mampu menguasai diri. Jangan sampai terlihat keki atau lutut gemetar saat presentasi. Lebih-lebih, jangan sampai pipis di celana.

Bagi saya, kini stres adalah ketika dikejar-kejar deadline penerbit. Di tengah tugas yang menumpuk seperti mencuci piring, menyapu, mengepel, menguras bak mandi, membaca komik, dan fesbukan, saya dituntut untuk mampu menyelesaikan beberapa deadline dalam sebulan. Apa nggak stres coba?

Bagi saya, alunan lagu Kuch Kuch Hota Hai yang diaransemen ulang oleh Didi Kempot belum cukup untuk meredakan stres tersebut. Ngopi juga tidak menjamin hati tenang, apalagi jika dilakukan saat siang bolong di bulan Ramadan. Namun, itu dulu. Sebab, ternyata stres juga bisa diubah menjadi energi yang positif.

Bagi saya, bekerja di bawah deadline ketat memang bisa menciptakan stres. Tetapi, jika seorang penulis mampu memanajemen stres secara baik, hasilnya berpeluang memuaskan. Misalnya, menyikapi sebuah deadline sebagai sarana untuk mendisiplinkan diri.

Bagi saya, baru mulai menulis buku ketika deadline sangat mepet adalah tindakan yang kurang bijaksana. Anehnya, saya kok masih saja melakukannya (plis jangan ditiru, aQ mÖhÖñT, sekali lagi aQ mÖhÖñT). Alhasil, saya dituntut untuk memenuhi deadline dengan kerja yang tergesa-gesa. Ini sangat tidak bagus. Bayangkan, ketika deadline tinggal 10 hari, saya harus menutup kekurangan menulis sebanyak 100 lembar lebih. Kapan kapokmu! Nah, di sinilah diperlukannya manajemen stres yang lebih baik. Stres bagi siapa pun tetap diperlukan. Bukankah hidup juga penuh ujian dan tantangan? Taklukkan!

Kota Delta, 14 Juli 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 14, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: