Tayangan Sahur


Catatan Must Prast

Entah apa yang ada di benak sebagian pemilik televisi swasta di Indonesia. Hampir setiap waktu sahur tiba, tayangan yang ditampilkan selalu lawakan. Ironisnya, ada saja lelucon yang menjurus pada fisik. Boleh saja di studio itu ada tawa berderai-derai, tapi ini sesungguhnya layak menjadi keprihatinan tersendiri.

Mungkin yang ada di benak mereka hanya keuntungan, keuntungan, dan keuntungan. Yakni, meraup sebanyak-banyaknya uang dari para pemasang iklan untuk sebuah tayangan humor itu. Mereka menilai masyarakat sangat membutuhkan hiburan. Hal ini diartikan sebagai kesempatan untuk mengeruk duit.

Tak peduli penayangannya dilakukan pada bulan suci, yang penting penonton happy, habis perkara. Tak peduli tayangan tersebut mendidik atau tidak, yang penting penonton suka, habis masalah. Kepekaan adalah nomor dua. Yang penting pemirsa dan pemasang iklan senang, tiada persoalan.

Acara ala badut genit ini kian diminati saja. Buktinya, beberapa tayangan justru menduduki rating bagus. Hal itu bisa dilihat dari kemunculannya pada jam-jam favorit, waktu ketika orang betah duduk di depan televisi.

Hampir saban hari, dari Senin ke Senin lagi, tayangan lawakan rajin menyapa. Beberapa tokohnya pun tak alpa menampilkan lawak yang malah cenderung kasar. Misalnya, mengeluarkan ucapan yang bernada olok-olok terhadap kekurangan fisik tokoh lain. Inikah yang disebut hiburan? Hiburan adalah sesuatu yang memberikan kenyamanan tanpa perlu mengumbar kekurangan.

Celakanya, justru rating acara yang (maaf) kurang bermutu itu kian tinggi. Masalahnya, banyak pemirsa yang terlena. Bisa jadi mereka ini datang dari kalangan menengah ke bawah.

Yang lebih menyedihkan, bulan suci Ramadan seakan telah dikepung tayangan-tayangan seperti itu. Acara sahur pun dijejali pelawak, yang sebagian di antaranya menampilkan kegemulaian seorang pria yang seharusnya bersikap pria. Esensi sahur sebagai persiapan untuk menata mental menghadapi segala ujian dalam ibadah puasa pun sama sekali tidak tampak dalam acara tersebut. Betul-betul memprihatinkan.

Entah apa yang ada di benak sebagian pemilik televisi swasta itu. Bulan yang penuh hikmah dan ampunan justru tercemari oleh tayangan humor yang sama sekali tidak cerdas dan mencerdaskan. Malah bisa berdampak kurang baik bagi generasi muda.

Maka, sudah saatnya kita menjadi pemirsa yang bijaksana. Termasuk memilih tayangan yang baik. Baik bagi diri sendiri maupun keluarga. Apalah artinya mendapat hiburan apabila itu justru tidak memberikan maslahat sama sekali. Senangkah kita tertawa terbahak-bahak ketika Nabi pernah mengingatkan bahwa menangis karena mengingat dosa itu lebih baik?

Apabila suatu tayangan dinilai tidak mengedukasi, kita tak perlu ragu mematikan channel TV. Biarkan Ramadan menjadi hiburan sejati bagi pikiran, hati, dan jiwa kita. Wallahu ‘alam bishshawab.

Kota Delta, 14 Juli 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 13, 2013, in Ramadhan, Refleksi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: