Membaca Aktif


Catatan Must Prast

Saya punya dokter langganan. Sejak bertugas di Jawa Pos dulu hingga sekarang, saya masih setia menggunakan jasanya. Ia dokter militer dengan pangkat terakhir tiga melati di pundak (kolonel). Karena sudah usia pensiun, ia lebih banyak berpraktik di rumahnya, kompleks Kodam V/Brawijaya, Surabaya.

Namanya Tedja Kusumah. Ia peranakan Tionghoa-Jawa. Karena sugesti yang begitu kuat, sakit saya bisa sembuh dalam satu atau dua hari setelah berobat ke dr Tedja. Biasanya, ketika sakit radang tenggorokan, saya langsung periksa ke sana.

 Di rumahnya yang asri, ia membuka praktik mulai pukul 06.00-08.00 dan pukul 18.00-20.00 tiap Senin sampai Jumat. Ada ruang tunggu tepat di depan kamar periksa. Kapasitasnya tergolong kecil, tempat duduknya hanya cukup untuk sekitar 10 orang saja. Namun, pasien di sana hampir tak pernah sepi. Begitu pasien yang satu pulang, datang yang lain.

Agar pasiennya yang menunggu di luar tidak bosan, dr Tedja menyediakan majalah-majalah bekas untuk dibaca. Di antaranya, majalah musik, kesehatan, remaja, dan kuliner.

Tentu saja ini menarik bagi saya. Selain membuang rasa bosan saat menunggu giliran diperiksa, membaca majalah bekas tersebut lumayan menyegarkan pikiran. Dalam kondisi seperti ini, membaca aktif sangat diperlukan.

Mengapa? Sebab, sebenarnya waktu yang dimiliki kala itu (pada masa jeda menunggu) tidak terlalu banyak. Sementara halaman yang dibaca cukup banyak (lebih dari 50 halaman). Majalah bekas yang disediakan pun banyak. Sayang jika dibaca, demikian pikir saya. Untuk itu, membaca aktif memegang peran penting.

Bagi kalangan akademisi, jurnalis, penulis, guru, sampai pelajar, membaca aktif bermanfaat untuk mengasah kemampuan berpikir kritis. Untuk membaca aktif, seseorang harus memiliki kemauan kuat dan keterampilan membaca.

Bagaimana membaca aktif itu? Kadiah sederhananya adalah mengajukan pertanyaan ketika membaca dan pertanyaan ini hendaknya dijawab saat proses tersebut terjadi. Seni membaca memerlukan kebiasaan mengajukan pertanyaan yang tepat dan pada waktu yang tepat. Berikut ini beberapa contoh pertanyaan yang dapat diajukan mengenai bacaan apa pun (Winarno, 29 : 2012).

  1. Mengenai apakah isi tulisan tersebut?

Pembaca harus berusaha menemukan gagasan utama tulisan itu dan cara penulis menguraikan idenya secara sistematis dalam suatu kaidah tertentu.

  1. Apa yang menjadi pemikiran penulis dan bagaimana ia mengartikulasikan pikirannya?

Pembaca harus mencari dasar-dasar pemikiran dan landasan yang dipakai si penulis untuk menyampaikan maksud tulisannya.

  1. Seberapa penting tulisan itu?

Jika tulisan tersebut telah memberikan informasi, hendaknya pembaca bertanya tentang arti informasi itu. Mengapa penulis menganggap bahwa orang perlu mengetahuinya? Apakah mengetahuinya juga penting bagi pembaca? Bila bacaannya memberikan informasi dan meningkatkan pemahaman, pembaca perlu mendapatkan pemahaman yang lebih dalam dengan bertanya lagi tentang apa yang bisa dipelajari.

  1. Apakah substansi tulisan tersebut benar semua atau hanya sebagian?

Pertanyaan ini tidak bisa dijawab jika pembaca belum menjawab dua pertanyaan sebelumnya. Pembaca harus tahu apa yang ditulis pengarang sebelum memberikan penilaian apakah tulisan tersebut benar atau salah.

Kota Delta, 10 Juli 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 12, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: