BBM (Bahan Bakar Menulis)


Catatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Apakah benar untuk kegiatan menulis dibutuhkan bahan bakar? Langsung saja saya jawab iya! Mengapa demikian? Sebab, tubuh manusia saja membutuhkan energi untuk beraktivitas atau bekerja. Energi itu bisa didapatkan melalui makanan dan minuman yang mengandung zat-zat yang diperlukan oleh tubuh seperti karbohidrat, protein, lemak, hingga vitamin.

Demikian juga halnya dengan menulis. Kegiatan ini tidak mudah dilakukan tanpa latihan yang intens. Sebab, sejatinya semakin sering berlatih, semakin baik pula hasilnya. Artinya, semakin sering berlatih menulis, semakin mahirlah seseorang dalam merangkai kata, frasa, kalimat, dan paragraf.

Sebagaimana keahlian lain, menulis pun memiliki tahapan tersendiri. Saya mencoba mengategorikan penulis pada empat level. Pada tingkat pemula atau pertama, seseorang bisa berlatih menulis bebas (free writing). Ia dapat melakukannya sendiri ataupun didampingi fasilitator atau guru yang berkompeten. Dalam latihan menulis bebas, seseorang bebas menulis apa saja. Sebebas-bebasnya.

Dalam tahap tersebut, kaidah kebahasaan boleh ditabrak. Kesalahan penulisan tanda baca masih bisa dimaklumi dan dimaafkan pada latihan ini. Sebab, tujuan latihan menulis bebas adalah mengeluarkan ide di dalam otak dalam bentuk bercerita tanpa dibatasi aturan-aturan yang terkait dalam kaidah penulisan.

Seseorang benar-benar seolah berada di jalan tol, bebas hambatan. Fasilitator dalam latihan menulis bebas ini lebih dibutuhkan untuk memberikan pertanyaan-pertanyaan yang mendorong seseorang mau bercerita. Dan cerita itu disalin dalam bentuk tulisan. Pokoke nggedabrus sebebas-bebasnya. Dalam latihan ini, kita dapat menceritakan sesuatu dengan alur yang melompat-lompat atau menceritakan sesuatu dengan banyak tema.

Selanjutnya ada tingkat dasar. Apabila di tingkat pemula seseorang diperbolehkan menulis sebebas-bebasnya, pada tingkat dasar ini dia akan diberikan pembekalan secara khusus. Selain praktik, ia akan mendapatkan teori dan teknik atau metode menulis yang benar. Pengetahuan ini penting agar hasil ide kreatifnya dalam bentuk tulisan lebih tertata dan terstruktur.

Berikutnya, ada tingkat menengah. Pada level ini, seorang penulis tidak hanya mendapat penjelasan secara rinci tentang teori dan metode kepenulisan, tetapi juga kaidah kebahasaan dan penguasaan kosakata. Artinya, hasil selama latihan pada tahap sebelumnya mampu memberikan gambaran tentang kelebihan dan kekurangan tulisan. Dengan demikian, ia mampu memetakan masalah dalam suatu tulisan sehingga bisa memperbaikinya dengan cepat. Penguasaan kosakata juga diperlukan agar karya tulis tidak monoton dengan kata-kata yang itu-itu saja.

Tahap selanjutnya tentu saja tingkat mahir. Biasanya, kelas ini dihuni para penulis profesional, kolumnis media massa, hingga penulis jurnal. Pada tahap ini, seseorang bisa menuliskan gagasannya dengan cepat. Contohnya, penulis artikel opini di surat kabar nasional. Biasanya, halaman opini mensyaratkan isu yang faktual sebagai tema tulisan agar bisa dimuat. Hal ini tidak akan menjadi masalah berarti bagi mereka yang terbiasa menulis artikel ilmiah populer (opini). Ibaratnya, 15 menit pun tulisan bisa jadi.

Namun, di antara empat tahap yang saya sebutkan tadi, tetap saja dibutuhkan bahan bakar sebagai energi. Setiap penulis mungkin membutuhkan bahan bakar menulis (BBM) yang berbeda-beda, bergantung kebutuhan.

Penulis yang sulit menumpahkan gagasan jika suasana ramai tentu memilih bahan bakar menulis berupa tempat yang nyaman dan tenang. Penulis yang selalu membutuhkan hiburan bisa jadi memilih alunan musik tertentu sebagai bahan bakar menulisnya. Sebab, bagi mereka, musik dianggap bisa menenangkan jiwa sehingga ide dapat diurai dengan lancar.

Saya sendiri memilih kopi tubruk hitam manis sebagai teman menulis. Aromanya yang harum dapat menyejukkan pikiran. Dengan komposisi gula yang pas, saya tidak akan ragu-ragu menyeruputnya. Jika sudah begini, semangat menulis biasanya berlipat ganda.

Tetapi, sesungguhnya bahan bakar menulis yang utama bukanlah suasana yang tenang, bukan musik, bukan secangkir kopi. Sebab, pada dasarnya energi yang dibutuhkan tiap penulis itu sama. Energi tersebut berasal dari kegiatan membaca. Ya, bahan bakar menulis adalah membaca. Tanpa membaca, seorang penulis tidak akan punya modal yang baik untuk menghasilkan suatu karya yang layak dinikmati pembaca. Yang paling penting dicamkan adalah penulis yang baik sesungguhnya ialah pembaca yang baik pula.

Kota Delta, 12 Juli 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 12, 2013, in Menulis. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: