Kelebihan Buku


Catatan Must Prast

Ketika peluncuran film Laskar Pelangi yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Andrea Hirata, saya merasa itu tidak seasyik saat membaca novelnya. Jauh sebelum film laris itu ditayangkan di bioskop, saya sudah mengkhatamkan novel yang konon royaltinya mencapai miliaran rupiah tersebut. Ada poin-poin yang hilang di filmnya.

Namun, Andrea mengatakan itu wajar. Ia berdalih, cerita dalam film tak harus sama persis dengan novelnya. Mungkin ia benar, tetapi porsi keasyikan mengunyah cerita menjadi berbeda. Di sinilah letak kelebihan buku.

Memang, tak jarang orang meyakini bahwa menonton film lebih hemat waktu. Film bisa dinikmati hanya dalam durasi dua jam, sedangkan membaca bukunya belum tentu rampung dua jam. Bagi golongan ini, menonton film lebih enak ketimbang membaca versi buku. Akan tetapi, harus disadari bahwa media elektronik sebenarnya memiliki keterbatasan yang lebih besar daripada buku.

Silakan dibayangkan kisah Laskar Pelangi versi film dan versi buku. Orang yang membaca novelnya bisa mengembangkan imajinasinya dibandingkan hanya menonton filmnya. Hal ini rasional karena dalam film imajinasi penonton hanya dibatasi seluas tayangan. Mereka tidak bisa mengembangkan imajinasi lebih dari yang ditayangkan.

Memang informasi dan pengetahuan saat ini bisa diakses dengan mudah melalui televisi dan radio. Meski demikian, hal itu tidak dapat meningkatkan pemahaman tentang lingkungan sekitarnya secara tepat, cermat, dan sesuai tujuan yang sebenarnya.

Alat komunikasi modern tersebut hanya mampu menyajikan informasi. Sementara berbagai ilmu pengetahuan yang njelimet dan detail hanya bisa disajikan dengan bacaan yang komprehensif.

Kegiatan membaca pada dasarnya merupakan suatu aktivitas yang memerlukan keterampilan tersendiri. Seseorang yang membaca harus menggerakkan mata dan pikiran. Tanpa itu, ia tak bisa membaca dengan baik.

Tak bisa dimungkiri, ada pembaca aktif dan pembaca pasif. Tetapi, semakin aktif atau sering membaca, semakin baik untuk mencapai tahap membaca cepat dan efektif. Besarnya upaya untuk sampai pada tahap mahir tersebut akan memudahkan seseorang dalam memahami suatu bacaan meski tingkatnya ruwet sekalipun. Semakin sering membaca, semakin meningkat pula kecepatan bacanya. Semakin baik pula tingkat pemahamannya. Pada level ini, keasyikan membaca buku tak akan tertandingi.

Kota Delta, 10 Juli 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 10, 2013, in Cerpen. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: