Alasan Enggan Membaca (4)


Catatan Must Prast

Membaca itu membuka ruang berpikir ke tempat ilmu pengetahuan berada. Seluas-luasnya. Jadi, wajar jika bangsa yang maju tidak terlepas dari budaya literasi  (membaca) yang maju pula. Kita tentu ingat ketika pecah Perang Dingin yang melibatkan Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Itu bukan perang yang lebih banyak mengandalkan militer dan alat tempur. Perang Dingin tercatat sebagai perang modern yang melibatkan intelektual, intelijen, dan ilmu pengetahuan. Blok Barat dan Blok Timur sama-sama getol mengembangkan ilmu pengetahuan. Hal ini tentu saja tidak bisa dilepaskan dari kuatnya akar budaya literasi mereka. Teknologi yang kian canggih dan maju adalah salah satu produk literasi yang tak terbantahkan.

Dari membaca, manusia bisa mengembangkan berbagai disiplin ilmu untuk kepentingan banyak bidang. Maka, tidak salah apabila sastrawan Budi Darma berharap agar Indonesia meniru Yunani Kuno yang memiliki budaya literasi. Siapa kini yang tidak mengenal ilmuwan seperti Archimedes dan Aristoteles? Siapa yang tak tahu filsuf terkemuka Plato dan Socrates? Mereka tetap ”hidup” karena pemikiran-pemikirannya dibaca orang hingga kini. Dibaca? Ya, karena mereka menulis.

Karena itu, Indonesia bisa mengejar ketertinggalan dari bangsa maju lain -bahkan bisa setara- apabila memiliki budaya literasi yang kuat. Dalam hal ini, membaca memegang peran vital.

Namun, tak bisa dimungkiri bahwa membaca belum menjadi menu wajib di sebagian besar masyarakat kita. Enggan membaca. Mengapa ini terjadi? Salah satunya bisa terjadi karena seseorang tak memahami kaidah bahasa. Kemampuan dalam memahami kalimat-kalimat tersebut kurang. Selain itu, kurangnya pengetahuan tentang susunan kalimat yang mengandung makna kiasan.

Penyebab lainnya adalah kesibukan dengan dunia hiburan. Misalnya, menonton TV yang banyak acaranya justru tidak edukatif seperti sinetron dan melodrama. Ada pula yang lebih suka menghabiskan waktu dengan main kartu atau main game online. Mereka merasa sayang meluangkan waktu untuk membaca dan beralasan, ”Kami tak punya waktu.”

Hambatan lainnya yang datang dari diri sendiri adalah kesibukan kerja yang begitu menumpuk sehingga tak ada waktu untuk membaca. Ini justru menunjukkan ketidakseimbangan antara hak dan kewajiban. Membaca adalah hak. Apabila seseorang tidak membaca, ia sebenarnya telah mengabaikan hak yang paling bermanfaat. Sudahkah kita memberikan hak tersebut?

Kota Delta, 9 Juli 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 9, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: