Alasan Enggan Membaca (3)


Catatan Must Prast

 

 

Bicara tentang kebiasaan membaca seolah tiada habisnya. Saya ingat betul saat merencanakan agenda kampanye literasi di PPG Unesa pada 29 Juni 2013. Acara ini disokong penuh oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) dan PPG Unesa sebagai tuan rumah. Tajuk kegiatan tersebut adalah Membangun Budaya Baca di Kelas: Kiat Menarik Minat Siswa dalam Literasi.

Tahu apa komentar dari seorang rekan guru tentang rencana itu? Dia mengatakan, tema literasi kurang seksi. Secara blak-blakan, dia bilang bahwa banyak guru yang belum ngeh dengan istilah literasi.

Betul-betul berat tugas untuk membangun kesadaran masyarakat dalam berliterasi. Saya merinding mendengar cerita Ahmad Rizali, pembina IGI, tentang adanya ribuan anak TKI di Sabah, Malaysia, yang buta huruf. Situasi ini tentu saja sangat mencekam. Mereka terancam menjadi kaum terbelakang dan bodoh karena tidak mengenal aksara. Di sinilah peran penting literasi itu. Inilah yang semestinya dibangun oleh para guru di Indonesia.

Bicara literasi tentu saja tidak terlepas dari membaca dan menulis. Namun, jangan buru-buru mengupas tuntas kegiatan menulis sebelum kita benahi terlebih dahulu aktivitas membaca. Diakui atau tidak, membaca belum menjadi sahabat bagi sebagian besar masyarakat kita. Keengganan menjamah buku bacaan yang bermanfaat masih melanda di sini.

Banyak penyebabnya. Salah satunya, mengubah gizi dengan lemak atau sibuk membaca buku-buku yang tidak berisi. Maksudnya, bagus judulnya, tapi isinya hanya daur ulang. Datar. Tidak sesuatu yang istimewa di sana karena bacaan tersebut hanya menjual judul yang bombastis.

Faktor lainnya ialah tidak adanya dorongan dari masyarakat untuk membaca. Masalah lainnya adalah akses pelajar dalam membaca buku hanya terbatas pada buku-buku wajib saja. Bahkan, ada perguruan tinggi yang hanya mensyarakatkan mahasiswa untuk membaca buku-buku wajib ketimbang membahas ilmu secara luas.

Yang ironis, masih adanya orang tua yang berpikiran sempit. Yakni, melarang anaknya membaca selain buku-buku pelajaran sekolah. Sang orang tua berpikir bahwa buku pelajaran lebih bermanfaat karena terkait dengan prestasi dan nilai ujian. Menyedihkan.

 

 

 

Kota Delta, 9 Juli 2013

 

 

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 9, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: