Alasan Enggan Membaca (2)


Catatan Must Prast

Karena kembali ke dunia akademik, mau tak mau saya harus berakrab ria dengan buku-buku tebal. Kesalahan pada masa lalu, yakni kondisi ketika saya muak bermesraan dengan buku, tak boleh terulang. Saya mesti bisa mempersiapkan diri dan menyiasati agar rasa enggan membaca itu tidak hinggap kembali.

Untuk itu, saya mencoba mengumpulkan serpihan ingatan tentang keengganan tersebut. Ada apa di balik rasa jemu itu? Mengapa ini terjadi? Beberapa faktor di antaranya mungkin pernah atau sering kita jumpai.

Misalnya, panjangnya pembahasan atau judul kajian. Jujur saja, saat membaca sebuah penelitian tindakan kelas (PTK) atau jurnal, rasanya saya ingin lari ke warteg saja. Ngopi. Bukan apa-apa, panjangan pembahasan yang dikupas di situ bikin minder. Terbayang sudah rasanya mabuk laut. Untuk itu, meski PTK atau jurnal ditulis dalam bahasa ilmiah, sejatinya si penulis bisa membuat pembahasan secara ringkas dan jelas. Tidak perlu mbulet dengan berpanjang ria.

Faktor lainnya adalah salah memulai. Saya pernah mengalami ini, yakni salah strategi dalam membaca buku. Ketika kuliah di jurusan bahasa Indonesia IKIP Surabaya (Unesa), saya diwajibkan menyantap menu-menu linguistik, mulai linguistik dasar hingga linguistik terapan. Termasuk teori linguistik dan berbagai disiplin ilmu linguistik lainnya.

Saat mengikuti mata kuliah sintaksis (ternyata di kemudian hari menjadi modal saya untuk mengais rezeki), saya salah memulai dalam memilih bacaan. Saya kebetulan meminjam buku sintaksis terjemahan milik seorang kawan. Mbuletnya bukan main. Begitu susahnya saya untuk memahami buku tersebut, ada saja rambut yang rontok saat menyisir tiap pagi sebelum berangkat kuliah.

Saya baru mafhum bahwa sebaiknya memilih buku yang mudah atau dasar terlebih dahulu. Dengan begitu, kita tidak malas membaca karena tingkat kerumitan suatu buku.

Unsur lain yang bisa membuat seseorang untuk enggan membaca adalah tak ada motivasi dari lingkungan. Kalau saja ketika itu ada teman kuliah yang memberikan semangat kepada saya untuk rajin membaca, tentulah saya bakal terpengaruh. Jika saya ingat kembali, kawan-kawan dekat saya dulu adalah pemotivasi ulung. Namun, mereka memotivasi untuk bolos kuliah pada saat jam kuliah dosen killer. Wadah.

Kota Delta, 9 Juli 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 9, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: