Di Bawah Kita Masih Banyak


Catatan Must Prast

Kadang godaan untuk hidup glamor itu menyapa. Misalnya, memiliki beberapa gadget canggih, menunggangi mobil mewah nan mahal ke mana pun pergi, dan ragam kesenangan duniawi lainnya. Godaan tersebut kian menjadi-jadi ketika melihat sejawat yang larut di dalamnya.

Bekerja di lingkungan para profesional semakin menguatkan arus itu. Terkadang saya menjadi olok-olok sebagian di antara mereka hanya karena menggunakan ponsel yang tidak branded. ”Sudah waktunya dibuang tuh,” ejek mereka. Saya tidak menggubrisnya.

Saya meyakinkan diri bahwa saya belum membutuhkannya. Yang saya perlukan dari ponsel adalah fungsinya untuk mengirim pesan pendek dan menerima telepon dari kolega, keluarga, tetangga, dan bos. Ponsel yang saya pakai sekarang saat ini LG C100 yang saya beli dalam kondisi bekas seharga Rp 250 ribu.

Memang dalam waktu dekat saya akan menggantinya. Tapi, itu semata saya lakukan karena perangkat komunikasi tersebut sering ngadat. Apalagi, telepon genggam saya yang satu ini beberapa kali jatuh.

Beberapa kali pula saya diingatkan untuk memanfaatkan mobil yang ada. Namun, saya telanjur senang pergi ke mana saja dengan bersepeda motor. Selain akomodasinya lebih murah, mobilitasnya lebih terjaga. Lagi pula, titik kemacetan di Surabaya dan Sidoarjo kian bertambah saja. Kepadatan arus lalu lintas semakin sulit diprediksi saat ini. Karena itu, memacu kendaraan roda dua adalah alasan yang rasional. Mobil hanya saya manfaatkan apabila pergi ke luar kota seperti mudik atau urusan lain.

Soal hidup sederhana, sejak menikah saya sudah memegang prinsip itu. Untung, saya memiliki istri yang mau memahami hal ini. Sejak merajut bahtera rumah tangga, saya awalnya khawatir karena ia telah terbiasa hidup enak. Keluarganya begitu terpandang, disegani, dan sangat mampu dari sisi ekonomi.

Ketika awal menikah, ia mau saja saya ajak untuk kos dulu. Sebagian uang gaji, tunjangan, dan penghasilan lain kami tabung. Setelah setahun berumah tangga, kami membeli rumah sederhana di kawasan Sidoarjo Barat.

Namun, godaan-godaan untuk bergaya hidup mewah itu selalu saja mengekor. Tetapi, prinsip harus tetap ditegakkan. Di rumah, saya menerapkan aturan khusus kepada istri saya. Bahwa tiap bulan sebagian gajinya harus disisihkan untuk infak sekecil apa pun itu. Demikian pula saya. Alhamdulillah, kehidupan kami tidak pernah kekurangan.

Soal makan, saya tidak rewel. Sesederhana apa pun menunya, apa pun masakan nyonya di rumah selalu saya santap dengan lahap. Mau tempe goreng dengan sambal kecap, ayo saja. Tidak ada daging atau ayam goreng bukan kiamat, gengsi tidak akan runtuh di rumah kami. Bahkan, sahabat saya dari IGI, Andi Yasin dan Bambang Prayitno, pernah saya ajak mengganyang menu yang amat sederhana. Untuk ukuran tamu selevel mereka, sebenarnya saya merasa tidak enak hati dengan jamuan seperti itu. Namun, ini sebenarnya sudah yang paling istimewa yang saya punya.

Kadang jeratan keinginan untuk selalu makan menu lezat ala restoran selalu hinggap. Niat dan uang ada. Namun, itu urung terwujud apabila saya selalu ingat foto seorang anak perempuan yang mengais makanan sisa. Foto ini pernah saya pakai dalam sebuah pelatihan menulis di Manulife. Miris rasanya.

Desakan perut untuk menyikat santapan mewah pun sirna seketika. Orang-orang yang berada ”di bawah” kita ternyata masih banyak. Harus ada rem. Dan rem itu adalah hidup sederhana. Bulan Ramadan merupakan momen yang tepat untuk mengkaji kembali hakikat hidup sederhana dan menerapkannya. Merasakan keprihatinan saudara-saudara kita yang belum tentu bisa makan layak sehari tiga kali. Menggedor toleransi. Menjadikan hidup lebih bermakna.

Kota Delta, 8 Juli 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 8, 2013, in Refleksi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: