Amerika dan Reformasi Kurikulum


Ia sangat menentukan mutu proses dan hasil pembelajaran serta mutu lulusan yang dihasilkan. Siapa? Betul, ia adalah kurikulum.

Untuk itu, saya menyusun kurikulum menulis yang memadai dan memudahkan para peserta didik di sekolah menulis Eureka Academia. Guna keperluan tersebut, saya mengumpulkan hampir 90 buku sumber literatur untuk mengevaluasi, memetakan, dan menyusun kurikulum di tiap tingkat.

Targetnya adalah memudahkan para siswa dalam mempelajari dan mempraktikkan pelajaran menulis. Menulis secara menyenangkan. Tentu saja harapannya mereka tidak sekadar menguasai teori menulis, tetapi juga memahami etika di dunia kepenulisan serta mampu melahirkan tulisan yang bermakna dan bermanfaat bagi lingkungan mereka.

Salah satu wujud kurikulum tersebut adalah buku Terbitkan Bukumu! (Eureka Academia, 2013) yang bakal menjadi vitamin bagi mereka di rumah, di sekolah, dan di mana saja. Artinya, kurikulum Eureka Academia harus mudah dipahami dan diaplikasikan. Bukan malah membingungkan, baik bagi pengajar maupun siswa.

Karena itu, saya merasa janggal dengan penerapan kurikulum 2013. Mengapa? Ada poin-poin yang membingungkan dalam kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD). Bisakah dijelaskan bagaimana hubungan antara disiplin, konsisten, jujur, dan logaritma? Itu dulu, Februari lalu, saat saya membaca perseteruan seru perihal rencana aplikasi kurikulum 2013. Kini mungkin sudah ada pembaruan lagi dari tim penyusunnya. Namun, saya kira, hal-hal yang masih bikin dahi berkerut tetap ada.

Kurikulum baru yang bakal diterapkan pada tahun ajaran baru 2013/2014 memang langsung menuai pro dan kontra. Pemerintah, dalam hal ini Kemendikbud, dianggap berani. Padahal, perangkat dan persiapan menjelang pelaksanaan kurikulum 2013 sangat mepet. Di sisi lain, banyak keluhan yang disuarakan oleh para tenaga pengajar yang justru menjadi ujung tombak penerapan kurikulum 2013 ini.

Pemerintah tidak boleh gegabah dan menganggap sepele masalah kurikulum ini. Sebab, sebagaimana dijelaskan di awal, kurikulum ini akan menentukan mutu proses dan hasil pembelajaran serta mutu lulusan.

Kemajuan pesat Amerika Serikat dalam berbagai bidang tidak bisa dilepaskan dari kurikulum. Ketika Uni Soviet dulu berhasil meluncurkan Sputnik ke luar angkasa, Presiden AS waktu itu, John F. Kennedy, segera mempertanyakan apa yang terjadi dalam kurikulum pendidikan nasional Amerika.

Kennedy juga bertanya soal keadaan pembelajaran di dalam kelas sehingga AS tertinggal dari Uni Soviet waktu itu. Tak pelak, hal pertama yang dilakukan adalah mengkaji kembali serta mereformasi kurikulum pendidikan nasionalnya. Hal ini juga berimbas pada perbaikan proses pembelajaran. Hasilnya? Kita tahu akhirnya AS berhasil mendaratkan Neil Armstrong dan Edwin Aldrin di permukaan bulan.

Kota Delta, 8 Juli 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 8, 2013, in Edukasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: