Literacy Clinic


Catatan Must Prast

tahu pong + sambal kecap = ditemani Aura Kasih

Ya, itulah yang akan saya usung di Stikom Surabaya: Literacy Clinic. Di sana sudah ada majalah kampus yang bernama SS News. Salah satu target saya adalah melakukan revitalisasi media tersebut. Untuk itu, saya mengumpulkan beberapa majalah kampus seperti majalah milik Unesa, Unair, ITS, UK Petra, dan lain-lain.

Saya mempelajari sedetail-detailnya, mulai perwajahan, rubrikasi, laporan khusus, hingga kolom akademisi. Untung, saya mengenal Bahruddin, Kaprodi S-1 Desain Komunikasi Visual Stikom yang pernah menjadi ”siswa” saya di Sirikit School of Writing (SSW). Saya bertukar pikiran soal rencana revitalisasi media di lingkungan Stikom.  

Saya tahu kapasitas dan kualitas tulisannya. Ia yang terbaik di angkatan kedua kelas buku populer yang saya ampu di SSW dulu. Kolom Rehat yang sering dia isi harus tetap ada dengan nuansa yang lebih segar dan tidak terlalu kaku (ilmiah). Perombakan ini jelas butuh keberanian, kemampuan membaca peluang ke depan, dan mencuri perhatian civitas academica Stikom seluas-luasnya. Saya tidak ingin stigma bahwa majalah kampus itu tidak menarik dan hanya jadi pajangan meja kerja atau teman bisu di dalam tas mahasiswa. Majalah ini harus menjadi konsumsi yang diburu dan ditunggu-tunggu. Mengapa? Sebab, saya ingin tagline Tempo ada di sana: enak dibaca dan perlu!

Untuk itu, saya siap mengumpulkan seluruh anggota tim humas dan menjalin sinergi dengan para Kaprodi Stikom. Kami harus bisa mem-back up seluruh kegiatan dan penelitian yang dilakukan para mahasiswa Stikom. Harus ada skala pemberitaan yang besar-besaran jika ada riset yang bermanfaat bagi masyarakat. Karena itu, saya ingin mengembangkan media Stikom lebih baik lagi, baik SS News maupun media online-nya.

Tentang literasi, ini telah menjadi komitmen saya di Stikom Surabaya. Saya akan meminta kolom khusus Literacy Clinic di halaman terakhir SS News. Tujuannya tentu saja membukakan wawasan dan pengetahuan tentang literasi serta kebermanfaatannya bagi masyarakat, terutama lingkungan akademisi Stikom (dosen, karyawan, dan mahasiswa).

Saya juga akan melatih skuad humas Stikom untuk mampu menulis secara baik, baik karya tulis ilmiah maupun artikel populer. Dengan begitu, kualitas tulisan nggak malu-maluin jika dilempar ke publik.

Kembali ke Literacy Clinic, isinya tidak melulu membahas buku-buku, tapi nanti juga harus ada kegiatan-kegiatan riil terkait di lapangan. Misalnya, speed reading, quantum writing (dicetuskan oleh Hernowo dari Mizan), dan the art of Library. Mengingat besarnya manfaat yang didapat, Literacy Clinic ini sangat penting bagi urat nadi Stikom. Saya tentu saja berharap agar nanti ada Klinik Literasi yang berdiri sendiri, tidak hanya ada dalam kolom bulanan.

Menurut penggiat literasi Wien Muldian, literasi bukan sekadar membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi adalah kemampuan membaca berbagai fenomena yang ada di masyarakat. Khususnya, melalui tulisan dan audio visual. Nah, inilah budaya yang mesti ditancapkan kuat-kuat di Stikom agar menjadi salah satu kampus terbaik di Indonesia.

Humas Stikom harus doyan membaca. Mesti betah bekerja sama dengan pihak perpustakaan. Cakrawala wawasan dan ilmu pengetahuan hanya bisa didapatkan dari membaca. Setelah mengondisikan tim di internal humas, baru kami akan bergerak menyusun agenda yang lebih besar lagi: Gerakan Stikom Membaca. Untuk itulah, Literacy Clinic perlu ada.

Kota Delta, 7 Juli 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 7, 2013, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: