Komikisasi Buku Serius


Bagaimana saya getol mempelajari hadis sahih Imam Al Bukhari dan Imam Muslim? Bagaimana saya menghanyutkan diri dalam historia perjalanan hidup Imam Al Ghazali? Lewat buku tebal? Tidak! Saya membacanya lewat cerita bergambar alias komik.

Jangan anggap remeh komik. Sebab, cerita bergambar ini mulai digemari banyak kalangan. Ia disukai karena memiliki dua sifat: mudah dicerna dan lucu. Klop sudah. Kita bisa membacanya tanpa harus mengerutkan dahi. Ora kudu petenthengan.

Tak heran, saya gembira ketika menjumpai hadis Imam Bukhari-Muslim diadaptasi dalam cerita bergambar oleh vbi_djenggoten (nama yang tertera di komik memang demikian). Arek Malang tersebut menelurkan dua komik sekaligus, yakni 33 Pesan Nabi jilid I dan II. Ia sendiri pernah menyabet nominasi Komik Terbaik Anugerah Pembaca Indonesia 2011. Bersama istrinya, vbi_djenggoten menerbitkan komik Married with Brondong (2010) yang langsung diganjar penghargaan novel grafis terbaik Anugerah Pembaca Indonesia pada tahun yang sama.

Dalam 33 Pesan Nabi I (Jaga Mata, Jaga Telinga, Jaga Mulut), saya tersentuh dengan salah satu kisah yang bertajuk Mencela Makanan. Sebagaimana diwasiatkan Rasulullah SAW, umat Islam dilarang mencela makanan. vbi_djenggoten mengilustrasikannya dengan sangat mengena. Yakni, seorang seniman membeli nasi goreng di sebuah depot. Karena merasa tak cocok dengan rasanya, ia mencela, bahkan melepeh di depan umum.

Dalam suatu perjalanan, si seniman melihat dua gelandangan cilik yang mengais sisa makanan dekat tong sampah. Tebersit penyesalan karena tidak mensyukuri apa yang ada. Selanjutnya, cerita berlanjut ke sebuah warung makan jalanan. Mereka makan di sana dan dibayari oleh seniman tadi. Masih banyak kisah lain tentang nilai moral, etika diri, tatanan sosial, dan lain-lain yang terangkum dalam visualisasi hadis Nabi SAW yang diriwayatkan Bukhari-Muslim ini. Membaca 33 hadis tersebut terasa begitu cepat.

Pada 33 Pesan Nabi II (Jaga Hati, Buka Pikiran), vbi_djenggoten masih tampil dengan gaya khasnya. Coretan-coretannya mengambil tokoh utama seorang pemuda saleh dengan alur cerita yang terkait satu sama lain. Ia merangkum topik sikap pantang berputus asa dari rahmat Allah, bersyukur, hingga etika bertetangga. Isu terkini pun tak lepas dari bidikannya untuk menghubungkan satu cerita dengan nasihat Rasulullah SAW. Saya melihat, inilah kelebihan komik tersebut.

Hampir sama dengan itu, bahagia rasanya bisa mendapatkan dan membaca komik grafis Karung Mutiara Al Ghazali (KPG, 1997) besutan wartawan senior Hermawan Aksan (penulis naskah) dan komikus terkemuka Jitet Koestana. Buku ini kian spesial karena diberi pengantar oleh Gus Mus (KH A. Mustofa Bisri) yang merupakan salah satu budayawan dan penyair favorit saya.

Sejak usainya era komikus legendaris seperti Jan Mintaraga, R.A. Kosasih (Ramayana dan Mahabharata), B. Margono (komik setrip Panji Asmarabangun di majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat), nama Jitet patut dikedepankan sebagai salah satu kartunis hebat. Soal prestasi, kiprahnya tak diragukan lagi. Jitet Koestana pernah menggondol penghargaan prestisius dari berbagai negara seperti Jepang, Korea Selatan, Iran, Belgia, Turki, dan Makedonia. Jumlah ini belum termasuk gelar juara di berbagai ajang domestik. Ia pula yang menginspirasi kehadiran komikus papan atas tanah air seperti Benny (Benny Rachmadi) dan Mice (Muhammad Misrad).

Tak pelak, saya berjingkrak-jingkrak girang ketika menemukan komik obral Karung Mutiara Al Ghazali (saya beli seharga Rp 5 ribu) garapan Jitet. Komik setebal 123 halaman itu hanya sak leb saja saya baca. Begitu nikmat dan terasa cepat mengikuti perjalanan hidup sufi terkenal Imam Al Ghazali dalam komik ini.

Bukan kali ini saya membaca komik grafis tokoh terkenal. Pada 2002, penerbit Remaja Rosdakarya (Bandung) pernah merilis seri Biografi Bung Karno yang dibuat oleh Sari Pusparini. Setahun sebelumnya, penerbit itu juga memublikasikan komik Gus Dur: Dari Pesantren ke Istana Negara yang disusun Yoga Ad Attarmidzi. Masih di tahun yang sama, ada komik Fisika Itu Asyik karya Prof Yohanes Surya (Bina Sumber Daya).

Melihat aspek positif dari komik ini, saya sepakat dengan Agus M. Irkham, instruktur literasi di Forum Indonesia Membaca (FIM) sekaligus senior dari Undip. Yakni, komikisasi buku serius nan berat menjadi salah satu solusi cerdas untuk dua masalah: rendahnya minat baca dan tuntutan keuntungan yang proporsional.

Mengapa komik? Sebab, ia adalah bacaan dengan bahasa yang cair, tampilan rileks, bikin tertawa, dan ringan tapi mencerdaskan. Seusai membaca komik, dijamin adrenalin tidak bakal naik. Justru jantung kita bisa bekerja optimal lantaran kebahagiaan dan tawa. Karena itu, komikisasi buku serius menjadikan motivasi sosiologis dan ekonomis bertemu dalam satu titik.

Dengan tampilan layaknya komik, pembaca dapat memanfaatkan waktu yang pendek untuk membaca buku serius. Ia juga tidak akan kehilangan substansinya. Di sisi lain, pikiran menjadi segar. Kepentingan penerbit –buku dan tanggung jawab mencerdaskan masyarakat- pun dapat dicapai semua.

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 7, 2013, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: