Sportivitas Main Layangan


Catatan Must Prast

gulai kepala ikan + es teh = lupa pegadaian

Saya menghabiskan masa kecil di Bekasi Timur, tepatnya kompleks perumahan perwira Kodim 0507 di Kelurahan Mekar Sari. Betul, rumah kami dekat dengan Rumah Sakit Mekar Sari. Waktu itu saya bersekolah di SDN Bekasi Jaya I. Lokasinya tak jauh dari SMPN 13 (sekarang SMPN 18) yang kemudian hari menjadi tempat saya ngangsu ilmu.

Sepulang sekolah, biasanya saya bermain bersama kawan-kawan. Favorit kami adalah main layangan. Saya suka naik ke atas atap rumah, tepatnya di atas dapur, kemudian menerbangkan layang-layang. Layaknya anak-anak lainnya, saya juga senang mengadu layangan. Ini merupakan salah satu permainan yang sarat gengsi saat itu.

Rasanya puas sekali jika mampu menumbangkan layangan milik lawan. Namun, apabila layang-layang yang saya mainkan putus setelah disambar lawan, semangat untuk membalas begitu membara.

Umumnya, ada dua jenis benang yang dipakai untuk bermain layang-layang. Yakni, benang senar dan benang gelasan. Yang digunakan untuk ajang adu ketangkasan permainan tersebut adalah benang gelasan.

Benang gelasan yang dijual di warung-warung kala itu tidak memuaskan. Tak heran, banyak anak yang membikin sendiri benang gelasan dari pecahan gelas dan bahan campuran lain. Cara pembuatannya harus dilakukan dengan hati-hati dan cermat. Apabila lengah sedikit saja, tangan bisa terluka atau tergores benang gelasan yang sangat tajam itu. Anak-anak sebaya kami, usia sekitar 11-12 tahun, rata-rata sudah mahir membuat benang gelasan sendiri.

Dalam permainan layangan tersebut, ada aturan tak tertulis yang begitu ditaati oleh para pelakunya. Yakni, layang-layang yang diberi buntut (kertas panjang yang ditempel di ujung bawah layangan) tidak boleh disikat. Kami menyebutnya layangan bencong. Anak laki-laki yang menerbangkan layangan bencong selalu menjadi olok-olok. Mereka dianggap cemen, nggak ada machonya.

Harga layangan pada saat itu sekitar Rp 25. Untuk mengikuti adu layangan, saya biasanya membeli empat layangan sekaligus. Saya selalu suka memilih motif merah putih polos. Entah mengapa, tapi ada kebanggaan tersendiri ketika melambungkan layangan berwarna kebesaran negara ini tersebut.

Seperti tim professional F1, saya juga punya tim. Jumlahnya tiga orang, termasuk saya sendiri. Yang satu adalah anak seorang letkol infanteri, namanya Tri. Ia tetangga saya. Kini ia mengikuti jejak ebesnya, jadi perwira AD. Tugasnya saat itu sebagai navigator yang menyiapkan benang gelasan dan mengomando layangan yang bakal dibabat. Satu lagi adalah Fajar, tetangga kami juga. Tugasnya memainkan layangan lain, namun lebih pada mengacaukan konsentrasi lawan sehingga memudahkan saya untuk menghajar layangan musuh.

Selain itu, kami menekuni ajang yang tak kalah bergengsi lainnya. Yaitu, mengejar layangan putus. Kami biasanya beradu cepat dengan anak-anak dari Kampung Mede yang merupakan pintu masuk ke kompleks kami. Layaknya sebuah medan pertempuran, kami juga memiliki perangkat khusus untuk mengejar layangan. Misalnya, galah, kayu panjang, dan tongkat pramuka.

Ibu saya kerap marah apabila mengetahui saya ikut mengejar layangan. Beliau selalu bilang itu sia-sia karena toh harga layangan cukup murah. Bisa beli tanpa harus berpanas-panas mengejar layangan yang sudah gondal-gandul tak tahu arah hidup.

Namun, bagi kami, aktivitas tersebut lebih dari sekadar gengsi. Sebab, kami mengenal dan bisa belajar sportivitas dari situ. Mengapa? Sebab, ada aturan tak tertulis yang juga dipegang teguh di kalangan kami. Yakni, benang layangan putus yang sudah disambar oleh anak lain tidak boleh dikejar lagi. Artinya, ia berhak atas layangan tersebut. Tidak boleh rebutan, kecuali jika layangan putus dan benangnya masih mengangkasa. Tidak ada keributan, tidak ada tawuran.

Sekilas sepele, namun saya dan tim selalu mengingatnya. Karena itu, saya sedih ketika melihat olahraga dicederai sikap tidak sportif. Misalnya, dalam laga kompetisi sepak bola domestik, pemain dari tim yang kalah mengejar wasit, lalu mengeroyoknya. Bahkan, ada wasit yang sampai pingsan setelah dihajar ramai-ramai oleh beberapa pemain. Agaknya, mereka perlu belajar sportivitas kembali kepada anak-anak yang bermain layang-layang. Jika mental belum siap untuk menerima kekalahan, pasang saja buntut pada layangan itu.

Kota Delta, 6 Juli 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 6, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: