Amsterdam Rasa Jombang


Catatan Must Prast

rawon + lodeh = sunat massal

Fiksi memang tak bisa dilepaskan dari permainan imajinasi sang pengarang. Namun, ada hal yang tidak kalah penting ketika menulis sebuah karya fiksi seperti novel. Yaitu, riset mendalam.

Saya merupakan penikmat bacaan novel, baik yang klasik (terbitan Balai Pustaka) maupun novel-novel best seller yang kini seperti jamur di musim hujan. Namun, akhir-akhir ini saya sering dibuat kecewa oleh beberapa novel yang mengambil latar belakang kota di negara lain. Mengapa? Sebab, ada pengarang yang menulis secara serampangan.

Misalnya, penggambaran Kota Amsterdam di Belanda yang jauh dari kondisi sebenarnya. Sebenarnya, dalam fiksi, rekaan akan suatu kondisi suatu tempat yang menjadi setting cerita merupakan hal yang lumrah. Namun, akan jauh lebih baik apabila pengarang juga melakukan riset secara baik. Tujuannya tentu saja agar pembaca mendapatkan gambaran yang mendekati sesungguhnya.

Yang menyebalkan, saya menemui cerita berlatar belakang Amsterdam yang gambarannya malah mirip Kota Jombang, Jawa Timur. Iki opo-opoan rek? Dipikirnya saya belum pernah ke Negeri Kincir Angin bekne. Kalau si penulis berpikir seperti itu, ia benar 100 persen!

Oke maaf, maksud saya, sesungguhnya penelitian dalam perencanaan menulis sebuah karya fiksi itu juga penting. Seperti diketahui, pengumpulan bahan tulisan (baik untuk buku nonfiksi maupun fiksi) merupakan tahap penting. Ini bukan bertujuan untuk menghambat, justru mempermudah sang sutradara (baca: penulis).

Pengumpulan bahan tulisan adalah tahap yang mesti dilalui. Dalam buku fiksi, pengarang bebas mengatur alur cerita, menciptakan tokoh antagonis dan protagonis, serta menentukan konflik cerita dan ending-nya. Namun, khusus untuk setting cerita, sebaiknya penulis tidak ngawur dan hanya berbekal imajinasi.

Biar dibilang nggak ketinggalan zaman dan bergengsi, ada saja pengarang yang mengambil latar belakang negara lain. Memang ia tidak mesti pernah berkunjung ke sana. Tapi, paling tidak riset perlu dilakukan. Hal ini bisa didapatkan melalui sumber buku, majalah, surat kabar, dan internet.

Sebisa-bisanya berikan visualisasi yang tepat tentang tempat yang menjadi setting cerita. Apabila mengambil latar belakang Kota Berlin, Jerman, ya berikan gambaran yang ada di sana. Misalnya, ciri khas kota tersebut, kondisi sosial masyarakat, destinasi terkenal setempat, hingga corak gedung atau bangunan lokal. Berikan penjelasan yang sedetail-detailnya, jelas, dan lugas meski dalam karya fiksi sekalipun.

Ini perlu diperhatikan agar kenikmatan membaca karya fiksi tidak terganggu oleh kecerobohan penulis dalam menggambarkan suatu setting cerita. Mosok saya pernah ngonangi (mendapati) cerita yang mengambil latar belakang Kota Amsterdam, tapi cita rasanya Jombang. Atau kondisi Kota Gaza, Palestina, yang digambarkan seperti Jogja yang baru saja terkena gempa. Semoga saja saya tidak menemukan gambaran bule ireng albino. Ampun mama!

Sidoarjo, 6 Juli 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Juli 6, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: