Keminggris Nanggung


Catatan Eko Prasetyo

kopi + tempe menjes = serasa bujang kembali

Bagi sebagian masyarakat Jawa, keminggris bisa diartikan sebagai pengucapan beberapa kosakata bahasa Inggris dalam komunikasi berbahasa Indonesia. Contohnya, seseorang yang lebih suka bercakap-cakap dengan lebih banyak memakai kosakata Inggris.

Di kalangan pelajar atau mahasiswa di Jawa Timur, misalnya, keminggris disematkan sebagai olok-olok terhadap orang yang ”sok British”. Misalnya, dalam sebuah pidato atau pertemuan formal di forum yang dihadiri masyarakat Indonesia, seseorang justru menyisipkan banyak kosakata Inggris. Padahal, padanannya dalam bahasa Indonesia sudah ada.

Bagi saya, hal tersebut sah-sah saja. Tidak ada masalah. Yang justru mbencekno adalah keminggris nanggung. Apa itu? 

Yakni, mencampuradukkan imbuhan bahasa Indonesia dan kosakata bahasa Inggris. Hal ini sering saya temui di perkantoran, sekolah-sekolah, kampus perguruan tinggi, bahkan balai RW.

Contoh keminggris nanggung yang pernah saya dengar adalah:

1.            Tolong di-direct saja ya. (Derek truk bekne! Hahaha)

2.            Mestinya kamu bisa me-manage dengan baik.

3.            Yang tidak sesuai lebih baik di-remove saja.

Ya, mungkin itu hak mereka yang ingin mengombinasikan imbuhan bahasa Indonesia dengan kosakata Inggris. Namun, menurut saya, itu nanggung banget. Justru kedengarannya nggak pas.

Seorang kawan jurnalis bilang, ”Kalau mau jaim (jaga image), mengapa nggak total dalam berbahasa Inggris saja?” Yang parah, ada yang memodifikasi kosakata Inggris. Contohnya, dimiskol (awalan di- + miss called) dan disonding (awalan di- + sounding).

Moga-moga tidak ada yang nekat memakai mengissing untuk mengganti kata mencium. Pasalnya, selain kaidahnya ngawur, kata mengissing rawan menimbulkan kerancuan dan prahara (dalam bahasa Jawa, kata ngising berarti buang hajat). Misalnya: ”Beib, bolehkah aku mengissingmu?”

Wadah, hancur dunia!

Sidoarjo, 29 Mei 2013

(duduk lesehan di stasiun sambil menengadahkan tangan)

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Mei 29, 2013, in Bahasa. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: