Reading Habit Harus Diwajibkan


Catatan Eko Prasetyo

batagor + es oyen = oase

readingPada 24 Mei lalu, Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas) mengadakan acara Publikasi Gerakan Indonesia Membaca di Hotel Danau Dariza, Garut. Narasumbernya adalah budayawan Darpan Aryawinangun dan Kepala Perpusnas Sri Sularsih.

Darpan memandang, aktivitas membaca kini kurang begitu diminati dengan adanya gempuran kemajuan teknologi. Menurut dia, sekolah seharusnya mewajibkan siswa mengunyah buku bacaan.

”Sebab, buku teks tidak cukup untuk mendorong minat baca para siswa,” tegasnya sebagaimana dikutip dari situs resmi Perpusnas. Padahal, lanjut dia, semasa pemerintahan Kolonial Belanda dulu, ada program wajib membaca buku bagi murid.

Tetapi, saat ini upaya wajib baca kerap terbentur aktivitas kegiatan belajar mengajar yang terlalu padat. Akibatnya, sekolah sulit menerapkan aturan bagi para pelajar tentang buku bacaan wajib (pnri.go.id, 24/5).

Salah satu solusinya, kreativitas guru untuk mengembangkan bahan ajar dengan memakai berbagai buku referensi dan materi yang sesuai di internet terus ditumbuhkan. Anak didik perlu lebih banyak mendapat tugas mengarang esai.

Di sisi lain, perpustakaan sekolah memiliki peran penting. Dalam diskusi tersebut, Pemkab Garut siap merevitalisasi perpustakaan sekolah di wilayahnya. Salah satunya, menciptakan lingkungan membaca untuk semua jenis bacaan kepada seluruh lapisan masyarakat.

Sementara itu, Sri Sularsih menekankan kembali UU Perpustakaan Nomor 43/2007 pasal 48. Isinya, pengaturan tentang upaya membudayakan kegemaran membaca yang bisa dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan satuan pendidikan. Dia menegaskan, orang tua perlu menstimulus minat baca kepada anak. Caranya, memberikan teladan dengan aktif membaca dan meluangkan waktu untuk membaca setiap hari (pnri.go.id, 24/5).

Poin yang perlu saya garis bawahi dalam kegiatan Publikasi Gerakan Indonesia Membaca itu ialah penanaman reading habit (kebiasaan baca). Hampir selalu mudah kita jumpai keluhan soal rendahnya budaya baca masyarakat Indonesia. Sebagian besar merasa sudah cukup dimanjakan oleh teknologi informasi sehingga membaca buku mendapat tempat nomor sekian.

Untuk itu, pembiasaan membaca hendaknya dimulai dari lingkungan keluarga. Bagaimana dengan lembaga pendidikan formal? Tanpa mencoba mengorek luka sejarah masa silam, agaknya sekolah perlu meniru langkah pemerintah Kolonial Belanda. Yakni, mewajibkan siswa membaca buku.

Di tengah ancaman jeratan kemiskinan, pendidikan menjadi kunci utama untuk mengentaskannya. Reading habit merupakan salah satu bagiannya. Dan ini bisa dimulai dari diri sendiri. Anda sudah baca buku hari ini?

Kota Udang, 28 Mei 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Mei 28, 2013, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: