Pojok Bahasa: Pak Ekonya Ada?


Catatan Eko Prasetyo

teh hangat + cakue = tensi darah normal

 

Seorang remaja laki-laki bertamu ke rumah saya sore itu. Ia terlihat membawa undangan. Saya membuka pintu sesaat setelah ia mengetuk pintu. ”Maaf, Pak Ekonya ada?” ucapnya. Saya tersenyum mendengar pertanyaan tersebut.

”Di sini nggak ada Ekonya,” goda saya. Namun, ternyata anak baru gede (ABG) itu belum ngeh. ”Ekonya tidak ada. Kalau Eko, ada,” jawab saya. Dia lantas nyengir dan menyerahkan sebuah undangan kepada saya.  

Pengalaman lain terjadi ketika seorang kolega mengajak rapat di luar kantor. ”Mas Ekonya ada waktu kan?” tuturnya. ”Nama saya Eko, bukan Ekonya,” ucap saya. ”Dasar editor!” ujarnya lantas tertawa.

Kejadian seperti itu mungkin pernah kita alami. Kerancuan terjadi pada penyebutan nama orang yang diikuti kata ”nya”. Sebagaimana diketahui, ”nya” dipakai untuk menunjukkan kata ganti orang ketiga tunggal (dia). Penggunaan ”nya” yang tepat terlihat pada contoh di bawah ini.

1.    Baginya, berbahasa Indonesia merupakan kebanggaan.

2.    Presiden memberikan penghargaan kepadanya.

3.    Kuberikan buku babon kurikulum 2013 untuknya.

 

 

Sidoarjo, 27 Mei 2013

 

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Mei 27, 2013, in Bahasa. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: