Menyederhanakan Yang Kompleks


Catatan Eko Prasetyo

coffee lover

Sebuah buku karya seorang profesor tergeletak di atas meja rapat. Saya pun tergoda untuk membacanya. Namun, dahi saya dipaksa berkenyit. Satu halaman mesti dibaca berulang-ulang supaya saya mampu menangkap pesan yang disampaikan. Benar-benar butuh kerja keras hanya untuk bisa memahami jalan pikiran sang profesor. Tidak mudah.

Pada kesempatan lain, saya melumat novel Olenka hanya dalam waktu beberapa jam. Pengarangnya adalah Budi Darma. Ia juga profesor sekaligus guru besar IKIP Surabaya (kini Unesa).

Ada suatu kenikmatan seperti menyeruput kopi tubruk dengan ditemani sepiring rondo royal ketika mengunyah karya-karya Budi Darma. Yang menarik adalah kisah proses kreatif di balik karya-karya sastra Budi Darma.

Novel Olenka setebal 183 halaman yang fenomenal itu dirampungkan dalam waktu tiga pekan saja. Bukunya yang lain berjudul Rafilus dikarang dalam tempo tiga bulan, tepatnya pada Juli sampai September 1985.

Karyanya yang tak kalah nggegirisi adalah Ny. Talis setebal 265. Proses kreatif buku ini bisa bikin geleng-geleng kepala. Ny. Talis ditulis saat Budi Darma ”singgah” di Universitas Indiana, Bloomington, pada 9 November 1990–8 Januari 1991.

Hebatnya, cerita-cerita Budi tidak hanya menarik dan wajar, tapi juga mudah dipahami dengan segala kompleksitas temanya. Budi agaknya betul-betul menekankan bahwa pesannya harus tersampaikan dengan baik kepada pembaca.

Dari dua pengalaman di atas, para penulis diharapkan bisa mengemas tema yang sulit sekalipun menjadi lebih krispi bin gurih. Tujuannya, menjangkau lebih banyak pembaca. Seorang pakar bilang, ”A good writing simplifies the complexity, not complicates the simple things.” Tulisan yang baik menyederhanakan yang kompleks, bukan mengomplekskan yang sebenarnya sederhana.

Soal ini, komentar saya satu saja: Apakah seorang penulis layak bangga jika karyanya justru sulit dimengerti pembaca? Bagaimana menurut Anda?

Desa Pekarungan, 23 Mei 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Mei 23, 2013, in Menulis. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Saya pernah membaca buku mengenai riwayat singkat dan buah pemikiran Mohandas K Gandhi, atau Mahatma Gandhi. menarik sih, tapi itu tadi…buah pemikiran/filsafat butuh dibaca berulang-ulang sampai mengerti. Dan dalam setahun ini saya masih belum selesai membacanya. Berbeda dengan kumpulan esai mengenai kajian dan serpihan sejarah musik, tema yang ditawarkan juga berat. Namun penyajian buku tersebut sangat mudah dimengerti, atau karena itu adalah bidang yang saya tekuni? Haha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: