From Orality to Literacy


Catatan Eko Prasetyo

Sekitar 4,5 juta jiwa atau 11,97 persen di antara total penduduk yang berusia 15 tahun ke atas di Jawa Timur mengalami buta aksara. Data itu diungkapkan oleh Institute of Reasearch Social, Politic, and Democracy Surabaya dan dimuat di harian Jawa Pos pada 19 Mei 2008. Apa maknanya?

Harus diakui, realitas kelompok buta huruf identik dengan kemiskinan, kebodohan, dan terbelakang. Budayawan Suparto Brata menyebut mereka juga rendah untuk berpikir maju, sulit menghadapi tantangan dan perubahan, serta sukar menerima informasi pembaruan. Termasuk partisipasi pembangunan.

Padahal, salah satu kunci untuk mendobrak segala kekurangan itu adalah pendidikan. Unsur ini tentu saja mencakup keterampilan dan kompetensi literasi. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dengan merangkul berbagai pihak terkait untuk menanggulangi problem serius ini.  

Salah satunya melalui program sarjana mengajar di daerah terluar, terdepan, dan tertinggal (SM-3T). Guru-guru muda dikirim ke berbagai sekolah pelosok dan terpencil. Termasuk mengentaskan buta aksara yang mungkin masih terjadi di beberapa dusun. Program tersebut hampir mirip dengan Indonesia Mengajar yang digagas Anies Baswedan. Intinya, memerangi kebodohan.

Buta aksara tentu masih teramat jauh untuk ditarik ke budaya literasi, yakni membaca dan menulis buku. Ini jelas tantangan yang tidak mudah dihadapi. Butuh sinergi dan kerja sama untuk menuntaskan pekerjaan besar itu.

Sebagaimana ditegaskan Profesor Ayu Sutarto dalam Mulut Bersambut (2009), tantangan masyarakat Indonesia ke depan adalah mengubah dirinya dari kungkungan tradisi kelisanan (orality) menjadi tradisi keberaksaraan (literacy). Masyarakat yang bertradisi literasi mau membaca, berpikir, serta kritis bukan hanya pada kebohongan, kekeliruan, dan kemunafikan masyarakat lain, tetapi juga kritis terhadap diri sendiri. Dengan tradisi literasi, masyarakat Indonesia bisa membedakan opini dan fakta, dunia cerita dan dunia nyata, serta kebohongan dan kebenaran.

Masalahnya, di tengah zaman yang semakin maju seperti sekarang, kita digempur dengan perangkat teknologi yang begitu memanjakan. Misalnya, televisi, telepon genggam, tablet android, dan aneka produk teknologi informasi (TI) canggih lainnya.

Celakanya, segala kecanggihan itu justru menyeret sebagian besar orang untuk terjebak pada budaya konsumtif. Tak heran jika Suparto Brata dengan nada nyinyir pernah menyindir bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa primitif yang hidup di zaman modern. Busyet!

Surabaya, 21 Mei 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Mei 21, 2013, in Literasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: