Widyawara dan Zeitgeist


Catatan Eko Prasetyo

redaktur pelaksana majalah Widyawara

Sejarah mencatat, pada 1953 muncul desas-desus soal impasse, krisis, kelesuan, atau kemandegan dalam sastra Indonesia. Isu itu dilontarkan oleh Profesor Wertheim yang melihat kegagalan revolusi Indonesia sebagai sebab dari ke-impasse-an dalam sastra Indonesia (Ajip Rosidi, 1985:12). Reaksi yang positif kemudian adalah munculnya sastrawan-sastrawan muda yang banyak mencipta sebagai counter dari pendapat miring tersebut.

Pemikiran itu menuai beragam tanggapan untuk mencari akar munculnya impasse tersebut. Misalnya, Nugroho Notosusanto. Ia menilai, isu itu hanya isapan jempol. Sebab, dokumentasi sastra H.B. Jassin justru menunjukkan bahwa sastra Indonesia sedang bergeliat. Nugroho menambahkan, suara impasse tersebut muncul karena adanya ketidakpuasan dari golongan ”old cracks”. 

Hal berbeda disampaikan oleh Sitor Situmorang. Ia justru menolak anggapan adanya krisis (penciptaan) sastra, melainkan krisis dalam menilai ukuran sastra. H.B. Jassin sebagai kritikus sastra terkemuka pada saat itu dinilai oleh Sitor sebagai penyebab adanya krisis penilaian sastra akibat ukuran penilaiannya yang tidak matang (Rosidi, 1982:12).

Gambaran sejarah di atas setidaknya menunjukkan betapa penting dan urgennya kritik sastra. Andre Hardjana (1985:23) menyatakan, ketika melaksanakan tugasnya, seorang kritikus sastra melakukan tiga peran sekaligus. Yaitu, menjalankan self discipline pribadinya sebagai jawaban terhadap karya sastra tertentu, bertindak sebagai pendidik yang berurusan dengan kesehatan dan kejiwaan masyarakat, serta bertindak sebagai hakim yang membangkitkan kesadaran dan menyalakan kesadaran suara hati nurani.

Artinya, kritik sastra diperlukan sebagai alat bantu dalam penyusunan suatu teori dan sejarah sastra. Kritik sastra harus dilakukan secara integral dengan menggunakan teori sastra sebagai pisau analisis yang akan diperlakukan terhadap suatu karya sastra agar menghasilkan interpretasi serta penilaian yang jelas, tidak kabur, realible, valid, dan matang.

Untuk menjawab kebutuhan itu sekaligus memperingati bulan sastra, majalah Widyawara dari jurusan bahasa dan sastra Indonesia (JBSI) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) hadir kembali setelah sekian lama seolah hidup segan mati tak mau. Upaya revitalisasi media ini pun dirasa urgen dan harus segera dilakukan.

Karena itu, Kajur JBSI Unesa Dr. Syamsul Sodiq mencetuskan rapat segitiga antara unsur dosen, alumni, dan mahasiswa guna kepentingan ini. Persiapan-persiapan untuk menyambut lahirnya kembali Widyawara yang legendaris itu pun mulai dilakukan secara intensif guna memberikan informasi, pengetahuan, dan wawasan seputar bahasa dan kesusastraan kepada masyarakat, khususnya yang terkait dengan profesi di bidang itu.

Tak heran jika kemudian tagline majalah ini bertajuk majalah profesi bahasa dan sastra Indonesia. Sesuai dengan visi dan misinya, tidak hanya dikonsumsi oleh para peminat bahasa dan sastra di lingkup internal Unesa, Widyawara bahkan akan merambah nasional. Termasuk, menciptakan bibit-bibit baru di bidang bahasa dan kritik sastra.

Guna menghasilkan polesan yang maksimal, JBSI Unesa menghimpun para kritikus sastra, pengamat bahasa, serta sastrawan dan budayawan untuk turut berkontribusi dalam media ini. Tujuannya, menjawab kebutuhan masyarakat akan perkembangan arus bahasa dan sastra Indonesia.

Yang lebih penting lagi, lahirnya kembali Widyawara tak lepas dari sebuah misi besar mengusung budaya literasi bahasa dan sastra di lingkungan kampus, pendidik, dan khalayak luas. Intinya, Widyawara siap menjadi bagian dari zeitgeist atau jiwa zaman. Satu tubuh yang tak bisa dilepaskan satu sama lain. Syabas!

Sidoarjo, 18 Mei 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Mei 18, 2013, in budaya. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: