30 Hari Menulis Buku (6)


Kesalahan Umum Penulis Pemula

Catatan Eko Prasetyo

Penulis buku Kekuatan Pena

Di antara buku-buku motivasi yang bak jamur pada musim hujan seperti sekarang, saya tergelitik dengan satu judul karangan Indari Mastuti dan Pritha Khalida. Yaitu, Bukan Buku Best Seller (Pena Matahari, Kotagede). Lewat ulasan yang menggelitik dan renyah, keduanya berhasil membius pembaca katrok seperti saya. Salah satunya, membongkar rahasia kesuksesan menulis dan menjadikan karyanya diterima pasar secara luas (best seller).

Salah satu bab yang diulas tuntas adalah kesalahan umum penulis pemula. Apa saja? Pertama, buku kurang ”bergizi”. Maksudnya tema yang dikupas dalam sebuah buku kurang menarik. Celakanya bila sebuah buku ditulis secara asal-asalan dan berprinsip yang penting kejar setoran. Akibatnya, pembaca tidak memperoleh manfaat apa-apa. Untuk itu, seorang pengarang perlu memosisikan dirinya sebagai pembaca sebelum menulis.  

Kedua, tulisan klise. Kebanyakan hal ini terdapat pada karya-karya fiksi. Contohnya, kalimat klise seperti ”Sinar mentari terasa membakar” atau ”Sang surya mulai menampakkan senyumnya”. Yang patut dicatat, paragraf awal (lead) mesti bisa diciptakan secara menarik. Tujuannya, menggoda pembaca untuk melanjutkan bacaan ke paragraf berikutnya.

Ketiga, terlalu banyak singkatan dan bahasa gaul. Saya pernah mendapati buku remaja dan buku humor yang ditulis secara serampangan. Yang memprihatinkan, masih banyak singkatan dan akronim yang belum dibenahi. Terkesan asal-asalan. Sangat mengecewakan. Apalagi, tidak semua istilah gaul dan akronim itu saya pahami.

Keempat, meremehkan ejaan dan salah ketik. Tidak bisa dimungkiri, kebahasaan merupakan salah satu unsur penting dalam menulis buku. Hal ini mencakup ejaan, logika bahasa, hingga efisiensi dan efektivitas dalam sebuah kalimat dan paragraf. Bayangkan, betapa tidak enaknya ketika asyik membaca, lalu menemui kesalahan eja yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Kelima, khusus untuk karya fiksi, jangan terlalu banyak faktor kebetulan. Hindari banyak unsur kebetulan dalam sebuah cerita hanya untuk tujuan agar cerita tampak nyata. Lebih baik buatlah riset, observasi, atau wawancara mendalam untuk mendukung cerita fiksi yang akan ditulis.

Keenam, karya pertama dianggap masterpiece. Maksudnya, penulis tak boleh lekas puas diri. Ia harus mampu menjaga ritme produktivitasnya dalam berkarya. Jangan berhenti pada karya pertama, lalu kemudian terlena dan tidak menelurkan karya lagi.

Ketujuh, naskah hasil jiplakan. Seorang penulis mesti membaca Undang-Undang Hak Cipta. Tujuannya, memahami poin-poin dan aturan main dalam berkarya. Apabila ada kutipan yang diambil dari pendapat orang lain atau media tertentu, sumbernya harus dicantumkan. Jangan lantas gunting salin (copy paste) secara membabi buta hanya agar diakui oleh orang lain bahwa itu adalah karyanya. Hal ini malah bisa menjatuhkan kredibilitasnya di mata publik dan penerbit.

Kedelapan, antikritik. Ini adalah penyakit yang berbahaya. Sebab, apabila tidak suka dikritik, seorang penulis bakal tidak tahu seberapa jauh mutu dan manfaat dari bukunya. Kritik justru sangat dibutuhkan oleh penulis tanpa memandang level dan latar belakangnya. Masukan-masukan dari pembaca bakal menjadi amunisi yang amat penting bagi pembenahan ke depan.

Itu tadi sekelumit kesalahan-kesalahan yang kerap dibikin oleh penulis pemula. So, jika sudah tahu kode etik dan aturan mainnya, mari kita mulai menulis. Let’s rock…!

Sidoarjo, 16 Mei 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Mei 17, 2013, in Literasi, Menulis. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: