Mengajar Menulis di Manulife


Catatan Eko Prasetyo

Tak terasa kelas menulis di Manulife sudah lima kali berjalan. Kelas ini terselenggara berkat kerja sama dengan Eureka Academia. Bersama novelis Ria Fariana, saya didapuk untuk mengisi kelas tersebut. Sesuai jadwal, sesi tersebut direncanakan berlangsung enam kali. Artinya, tinggal satu kali lagi tatap muka.

Banyak pengalaman unik dan menyenangkan yang saya peroleh selama belajar bersama rekan-rekan profesional dari Manulife. Rata-rata adalah agen asuransi.

Di antara puluhan peserta, ada satu wajah yang familier bagi saya. Yakni, Santi Anjanarko. Tak salah, ia memang senior saya sesama alumnus Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Materi yang kami berikan adalah feature. Targetnya, mereka memahami jenis, teknik penulisan, penokohan, senjata menulis, serta mampu mengaplikasikannya untuk kepentingan sebagai praktisi di bidang asuransi.

Untuk tahap awal, saya mengajak mereka membuat artikel refleksi. Sebagai media komunikasi, salah satu komandan Eureka Academia, Andi Yasin, membuatkan mailing list (milis) Eureka-Manulife. Beberapa peserta mulai menggunggah tulisan. Di antaranya, Merry Tanhart, sales director Manulife Financial. Ada pula Santi, dr Roethmia Anggakusuma, Ima Wiedarini, Yani, Mimtahatun Nafidah, serta Tetty.

Dalam dua kali kesempatan tatap muka, saya ikut mengoreksi hasil tulisan mereka. Hasilnya, gagasan baik, namun masih minim pengembangan tulisan dan kurang fokus terhadap tema yang dikupas. Selain itu, beberapa tulisan terjebak pada pengulangan-pengulangan kata sehingga paragraf menjadi monoton.

Di antara mereka, mungkin Mimien (sapaan akrab Mimtahatun Nafidah) dan dr Mia (panggilan Roethmia Anggakusuma) adalah peserta yang kualitas tulisannya menonjol. Dengan gaya naratif nan simpel, tulisan mereka renyah dibaca. Crispy.

Namun, ada yang unik dalam kelas menulis ini. Pada pertemuan keempat dan kelima, jumlah peserta semakin menyusut. Terutama setelah libur hampir dua pekan karena beberapa peserta pelesir ke London, Inggris.

Menuru Santi, hal itu disebabkan sebagian rekan-rekannya merasa minder. ”Kurang pede (percaya diri, Red). Kami takut tulisannya jelek,” ujarnya.

Sebuah kekhawatiran yang wajar. Sebab, menulis memang tidak mudah. Keterampilan ini harus dilatih terus-menerus dan diperkuat dengan modal melahap banyak bacaan.

Mustahil bisa menulis dengan baik kalau tidak pernah membuat tulisan. Sangat sukar melahirkan artikel yang bagus apabila jarang melatih diri menulis.

Jika hasilnya belum memuaskan, ini sangat wajar. Kalau sering menulis dan banyak membaca, kualitas tulisan pun bakal semakin baik. Termasuk penguasaan kosakata (diksi) yang menjadi salah satu amunisi dalam menulis.

Tidak ada kata tidak bisa. Kesulitan harus dihadapi dan ditaklukkan, bukan dihindari. Menulis memang bukan perkara mudah. Apalagi jika tak pernah membiasakannya.

Kemauan dan niat saja tidak cukup. Harus ada tindakan nyata. Toh, Santi berhasil membuktikannya. Saya berharap untuk yang lain juga. Kalau komitmen dan kompak berlatih dengan sama-sama rajin membuat posting di milis tersebut, mahir membuat tulisan dengan berbagai genre hanya soal waktu. Bukan tidak mungkin di antara mereka bakal lagir penulis buku. Saya yakin!

Kota Pahlawan, 12 Mei 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Mei 13, 2013, in Catatan Harian, Menulis. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: