30 Hari Menulis Buku (1)


Dua Jangan

Catatan Eko Prasetyo

penulis buku Kekuatan Pena

jangan

Sumber gambar: ayahsafa.blogspot.com

Siapa pun bisa menulis buku terlepas dari apa pun kualitasnya. Faktanya, banyak orang yang tergiur menulis buku dengan dua alasan utama. Misalnya, popularitas (personal branding) dan pendapatan (financial). Sungguh, tak bisa ditampik, dua hal ini memang menjadi daya tarik untuk menulis buku.

Akan tetapi, yang perlu diingat, semangat saja tidak cukup untuk mampu mengembangkan sebuah gagasan menjadi satu naskah utuh (buku). Jamak diketahui, tidak sedikit pengarang –terutama pemula- yang begitu menggebu-gebu menulis naskah buku di awal, namun kemudian macet di tengah-tengah proses penulisan. Alhasil, karya tulis tersebut menjadi mangkrak.

Untuk itu, diperlukan persiapan secara matang, baik mental maupun fisik. Sebab, menulis buku bakal menguras tenaga, pikiran, dan waktu. Maka, ada baiknya seorang penulis melakukan berbagai persiapan sebelum menulis. Salah satu yang patut untuk kita cermati adalah nasihat dari Jonru, salah seorang penulis buku.

Dalam karyanya yang berjudul Menerbitkan Buku Itu Gampang (Tiga Serangkai, 2008), ia memberikan pesan tentang dua kata ”jangan” bagi para penulis. Pertama, jangan sekali-sekali menulis buku karena tren. Mengapa?

Jonru bercerita tentang pengalamannya soal ini. Ketika buku-buku remaja Islami membanjiri rak-rak di banyak toko buku pada awal 2000-an, tidak sedikit penulis yang tergoda untuk menulis buku bertema serupa. Ia pun disarankan seorang kawannya untuk menulis novel Islami.

Tetapi, Jonru menggelengkan kepala. ”Saya punya dua alasan untuk menolak saran itu. Pertama, saya merasa belum layak menulis novel Islami karena saya sendiri belum Islami. Kedua, saya khawatir jika trauma masa lalu terulang lagi. Saya sudah semangat menulis novel Islami, lalu setelah selesai dan saya tawarkan ke penerbit, penerbit menolak dengan alasan seperti itu sudah tidak tren,” tegas Jonru (hal. 14).

Jonru tidak keliru. Sebab, menulis buku memang melelahkan. Dibutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk merampungkan satu naskah. Bisa saja satu buku diselesaikan dalam kurun dua bulan, tiga bulan, enam bulan, bahkan bertahun-tahun. Hal ini bergantung pada lamanya riset yang dilakukan (apabila memang ada penelitian untuk pengumpulan data). Beda halnya jika seseorang bisa menyelesaikan satu naskah buku setebal ratusan halaman hanya dalam tempo dua atau tiga hari. Tapi, ini bisa dibilang hil yang mustahal kecuali copy paste.

Pesan lainnya yang diungkapkan Jonru adalah jangan menulis karena tergiur royalti. ”Jika Anda menerbitkan buku hanya dengan tujuan untuk mendapatkan royalti, lebih baik Anda berhenti menulis buku,” ungkapnya (hal. 15). Penegasan ini tidak main-main.

Pasalnya, di antara 100 penulis buku, mungkin hanya tiga atau lima yang beruntung bisa meraup pundi-pundi uang dari hasil royaltinya. Contohnya, Andrea Hirata dan Habiburrahman El Shirazy yang royaltinya disebut-sebut mencapai miliaran rupiah.

Dua pesan ini tidaklah berlebihan. Memang tidak ada salahnya jika kita mencoba menulis buku dengan mengikuti tren dan melakukannya demi tujuan royalti. Tetapi, siap-siap kecewa ya!

Sidoarjo, 10 Mei 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Mei 10, 2013, in Menulis. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: