Rekreasi Karya Sastra Pendidik


Oleh Eko Prasetyo*)

cover depanJudul buku: Adam Panjalu

Penulis: Faradina Izdhihary Dkk

Penerbit: Pustaka Nurul Haqqy

Cetakan: I, 2013

Tebal: 218 halaman

ISBN: 978-602-97838-4-1

Berguna dan menyenangkan, demikian kata Horatius tentang sastra. Bicara sastra berarti tidak lepas dari unsur-unsur keindahan. Aspek ini merupakan salah satu bagian dari kebutuhan manusia, yaitu hiburan.

Kendati demikian, karya sastra memiliki sederet peran penting. Tidak melulu menghibur, karya sastra juga menjadi identitas suatu bangsa. Ia ibaratnya membawa dokumentasi dan arsip-arsip penting seputar perjalanan budaya bangsa.

Salah satu ciri khas karya sastra adalah kemampuan mengaduk-aduk emosi pembaca lewat penuturan atau pengalaman yang dikemas dalam cerita. Maka, diksi-diksi indah, misterius, atau tidak umum justru menjadi menu yang sulit untuk dilewatkan begitu saja. Hal ini tentu saja memperkaya pengetahuan intelektual lewat ide cerita yang dibungkus dalam suatu karya sastra.

Sayangnya, di tengah kemajuan dan kemudahan akses teknologi informasi, sastra belum bisa dikatakan mendapat tempat di hati masyarakat. Terutama kalangan pelajar. Jamak diketahui, banyak siswa terutama di kota-kota besar yang lebih mengenal nama boyband dan girlband ketimbang siapa itu Sutan Tadir Alisjahbana, Armijn Pane, atau Suparto Brata.

Tak heran, bacaan sastra di tingkat sekolah belum dapat disebut menggembirakan. Hal ini salah satunya bisa diketahui dari statistik peminjaman buku sastra yang ada di perpustakaan sekolah. Minim! Maka, membumikan kembali sastra di lingkungan sekolah mesti dilakukan.  

Trisula Konsep Pengajaran Sastra

Di Metode Karya Sastra Mutakhir (2003), Bani Sudardi menegaskan bahwa dalam proses pengajaran sastra, hendaknya dapat diterapkan tiga konsep sebagai ujung tombak. Trisula tersebut adalah apresiasi, rekreasi, dan re-kreasi. Nah, konsep yang paling menarik di antara ketiganya adalah rekreasi karya sastra.

Rekreasi dalam konteks ini adalah menemukan hal-hal baru ketika membaca karya sastra. Penemuan tersebut ternyata sering tidak bersifat alamiah, melainkan perlu suatu usaha yang serius sampai seorang pembaca betul-betul merasakan kenikmatan dalam mengapresiasi sastra. Salah satu bentuk rekreasi ini adalah membaca karya sastra.

Membumikan Sastra di Kelas

Konsep-konsep utama pengajaran sastra tersebut tampaknya berupaya diwadahi dalam buku antologi cerpen Adam Panjalu ini. Buku ini kebetulan ditulis oleh para tenaga pendidik dan aktivis pendidikan dari berbagai daerah di Indonesia.

Karena merupakan kumpulan banyak gagasan, pemikiran, dan pengalaman dari para penulisnya, Adam Panjalu pun penuh warna. Aroma sastra dari cerpen-cerpen yang termaktub dalam buku ini pun berasa gado-gado. Kendati demikian, sensasi sastranya tidak kalah dengan ketika membaca buku sejenis yang dilahirkan oleh tangan-tangan sastrawan ternama Indonesia.

Membaca Adam Panjalu menjadi istimewa karena pesan-pesan yang tertuang di dalamnya tak jauh dari kehidupan sehari-hari. Terutama yang melibatkan elemen sekolah seperti guru dan siswa.

Cerpen berjudul Saya Tak Mau Durhaka Sama Mama karya Exma Wahyuni, misalnya. Di situ digambarkan seorang siswa yang datang terlambat ikut ujian di sekolahnya di kawasan Mau Ramba, Sumba Timur, NTT. Telatnya bukan hitungan menit, melainkan lebih dari satu jam. Tak pelak sang guru cemas bukan main.

Ia khawatir kepala sekolah bakal murka jika mengetahui hal tersebut. Akhirnya, setelah satu setengah jam, si murid tiba dengan kaki telanjang. Sebuah hal yang jamak terjadi di sekolah-sekolah pedalaman di Sumba Timur.

Guru itu kemudian menanyakan alasan keterlambatan siswa. Apa jawabnya? Ia mengaku disuruh mamanya menjaga lima adiknya di rumah. Saat itu sang mama sedang pergi ke kebun bersama papanya. Si anak sudah bilang ada ujian hari itu, namun tetap diminta menjaga adik-adiknya. Ia tak berani menyanggah karena takut durhaka kepada sang mama (hal. 182).

Dalam cerpen lainnya berjudul Ketika Sofiah Mogok Sekolah  yang ditulis Faradina Izdhihary, ada potret yang begitu lekat dengan keseharian. Yakni, cerita seorang pelajar yang diterima di SMP negeri. Bapaknya cuma tukang angkut sampah. Uang pendaftaran sebesar Rp 600 ribu bukan jumlah yang kecil bagi orang tua murid tersebut. Apalagi, pendapatannya per bulan hanya Rp 500 ribu.

Alhasil, ia sempat dihukum karena tidak pakai seragam sekolah lantaran orang tuanya pontang-panting cari duit buat beli seragam sang anak. Kisah ini pun tercium media dan diekspos besar-besaran. Gantian pihak sekolah yang kelimpungan menepis pemberitaan tersebut.

Masih ada 22 cerpen lainnya yang merupakan cerpen pilihan hasil audisi menulis cerpen yang diselenggarakan Ikatan Guru Indonesia (IGI) ini. Kendati disusun oleh para tenaga pendidik, aroma sastra dalam buku ini begitu kental.

Kelebihannya, cerpen-cerpen yang dihadirkan dikemas dalam bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca muda, namun tetap memikat. Hal ini bisa dipahami. Sebab, sasaran pembacanya memang kalangan pendidik dan siswa. Karena itu, sudah tentu bisa dicium bahwa tujuan penulisan buku ini adalah membumikan kembali karya sastra di kelas.

Setidaknya Adam Panjalu adalah suatu langkah dari para pendidik yang patut diapresiasi. Yang tak kalah penting, unsur keindahan dan menghibur tetap tersaji. Pembaca benar-benar diajak berekreasi sastra di dalamnya. Sebuah rekreasi edukasi yang tidak biasa. Keren!

(*) Pencinta buku, penggiat literasi di Ikatan Guru Indonesia

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Mei 2, 2013, in Resensi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: