Nasihat dalam Cerita Aji Saka


Catatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Aji_Saka

Ilustrasi: indonesianfolklore.blogspot.com

Bagaimana memasukkan unsur politik dalam sebuah cerita? Tampaknya, ide ini berkelebat begitu saja setelah saya membaca sebuah berita di koran tentang wakil rakyat di DPRD Surabaya.

Siang itu saya dikerumuni siswa-siswa sebuah SD yang merajuk dan meminta saya bercerita. Hanya kebetulan sedang gemes dengan sikap anggota dewan yang tidak berpihak pada rakyat (kasus Ketua DPRD Surabaya Wishnu Wardhana), saya lantas mendongeng tentang Aji Saka.

Cerita ini sangat terkait dengan awal mula penanggalan tahun Jawa atau yang dikenal dengan tahun Saka. ”Ada yang pernah mendengar sebelumnya dongeng Aji Saka?” Sebagian anak menggelengkan kepala. ”Tau, tapi udah lupa,” ucap Habib, bocah 11 tahun, sambil meringis.

Saya tidak membawa buku cerita Aji Saka, hanya menuturkan apa yang saya ingat saat itu tentang kisah terkenal ini. Saya kemudian meminta anak-anak tersebut diam. Suasana pun seketika senyap.

”Dahulu di Pulau Jawa ada seorang kesatria muda yang memiliki ilmu bela diri yang hebat. Ia amat ditakuti oleh para penjahat yang berniat berbuat onar,” saya memulai cerita.

”Namanya Aji Saka. Ia punya dua pembantu yang sangat setia. Mereka adalah Sembada dan Dora,” lanjut saya.

”Bisa silat enggak, Pak?” tanya seorang murid perempuan.

”Bisa. Mereka mahir bela diri juga.”

”Mereka pakai baju apa enggak?”

Mendengar pertanyaan itu, saya lantas nyengir lebar. Namun, saya dapat memahaminya. Sebab, mungkin saja si anak berimajinasi bahwa orang zaman dahulu tidak pakai baju. Khususnya, penduduk prianya. Saya menjawab bahwa mereka juga pakai baju, tapi tentu saja tidak semodern pakaian yang ada sekarang.

”Suatu ketika Aji Saka bertemu seorang warga yang tampak ketakutan. Ia berasal dari wilayah Medang Kemulan. Yaitu, kerajaan yang dipimpin oleh raja yang kejam. Namanya Prabu Dewatacengkar.”

”Sang raja doyan memakan manusia dan meminum darah korbannya. Setiap hari ia meminta para prajuritnya untuk mencari satu warga buat santapannya.”

”Wuaaah,” anak-anak mulai serius dan penasaran. Bergidik.

Penduduk yang ditemui Aji Saka tadi bercerita bahwa masyarakat Medang Kemulan mulai menyusut. Sebab, satu per satu warganya disantap oleh Prabu Dewatacengkar.

”Aji Saka pun berniat membantu penduduk Medang Kemulan dari sang raja yang lalim. Sebelum berangkat ke sana, Aji Saka menitipkan pusakanya kepada Sembada. Aji Saka berpesan agar Sembada tidak memberikan pusaka itu kepada siapa pun selain dirinya,” ucap saya melanjutkan kisah.

Kemudian, berangkatlah Aji Saka dengan ditemani Dora. Sesampai di Medang Kemulan, Aji Saka dicegat oleh para prajurit Prabu Dewatacengkar. Namun, Aji Saka meyakinkan mereka bahwa dia hendak menyerahkan diri kepada sang raja.

Saat menghadap si raja raksasa itu, Aji Saka mengutarakan keinginan untuk menjadi santapan Prabu Dewatacengkar. Tentu saja raja bengis tersebut sangat senang. Apalagi, korbannya kali ini justru datang sendiri, masih muda, dan dagingnya pasti amat lezat, pikirnya.

”Namun, ada satu syarat, Baginda,” tutur Aji Saka.

”Apa itu? Katakan saja!” ucap Prabu Dewatacengkar mulai tak sabar.

”Aku meminta sebidang tanah seukuran ikat kepalaku ini,” tegas Aji Saka. Prabu Dewatacengkar tertawa keras. Merasa permintaan itu sangat mudah ia penuhi.

”Baiklah anak muda,” jawab sang raja.

Kemudian, ikat kepala Aji Saka tersebut mulai ditarik oleh Prabu Dewatacengkar. Tak disangka, ukurannya sangat panjang. Tanpa disadari, Prabu Dewatacengkar sudah sampai di ujung sebuah tebing yang di dalamnya terdapat jurang yang dalam. Namun, ia terus menariknya dan akhirnya nyemplung ke jurang.

”Sejak saat itu rakyat Medang Kemulan terbebas dari ancaman raja yang kejam, yakni Prabu Dewatacengkar. Mereka hidup makmur,” pungkas saya. Anak-anak mendengarkan dengan tabik.

”Aji Saka pun didaulat sebagai raja baru di Medang Kemulan. Suatu hari ia memerintahkan Dora untuk mengambil pusakanya yang dititipkan ke Sembada,” lanjut saya.

Setiba di sana, Dora mengutarakan maksudnya untuk mengambil pusaka itu. ”Saudaraku Sembada, aku disuruh Gusti Prabu Aji Saka untuk membawa pusaka yang dititipkan padamu,” tutur Dora.

Namun, Sembada merasa enggan. Ia teringat pesan Aji Saka dahulu, yakni tidak boleh ada orang yang mengambil pusaka itu kecuali sang pemiliknya sendiri. Merasa sama-sama benar, kedua lantas terlibat perkelahian. Dua-duanya akhirnya gugur.

Setelah Dora tidak kunjung kembali ke kerajaan, Aji Saka mulai khawatir. Ia kemudian pergi menyusul Dora. Di lokasi, Aji Saka menemukan dua pembantu setianya yang sudah terbujur kaku menjadi mayat.

”Kemudian Aji Saka menulis sebuah kalimat seperti sajak untuk menghormati dua pengikutnya itu,” tutur saya. Kalimat tersebut berbunyi:

Hana caraka

Data sawala

Padha jayanya

Maga bathanga

Artinya:

Ada dua hamba

Sama-sama setia

Dua-duanya sakti

Sama-sama gugur

Saya menutup kisah Aji Saka itu dengan pesan bahwa seorang pemimpin tidak boleh melupakan janji dan perintahnya sendiri. Atau rakyat yang bakal menjadi korban. Anak-anak terlihat belum puas. Saya berjanji kepada mereka untuk kembali dengan cerita-cerita rakyat lainnya yang tak kalah memikat.

Tak lupa, saya mempersilakan mereka untuk datang ke rumah dan meminjam buku cerita Aji Saka itu. Mereka pun berebutan. Ingin jadi pembaca pertama.

Sidoarjo, 2 Mei 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Mei 2, 2013, in Edukasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: