Kiai Literasi


Catatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

”Mas, dicari satpam tuh..!” ucap seorang kawan sore itu di kantor. Saya terkesiap. Awalnya, saya berpikir bahwa pasti ada tamu. Namun, dugaan itu keliru. Bukan tamu yang datang, tapi buku. Alhamdulillah.

Pengirimnya adalah sahabat saya asal Sumenep, Gus Mush. Putra Madura kelahiran 1979 yang bernama lengkap Muhammad Mushthafa tersebut mengirimkan paket yang berisi empat buku. Salah satunya berjudul Sekolah dalam Himpitan Google dan Bimbel terbitan LKiS Jogjakarta.  

Saya baru sekali mampir ke sekolah yang dipimpinnya, SMA 3 Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, pada akhir November 2012. Namun, kesannya sangat luar biasa. Budaya literasi di sana sangat menonjol. Hal ini sebenarnya tak terlalu mengherankan. Pasalnya, Gus Mush merupakan salah satu penggiat aktivitas baca tulis sekaligus kutu buku.

Koleksi buku di perpustakaan pribadinya mencengangkan, setidaknya bagi wong ndesit seperti saya. Ribuan! Meskipun tergolong ulama muda terpandang di daerah setempat, Gus Mush sangat terbuka pada pengembangan ilmu pengetahuan.

Ia banyak membaca buku-buku asing, mulai sastra, sosiologi, hingga sejarah. Begitu kaya bacaannya, sampai-sampai ia dijuluki kamus berjalan.

Ia merampungkan pendidikan S-1 di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM). Setelah lulus, ia sempat bekerja di Penerbit Serambi Jakarta. Setelah itu ia memutuskan pindah kerja ke Penerbit Bentang Pustaka di Kota Gudeg.

Selama menetap di Jogja, Gus Mush menyalurkan hobinya menulis. Tulisan opini, budaya, dan resensinya kemudian mewarnai berbagai media massa nasional. Di antaranya, Jawa Pos, Kompas, Koran Tempo, dan Media Indonesia.

Sejak 2006, ia memutuskan kembali ke tempat kelahirannya di Sumenep. Menjadi guru dan membangun semangat baru: literasi.

Namun, itu tak berlangsung lama. Sebab, pada 2009 ia mendapat beasiswa Uni Eropa untuk program Magister Jurusan Etika Terapan di Utrecht University, Utrecht, Belanda. Ia juga mengenyam pendidikan lanjutan di Norwegian University of Science and Technology (NTNU), Trondheim, Norwegia.

Kendati sibuk menempuh pendidikan masternya, spirit literasi belum luntur. Ia menuangkan pengalamannya selama kuliah di Eropa tersebut lewat tulisan-tulisan yang ringan, namun memikat.

Hasilnya, ketika dolan ke Sumenep, saya diberi oleh-oleh spesial. Yakni, buku 10 Bulan Pengalaman Eropa. Begitu besar perhatiannya pada dunia pendidikan, ketika menyabet gelar master, ia langsung mudik ke Madura, menjadi guru di SMA 3 Annuqayah, dan menyebarkan benih literasi di sana.

Kebetulan kami sama-sama aktif di forum Ikatan Guru Indonesia (IGI). Suatu saat dalam sebuah diskusi, Gus Mush berjanji mengumpulkan esai-esainya tentang pendidikan dan membukukannya.

Rabu sore (24/4) janji itu dibuktikannya dan saya terima langsung. Lewat buku Sekolah dalam Himpitan Google dan Bimbel. Buku ini berisi tiga gagasan utama. Yakni, visi dan landasan pendidikan, literasi dan tantangan era reformasi, serta pendidikan lingkungan. Beberapa tulisan di antaranya pernah dimuat di beberapa surat kabar. Sebagian lainnya merupakan tulisan ringan Gus Mush di blog pribadinya.

Bagi saya, Gus Mush bukan sekadar sahabat, tapi juga kamus tempat ngangsu banyak hal yang saya ingin tahu. Tak heran, ketika istri saya bertanya tentang tempat studi banding terbaik, saya menjawab singkat: SMA 3 Annuqayah di Guluk-Guluk.

Sebab, di sana ada pejuang dan kiai literasi dengan segala keberhasilannya menanamkan budaya literasi. Yakni, Gus Mush. Jawaban yang sama tentu saja akan saya berikan kepada siapa pun yang ingin belajar tentang literasi.

Surabaya, 25 April 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on April 24, 2013, in Sosok. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: