Ong; Sang Guru dan Secangkir Kopi


Catatan Eko Prasetyo

penggiat literasi di Ikatan Guru Indonesia

Saya sudah lama dijanjikan Dhitta Puti Sarasvati, direktur riset dan pengembangan program Ikatan Guru Indonesia (IGI), untuk diberi buku heroik karya Andi Achdian ini. Judulnya Sang Guru dan Secangkir Kopi. Buku ini mengupas sisi lain dan pandangan-pandangan Onghokham, sejarawan besar empat zaman dari Universitas Indonesia.

Puti bilang, buku ini masuk jenis must read. Karena yang merekomendasi adalah pencinta buku bermutu, saya langsung berburu. Sayangnya, pada medio 2012 saat itu buku ini belum hadir di Surabaya.

Akhirnya, baru Kamis lalu (18/4/2013) saya mendapat kiriman buku tersebut dari Puti. Gilaaaaaaaaaaaaaa….. Saya harus berucap terima kasih kepada Puti. Pasalnya. buku edisi revisi ini (edisi pertama bersampul merah, sedangkan yang kedua berkover hijau lembut) diberi tanda tangan langsung dari Andi Achdian, sang penulis yang juga lulusan FSUI.

Puti juga meminta saya untuk membedah buku ini di Surabaya pada Mei mendatang. Andi sudah tahu soal ini. Andi malah ingin ada kegiatan silent reading selama 15 menit untuk para guru peserta bedah buku tersebut. Tanpa ba-bi-bu, saya langsung menyanggupi.

***

Ong punya nama besar di bidang sejarah. Ia lahir pada 1 Mei 1933 di Kota Surabaya. Berasal dari keluarga menengah, Ong mulai menggemari sejarah sejak remaja. Saat belia, ia sudah menguasai pengetahuan tentang revolusi Prancis (1789–1792). Ia menulis banyak catatan kritis tentang kolonialisme, peradaban Jawa, dan sindiran terhadap Orde Baru.

Ia piawai dalam menjelaskan mitos, figur, skandal, dan hal-hal menarik dalam keseharian terhadap pengaruh Jawa. Ada beragam kesenangan yang tak bisa dilepaskan dari Ong. Yakni, sejarah, sastra, seni, membaca, menulis, makanan, minuman, pergaulan antarbangsa, dan travelling.

Saya mungkin layak ge-er karena ternyata memiliki kebiasaan yang sama dengan sang legenda, Ong. Yakni, selalu ditemani secangkir kopi saat menulis.

Namun, tidak banyak anak muda generasi sekarang yang tahu atau pernah mendengar namanya dan kebesarannya. Hal ini bisa dipahami. Sebagaimana pernah dikatakan Andi Achdian, Ong memang agak ”terpinggirkan” karena dua hal. Pertama, seksualitas Ong yang dikenal sebagai gay (penyuka sesama lelaki). Kedua, ia seorang keturunan Tionghoa.

Saya pernah membaca ulasan tentang Ong yang tajam dari Goenawan Mohammad (GM) di majalah Tempo sekitar 2007. Yang menarik, GM merupakan anak didik Ong saat kali pertama kuliah di UI pada 1962.

Sebagaimana disebutkan GM, Ong tak bisa dilepaskan dari keeksentrikan. Ia akrab dengan hedonisme. Seperti dituturkan Andi dalam buku ini, hal itu dibuktikan dengan kesukaan Ong terhadap ikan bandeng, keju, dan cokelat.

Di sisi lain, Ong punya kebiasaan yang tidak umum: minum sampai mabuk. Minuman kesukaannya adalah Scotch. Ketika terdera stroke pada 2001, kegemarannya minum mau tak mau harus ditanggalkan.

Baginya, seorang sejarawan yang baik adalah pemabuk, namun pemabuk belum tentu sejarawan yang baik. Sisi lain dari seorang Ong adalah kemahirannya memasak. Soal ini, GM pernah memuji Ong setinggi langit. Yakni, bagi Ong, tukang masak dan sejarawan tidak berbeda. Pasalnya, dua profesi ini membutuhkan keahlian mengolah detail, meracik dengan metode yang tepat, lalu menutupnya dengan sentuhan personal.

***

Baru di awal, bab pembukanya sudah bikin penasaran: Sang Guru dan Secangkir Kopi di Atas Meja. Pada edisi revisi ini, Andi menguraikan bab baru yang berjudul Para Oedipus. Dua bab penutupnya pun tak kalah memikat, yaitu Persoalan Tionghoa di Indonesia dan 1965.

Sejak menggenggamnya, buku ini langsung membuat saya tergila-gila. Bukan hanya karena saya kolektor buku sejarah dan menyukai tema-tema sejarah, lebih dari itu Andi sukses memberi sajian yang lezat. Pengalamannya bersama Ong diceritakan dengan gaya penyampaian yang memikat.

Dua-duanya adalah orang hebat. Ong diceritakan sebagai seorang pendongeng yang ulung. Sejarah di tangannya menjadi mudah dicerna karena disampaikan dengan gaya naratif. Tidak seperti kebanyakan yang disuguhkan di buku-buku sejarah: kaku.

Yang menarik, kelebihan tersebut juga tersaji pada buku setebal 183 ini. Andi menuliskan semua pengalamannya dan pemikiran-pemikiran intelektual Ong dengan gaya bercerita yang tidak membosankan. Dua jam melahap buku ini membuat saya tidak puas.

Rasanya waktu berlalu begitu cepat, tahu-tahu sudah selesai membaca. Saya menilai beginilah seharusnya buku sejarah ditulis. Memikat, menarik, dan tidak kaku. Pada akhirnya, saya tidak bisa tidak harus sepakat dengan sahabat saya, Dhitta Puti, tentang buku ini: must read!

Surabaya, 19 April 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on April 19, 2013, in Literasi, Sejarah, Sosok. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: