Vurguisd en Vergeten


Catatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Tan Malaka (Sumber: maliqmaliq.wordpress.com)

Tan Malaka (Sumber: maliqmaliq.wordpress.com)

Sebagai bangsa Indonesia, kita pantas malu. Mengapa? Sebab, tokoh-tokoh besar negeri ini justru tidak mendapat perhatian dari sisi budaya oleh kita sendiri. Contohnya adalah Tan Malaka.

Perjalanan hidup, sejarah, dan karya-karyanya malah diabadikan dengan baik oleh orang asing. Adalah sejarawan asal Belanda Harry Albert Poeze yang menuliskan perjuangan Tan Malaka. Tidak main-main, fakta perjalanan hidup Tan Malaka ditulis setebal sekitar 2.200 halaman. Judulnya: Vurguisd en Vergeten, Tan Malaka de Linkse Beweging en de Indonesische Revolutie (Dihujat dan Dilupakan, Tan Malaka dalam Pergerakan Kebangsaan Kiri dan Revolusi Indonesia).

Tan Malaka disebutkan sebagai orang pertama yang mencetuskan wacana bahwa bangsa Indonesia bercita-cita membangun negara merdeka dengan sifat republik. Hal itu dibuktikan dari buku Naar de Republiek Indonesia yang ditulis Tan Malaka pada 1925. 

Pada zaman tersebut, belum ada tokoh pergerakan yang memikirkannya. Bahkan, istilah ”Indonesia tumpah darahku” belum masuk ke batin pemimpin bangsa ini. Wage Rudolf Supratman konon memasukkan istilah tersebut ke lirik lagu Indonesia Raya pada 1928 karena terinspirasi dari buku Naar de Republiek Indonesia.

Tan Malaka adalah tokoh Indonesia yang produktif menulis. Di antaranya, Parlemen atau Soviet (1920), Si Semarang dan Onderwijs (1921), Naar de Republiek Indonesia (1925), Massa Actie (1926), Manifesto Bangkok (1927), Asia Bergabung (1928), Madilog (1943), Dari penjara ke Penjara (1944), Muslihat (1945), dan Thesis (1946). Pada 1948, ia menelurkan beberapa buku. Yakni, Islam dalam Tinjauan Madilog (1948), Pandangan Hidup (1948), Kuhandel di Kaliurang (1948), dan Gerpolek (1948).

Selama 51 tahun hidupnya, Tan Malaka telah menjelajahi sekitar sebelas negara. Di antaranya, Belanda, Inggris, Rusia, Thailand, dan Filipina. Ia juga dikenal mahir beberapa bahasa asing.

Dalam perjalanannya ke berbagai belahan dunia itu, ia sebenarnya berada dalam kondisi sakit-sakitan dan diawasi para agen interpol. Sepak terjangnya dilakukan demi satu tujuan: Indonesia merdeka!

Buku yang ditulis sejarawan Belanda Harry A. Poeze yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. (sumber: catatanheneska.wordpress.com)

Buku yang ditulis sejarawan Belanda Harry A. Poeze yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. (sumber: catatanheneska.wordpress.com)

Dalam sebuah pengakuannya, Bung Karno pernah mengakui mengagumi sosok Tan Malaka. Tak heran, pada 1960-an, Tan Malaka dianugerahi gelar pahlawan. Pada zaman Orde Baru, nama Tan Malaka seolah tidak diakui, namun gelar pahlawannya tidak dicabut. Hal ini tidak terdapat dalam buku-buku pelajaran sejarah di sekolah.

Selama perjuangan kemerdekaan, Tan Malaka bergerilya keliling daerah di Banten, Jakarta, Purwokerto, Jogjakarta, dan Surabaya. Ia akhirnya dibunuh oleh pasukan TNI dalam pelariannya di Kediri, Jawa Timur, pada 21 Februari 1949 karena berhaluan kiri (Tan Malaka adalah pendiri Partai Murba). Uniknya, banyak gagasan besar dan pemikiran kritis Tan Malaka yang diadopsi pada pemimpin bangsa ini. Salah satunya, Ir Soekarno atau Bung Karno.

Terbitnya Vurguisd en Vergeten, Tan Malaka de Linkse Beweging en de Indonesische Revolutie pantas membuat kita malu. Sebab, gagasan serta sepak terjang pejuang perintis kemerdekaan Indonesia itu tidak dipelajari oleh kita sendiri. Justru bangsa Belanda yang mempelajari dan memanfaatkan ilmunya. Sebab, semua sepak terjang, gagasan, dan perilakunya ditulis dengan runtut serta lengkap dalam bahasa Belanda. Menyedihkan.

Menurut Suparto Brata (2011), tidak terlalu istimewa dan mengherankan jika Harry A. Poeze bisa menulis buku tentang Tan Malaka setebal 2.200 halaman. Pasalnya, bangsa Belanda sejak lama sudah berbudaya membaca dan menulis buku.

Ini membuktikan bahwa kita memang sangat tertinggal dalam hal literasi. Sebab, bagaimana mungkin pemikir dan perintis cinta tanah air tidak mendapat tempat di hati orang Indonesia? Justru ia dipelajari dan dihormati oleh bangsa lain yang pernah menjajah negeri ini selama kurang lebih 350 tahun. Ironis!

Sidoarjo, 29 Maret 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Maret 29, 2013, in Sejarah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: