Menangis yang Tidak Perlu


Catatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Menangis identik dengan kesedihan. Namun, ada pula seseorang yang menitikkan air mata kebahagiaan. Biasanya, hal ini dipicu oleh rasa haru.

Terkait dengan kesedihan, ada seseorang yang berurai air mata lantaran ditinggal wafat oleh orang terdekat atau tercinta. Ada pula yang menangis karena tertimpa musibah seperti bencana alam ataupun kebakaran.

Hingga kini, saya sudah lupa berapa kali menangis dalam hidup ini. Yang jelas, saya pernah mewek bombai saat dikhitan. Sulit rasanya membayangkan jarum suntik bakal menyemburkan bius di landasan tempur dan penting dalam hidup ini.  

Yang ada di benak waktu itu adalah suntikan sapi. Entah mengapa tiba-tiba terlintas suntikan lembu yang dalam imajinasi saya bisa bikin anak lelaki yang hendak sunat bakal pingsan. Alhasil, saya berteriak sejadi-jadinya ketika dokter di RS Mekar Sari, Bekasi Timur, saat itu hendak menyuntik dermaga penting milik saya. Setelah ”operasi kecil” tersebut rampung, rasanya legaaa sekali. Seolah telah melepas beban yang begitu berat.

Lainnya, saya pernah tak sengaja menitikkan air mata saat melihat seorang gelandangan sedang salat di pinggir Jalan Raya Darmo, Surabaya, pada sekitar 2008. Awal tahun ini saya kembali meneteskan air mata tatkala mendapat cerita seorang sahabat yang baru tiba dari Balikpapan. Selama berada di sana, ia bertemu dengan seorang pria tunanetra.

Lelaki buta ini ternyata menyimpan mutiara dalam dirinya. Ia diketahui seorang imam di masjid setempat. Hebatnya, ia mampu menirukan bacaan Alquran para imam besar dari Masjidil Haram di Makkah dan Masjid An Nabawi di Madinah. Suaranya pun sangat merdu. Dari mana ia belajar? Rupanya, sang imam tunanetra tersebut gemar mendengarkan bacaan para imam besar tadi lewat MP3. Subhanallah.

Terkait dengan menangis, Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan umatnya untuk menangis mengingat dosa. Hal ini dinilai lebih baik ketimbang banyak tertawa. Energi dari menangis karena ingat dosa diharapkan bisa mendorong seseorang untuk selalu mawas dan berbuat baik. Termasuk, instrospeksi diri.

Sayangnya, masih banyak orang yang menangisi sesuatu yang sebenarnya tak perlu ditangisi. Misalnya, menitikkan air mata karena kehilangan harta atau kekayaan ataupun menangis lantaran dilorotnya jabatan. Tak heran, ada ”kalimat bijak” yang menyebut bahwa apabila seseorang menangis karena hartanya ludes, kehilangan jabatan, atau karena orang yang pergi meninggalkannya, sekaranglah waktunya menangisi rusaknya hati.

Wallahu’alam bishshawab.

Sidoarjo, 28 Maret 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Maret 29, 2013, in Refleksi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: