Insiden Maret 1983


Catatan Must Past

Klub Baca Buku IGI

MoerdaniNama lengkapnya Luhut Binsar Pandjaitan. Ia menyabet bintang adhi makayasa sebagai lulusan terbaik Akabri 1970. Pada Maret 1983, Luhut yang berpangkat mayor baru pulang dari Jerman bersama Kapten Prabowo Subianto. Keduanya baru saja mengikuti Grenzschutzsgruppe 9 (GSG-9), suatu satuan antiteror Polisi Federal Perbatasan (Bundesgrenzschutz) di Jerman Barat.

Pendidikan itu mereka tempuh selama 22 minggu. Selama 13 pekan pertama, mata pendidikan meliputi tugas-tugas kepolisian, masalah hukum, kemampuan menggunakan berbagai jenis senjata, dan seni bela diri karate. Dari pendidikan GSG-9, perwira siswa yang tidak lulus mencapai 80 persen. 

Sepulang dari Jerman, Luhut mengusulkan perlunya pembentukan kesatuan antiteror di tubuh Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha, kini Kopassus) kepada Letjen TNI L.B. Moerdani. Pada saat itu, Jenderal M. Jusuf menjabat Menhankam/Pangab, sedangkan Benny (sapaan L.B. Moerdani) menduduki jabatan sebagai asisten intelijen hankam/kepala Pusat Intelijen Strategis/asisten intelijen Kopkamtib.

Usul Luhut disetujui. Ia jadi komandan, sedangkan Prabowo sebagai wakil komandan. Benny menyuruh Luhut untuk menanyakan kepada Jenderal M. Jusuf tentang nama detasemen antiteror di Kopassandha.

Ketika Jusuf meninjau markas Kopassandha di Cijantung, Luhut dan Prabowo mengajukan usul nama Detasemen 81/Antiteror. Alasannya, detasemen antiteror didirikan pada akhir 1981.

”Itu sudah betul. Saya setuju nama Detasemen 81/Antiteror. Angka 81 jumlahnya 9. Pesawat Hercules yang selalu saya gunakan punya call sign A-1314. Jumlah angkanya juga 9. Angka paling bagus itu,” jawab Menhankam/Pangab Jenderal TNI M. Jusuf. Selanjutnya, Luhut dan Prabowo dikirim belajar ke Special Air Force (SAS) AD Kerajaan Inggris di Hereford dan Special Boat Squadron (SBS) Marinir AL Kerajaan Inggris di Poole, Dorset.

Dalam Den 81/Antiteror, ada empat tim. Di antaranya, tim siaga untuk menghadapi terorisme, tim latihan, dan tim antigerilya. Terhadap ketiganya dilakukan rotasi. Satu tim lainnya adalah pasukan katak untuk tugas underwater untuk demolisi. Tim pasukan katak Den 81/Antiteror dikirim secara khusus ke Surabaya untuk ikut pendidikan di Komando Pasukan Katak TNI-AL (Kopaska). ”Itulah inti pasukan pilihan di antara pasukan pilihan di Kopassus waktu itu,” papar Luhut.

Den 81/Antiteror memang merupakan satuan yang dikehendaki Benny Moerdani dalam menghadapi teroris. Hubungan detasemen yang berisi pasukan terbaik tersebut dengan pihak intelijen Hankam sangat baik dan dekat. Satuan elite itu selalu mendapat pasokan informasi intelijen dari staf intelijen Hankam. Bahkan, radio Asintel Hankam berada di Den 81/Antiteror. 

Kudeta Benny?

Pada Maret 1983, Mayor Luhut  ngantor seperti biasa. Saat itu menjelang Sidang Umum MPR. Sang komandan kemudian dikejutkan oleh  anak buahnya yang mengatakan bahwa pasukan Den 81/Antiteror sedang siaga tempur. Luhut bingung.

Ternyata, perintah siaga itu berasal dari wakilnya, Kapten Prabowo Subianto. Luhut lantas bertanya ke Kasi 2/Operasi dan para komandan tim Detasemen 81/Antiteror. Jawabannya, atas perintah Kapten Prabowo, mereka berencana untuk ”mengambil” Letjen L.B. Moerdani, Letjen Soedharmono, Letjen Moerdiono, dan Marsdya Ginandjar Kartasasmita.

Luhut tidak mengerti dari mana datangnya inspirasi Prabowo untuk menculik Benny dan beberapa perwira tinggi lainnya tersebut.

“Saya nggak ngerti soal ini. Kok aneh. Ada soal begini, saya sebagai komandan kok nggak tahu,” ujar Luhut (Sintong Pandjaitan, 2009).

Dia akhirnya memerintahkan pasukannya untuk kembali siaga ke dalam markas. Malam itu ia tidur di kantor. Seluruh senjata  dan radio anggota dikumpulkan di dalam kamar kerjanya. Semua anak buahnya patuh terhadap perintah sang komandan.

Mayor Luhut lantas memanggil Prabowo. Namun, Luhut justru ditarik keluar kantor oleh Prabowo.

”Ada apa, Wo?” tanya Luhut.

”Bahaya, Bang. Seluruh ruangan kita sudah disadap,” kata Prabowo

”Pak Benny mau melakukan kudeta,” ucap Prabowo memberikan informasi rahasia.

”Kudeta apa?” tanya Luhut lagi.

”Pak Benny sudah memasukkan senjata…” terang Prabowo.

”Senjata untuk apa?” tanya Luhut.

”Ada Bang. Senjata dari anu mau dibawa ke sini untuk persiapa kudeta,” jawab Prabowo.

***

Menurut Luhut dalam buku Sintong Panjaitan Perjalanan Prajurit Para Komando, memang benar bahwa Letjen L.B. Moerdani memasukkan senjata. Tetapi, senjata itu merupakan dagangan untuk Pakistan yang selanjutnya disalurkan ke para pejuang Mujahiddin Afganistan untuk melawan Uni Soviet. Di antaranya senapan serbu AK-47 dan bedil laras panjang SKS dari Israel, serta senjata antitank buatan Prancis yang dibeli di Taiwan.

Operasi intelijen yang dilakukan Benny dilakukan untuk upaya mencari dana dan memberi peran Indonesia dalam perjuangan di Asia. “Jadi, Pak Benny memainkan peran itu. But, it has nothing to do with coup d’etat,” tegas Luhut (Sintong Panjaitan, hal. 454).

***

”Wo, yang mau melakukan kudeta itu siapa?” tanya Luhut.

“Bang, radio kita sudah disadap Pak Benny,” jawab Prabowo.

“Wo, setiap kita datang ke Dara (nama sandi Pusat Komunikasi Informasi Asintel Hankam), tidak terlihat adanya kegiatan apa pun yang mencurigakan,” tegas Luhut.

Wajah Prabowo menjadi muram. Hari itu Luhut tidak pernah melupakan ucapan Prabowo. ”Bang, nasib negara ini ditentukan oleh seorang kapten dan seorang mayor,” kata Prabowo bangga. Maksudnya, Kapten Prabowo menjadi pemeran utama, sedangkan Mayor Luhut Pandjaitan sebagai pendukung.

Dalam peristiwa Maret 1983, Kapten Prabowo menuding Letjen L.B. Moerdani hendak melakukan kudeta. Karena itu, Prabowo berencana melakukan counter-coup dengan menculik beberapa perwira tinggi tadi.

Sejak menjadi menantu Presiden Soeharto, Prabowo disebutkan sudah mulai berubah. Tidak lagi idealis. Hal ini justru membuat hubungannya dengan beberapa perwira seperti Luhut Pandjaitan, Sintong Panjaitan, ataupun Brigjen TNI Jasmin menjadi retak.

Baik Sintong (kelak menjadi komandan Kopassandha yang melakukan reorganisasi menjadi Kopassus pada 1985), Jasmin (saat itu wakil komandan Kopassandha), maupun Luhut tidak yakin bahwa Benny akan melakukan kudeta.

Isu ini berdampak menjadi luas, terutama pada karir militer Luhut. Ia adalah perwira cemerlang pada masanya. Namun, sejak itu ia tak pernah mencapai jabatan Pangdam (panglima kodam), bahkan Kasdam (kepala staf kodam) pun tidak. Padahal, ketika menjadi Danrem di Madiun, ia menorehkan prestasi sebagai komandan korem terbaik di Indonesia.

Pada akhirnya, tuduhan Prabowo  terhadap Benny Moerdani tidak pernah terbukti. Namun, selanjutnya bisa ditebak. Karir Benny ”habis. Sampai-sampai ada istilah de-Benny-sasi (Debennysasi) untuk menyebut sikap tidak loyal kepada Presiden Soeharto.

Sidoarjo, 29 Maret 2013

Bacaan Must:

1.    Jenderal M. Jusuf Panglima Para Prajurit (Atmaji Sumarkijo, Kata Hasta Pustaka, 2006)

2.    Sintong Pandjaitan, Perjalanan Prajurit Para Komando (Hendro Subroto, Penerbit Kompas, 2009)

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Maret 29, 2013, in Sejarah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: