”Kekerasan” terhadap Penulis


Catatan Must Prast

menulis demi sesuap nasi

Sumber ilustrasi: orangjujurhebat.blogspot.com

Sumber ilustrasi: orangjujurhebat.blogspot.com

Siapa bilang bullying itu hanya ada di dunia pendidikan. Di dunia kepenulisan hal serupa juga ada. Bahkan, mungkin jumlahnya tidak sedikit. Seperti apa?

Sahabat saya, AR, adalah penulis buku motivasi terkenal. Beberapa bukunya mencetak penjualan yang bagus (best seller). Awalnya, semua berjalan lancar sesuai perjanjian, termasuk masalah royalti. Namun, menginjak tahun berikutnya, ada yang mulai tidak beres. Pembayaran royalti mulai macet. Ada saja alasan yang dikemukakan pihak penerbit. Akhirnya, Fn kapok dan tidak mau lagi mengirimkan naskahnya ke penerbit besar tersebut. 

Kawan saya lainnya, BI, mungkin lebih ngenes. Naskah bukunya dibeli putus, tapi harga yang ditawarkan tidak manusiawi. Hanya Rp 1 juta! Duit sejuta untuk sebuah kerja keras berbulan-bulan? Ini sudah sangat keterlaluan. Namun, toh akhirnya dia menerima saja. Tetapi, dia muak dan tak mau lagi berurusan dengan penerbit tersebut.

Yang paling gres tentu saja pengalaman saya sendiri. Saya sering menulis artikel opini di koran. Kebanyakan di surat kabar tingkat lokal di beberapa daerah. Honornya rata-rata Rp 100 ribu sekali muat. Namun, ada yang honornya baru saya terima dua bulan setelah pemuatan, itu pun saya terus mempertanyakan ke redaksi media yang bersangkutan. Paling apes adalah saat honor itu tidak pernah terbayarkan atau ditransfer ke rekening saya.

Sebenarnya, bukan soal honor menulis tersebut yang saya permasalahkan. Toh, duit cepek ceng itu tidak cukup untuk menutup kebutuhan bagi orang yang menggantungkan hidup dari menulis seperti saya. Namun, ada tanggung jawab yang saya emban di sana. Yakni, saya berpikir bahwa mungkin saja banyak penulis yang mengalami hal serupa. Bisa jadi mereka diam saja karena pasrah atau takut tulisannya tidak dimuat lagi jika ”rewel”.

Pernah suatu ketika saya berurusan dengan sebuah penerbit. Pertama, naskah saya diterima dan dinyatakan layak terbit. Dalam surat perjanjian kerja sama (SPK), ada klausul yang menyatakan bahwa proses terbit buku saya maksimal lima bulan dari penandatanganan SPK. Nyatanya, itu molor sampai sekitar satu tahun. Bukankah ini sudah merupakan pelanggaran?

Namun, hal tersebut tidak saya permasalahkan. Kemudian, setelah terbit, muncul masalah baru. Satu tahun lebih royalti saya belum terbayar. Padahal, dalam klausul kerja sama, disebutkan bahwa saya menerima hak sebagai penulis (royalti) per enam bulan sekali. Saya tidak bisa menoleransi lagi problem ini.

Ketika saya desak, editornya selalu berkelit. E-mail dari saya tidak terbalas. Pesan singkat yang saya kirim juga tak direspons. Saya lantas mengancam akan menuliskannya di surat pembaca di surat kabar nasional. Barulah kemudian mereka kelabakan dan minta maaf. Royalti pun akhirnya bisa saya terima meski dengan upaya yang sebenarnya tidak saya inginkan, yaitu mengancam.

Saya yakin, di luar sana masih banyak penulis yang dicurangi penerbit. Seharusnya, mereka tidak boleh pasrah. Harus melawan! Di Indonesia, penulis bisa dibilang memiliki posisi yang agak lemah. Hal ini menjadi celah bagi penerbit-penerbit nakal. Nama besar penerbit belum tentu menjamin kredibilitas mereka.

Padahal, penerbit tidak akan bisa menjalankan bisnis tanpa penulis. Karena itu, dibutuhkan kejujuran dan sikap profesional antara kedua pihak. Keduanya harus tahu hak dan kewajiban masing-masing. Yang tak kalah penting, menjalankan tanggung jawab sesuai hak dan kewajiban itu.

Sidoarjo, 22 Maret 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Maret 22, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: