dr Laila


Catatan Must Prast

pengajar di Sirikit School of Writing

Tak terasa sudah empat angkatan kelas buku populer yang saya ampu ini berjalan di Sirikit School of Writing (SSW). Tiap pertemuan berlangsung segar dan gembira. Jalannya materi selalu diselingi diskusi dan berbagi tentang naskah yang tengah dipersiapkan masing-masing peserta.

Rata-rata peserta sekolah menulis yang berpusat di Surabaya ini adalah tenaga profesional, PNS, dosen, guru, hingga ibu rumah tangga.

Nah, yang sosok satu ini termasuk angkatan ketiga. Pada awal masuk, ia mengaku seorang ibu rumah tangga. Namanya Laila. Usianya sekitar 40 tahunan.

Perempuan berjilbab ini mengaku tertarik dengan dunia parenting dan pendidikan anak. Tak heran, ibu dua anak tersebut berencana menyusun naskah buku populer tentang pendidikan anak.

Ternyata, Laila adalah seorang dokter. Namun, perhatian dan passion-nya cenderung lebih besar di dunia pendidikan anak. Oya, di angkatan ketiga ini juga ada Jimmy Sudirgo, seorang manajer di sebuah perusahaan agrobisnis, dan Hary, pegawai asuransi. Yang lainnya, ada pula Askhabul Mukminin, motivator yang juga anggota Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) cabang Jawa Timur (Jatim).

Pada pertemuan materi ketiga Sabtu lalu (9/3), kami membahas seputar organisasi atau struktur buku populer. Masing-masing siap mengumpulkan tugas membuat outline. Sebelum materi, kami membahasnya bersama-sama. Diskusi ini bertujuan untuk saling memberi masukan agar naskah yang disusun nanti lebih baik.

Saya sering menerapkan pola pengajaran sesuai dengan metode Mbak Randi Stone, sarjana jebolan Boston University, Amerika Serikat. Salah satu bukunya yang terkenal adalah Best Practices for Teaching Writing.

Dokter Laila semula telah mempersiapkan naskah yang diberi judul Edukasi untuk Anak di Kawasan Lokalisasi. Ternyata, bu dokter ini berdinas sekaligus tinggal di kawasan Lokalisasi Tambakasri, Surabaya.

Hari-harinya banyak dicurhati warga setempat. Termasuk, pekerja seks komersial (PKS) dan mantan PSK. Laila juga aktif di salah satu ormas Islam di sana yang ikut berusaha mengentaskan PSK dari lokalisasi.

Sebagaimana diketahui, pengalaman akan menjadi modal terbaik untuk menulis buku populer. Lebih humanis. Apalagi jika ditulis dengan gaya features yang menarik.

Alhasil, terjadilah diskusi ”hebat” antara kami sore itu. Saya berpendapat bahwa outline empat bab yang dibiking dr Laila belum menarik. Bab pertamanya berisi pendahuluan dan pengertian lokalisasi. Bab kedua menelisik lebih jauh tentang penyakit seksual menular. Bab ketiga dan keempat mengupas seputar edukasi anak di kawasan lokalisasi.

Jimmy sependapat dengan saya. Ia sedari tadi mendengarkan dengan tabik paparan dr Laila tentang rencana pengembangan bab demi bab yang ditulisnya. Tak tahan, pria berkacamata itu langsung menodongkan masukan.

”Pengalaman Bu Dokter ini menarik. Kenapa tidak menuliskan pengalamannya saja (sebagai dokter pendamping warga di lokalisasi) ketimbang menulis paparan umum yang mungkin sudah banyak ditulis di buku-buku serupa?” seru Jimmy.

Hary tak mau kalah dalam memberikan masukannya untuk Laila. Pria yang tinggal di kawasan Kedurus, Surabaya, itu bilang, sebaiknya Laila membuat tulisan bertutur seperti gaya Dahlan Iskan. ”Mirip diari lah…” ujarnya.

Pak As –sapaan Askhabul Mukminin– mengutarakan hal senada dan diiringi penjelasan untuk memperkuat pendapat Hary.

 Alhasil, dari diskusi tersebut, ada beberapa usul judul untuk naskah yang bakal dieksekusi oleh dr Laila. Salah satunya, Catatan Cinta Seorang Dokter dan Edukasi Anak di Kawasan Merah.

Laila jelas bakal merombak seluruh outline (kerangka naskah) yang sudah ditulisnya. Mimik wajah dan matanya menunjukkan kata sepakat dengan masukan dari rekan-rekannya. Yakni, menulis features-features berdasar pengalamannya menangani warga di Lokalisasi Tambakasri.

Salah satu yang tak dapat ia lupakan adalah beberapa remaja yang mengaku sakit nyeri di (maaf) selangkangan mereka. Ini tentu saja mengundang keprihatinannya tentang penyebaran penyakit seksual menular. Apalagi, menurut dia, transaksi seks bebas bisa dilakukan oleh pelajar sekalipun. Bukankah pengalaman ini sangat menarik untuk dibukukan? Dokter Laila tidak menampiknya.

Graha Pena, 13 Maret 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Maret 12, 2013, in Catatan Harian, Menulis. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: