Tien yang Setia


Catatan Must Prast

punya kenangan indah di IKIP Surabaya

Meski janda, kecantikannya tetap terpancar indah dan mampu membuat hati Bung Karno tercuri. (Sumber: mooctavia.com)

Meski janda, kecantikannya tetap terpancar indah dan mampu membuat hati Bung Karno tercuri. (Sumber: mooctavia.com)

Salatiga termasuk kota kecil di Jawa Tengah. Meski demikian, kota ini pernah menyimpan kenangan indah bagi Tien. Ia tinggal tak jauh dari kediaman wali kota Salatiga. Hanya sekitar 100 meter.

Tak heran, ia kemudian dimintai tolong oleh sang wali kota untuk membantu memasak. Pasalnya, hari itu pada tahun 1952 akan ada hajatan besar. Yakni, menyambut kedatangan seorang kepala negara.

Bukan sembarangan, tokoh ini dikenal sebagai orator kelas wahid pada zamannya. Di Jakarta, 24 September 1949, ia pernah membius lautan manusia dengan pidatonya yang berapi-api. Berikut salah satu petikannya.

Diam… Diam…  Saudara-Saudara sekalian. Alhamdulilah saya ucapkan di kehadirat Allah Subhanahuwata’ala. Ini hari aku telah menginjak lagi bumi Jakarta sesudah hampir empat tahun lamanya saya tidak berbuat (terdengar suara rakyat yang gegap-gempita).”

Empat kali tiga ratus enam puluh lima hari saya berpisah dengan rakyat Jakarta laksana rasanya seperti berpisah 40 tahun, Saudara-Saudara. Kepada pegawai, kepada saudara-saudara yang lain, saudara-saudaraku tukang becak, saudara-saudaraku tukang sayur, saudara-saudaraku pegawai yang sekecil-kecilnya, tidak ada satu yang terkecuali semuanya saudara-saudara, sampaikan salamku kepada saudara-saudaraku sekalian.” (Soekarno, 24 September 1949).

***

 Tien, begitu perempuan cantik ini biasa disapa. Ia mewarisi gambaran wanita-wanita Jawa yang santun. Posturnya sedang. Bila tersenyum, keelokan parasnya kian berlipat-lipat.

Hari itu ia berada di dapur umum. Tugasnya memasak sayur lodeh. Tien memang dikenal sebagai andalan dalam menu ini. Lodeh bikinannya diakui tiada dua.

 Terbukti, ketika Soekarno, sang presiden, selesai melahap lodeh tersebut, ia meminta wali kota Salatiga memanggil si pemasak sayur yang berbahan utama tewel (nangka muda) itu. ”Saya mau berterima kasih atas masakah yang luar biasa enak ini,” ucap Bung Karno.

Di dapur terjadi kehebohan. Beberapa perempuan lantas mendorong Tien untuk menemui dan mengakui masakannya tersebut. Dag-dig-dug, ia menghadap Bung Karno. Tangannya dijabat erat. Hangat.

”Di mana rumahnya? Suami?” Bung Karno terpana agak lama melihat perempuan pemilik wajah rupawan itu. Tien akhirnya mengaku bahwa dirinya telah menjanda. Anaknya sudah lima orang meski usianya kala itu baru 28 tahun. ”Anaknya sudah lima, tapi masih cantik begini?” Soekarno membuang pandangan lebih lama yang membuat Tien kian tersipu dan salah tingkah.

Sejak itu Bung Karno mengaku langsung jatuh hati. Setelah pulang ke Jakarta dari Salatiga, ia mengatakan tidak sanggup untuk berlama-lama menahan rindu pada anak perempuan Osan Murawi, pegawai kehutanan, dan Mbok Mairah tersebut.

”Tuhan telah mempertemukan kita, Tien. Aku mencintaimu. Ini takdir,” tulis Bung Karno dalam salah satu surat cintanya kepada Hartini. Tien adalah sebutan kesayangan Bung Karno untuk perempuan berkulit kuning langsat dan berambut hitam lurus sepinggang itu.

Tak tahan lagi menahan gelora asmara, Bung Karno mengutarakan niat untuk melamar Tien. Sempat berkali-kali lamaran itu disampaikan, akhirnya Tien menerima dengan segala pertimbangan dan risikonya. Ia meminta Bung Karno untuk tidak menceraikan Fatmawati, the first lady.

Pada pagi yang indah di Istana Cipanas, 7 Juli 1953, keduanya akhirnya mengikat janji suci. Mengikrarkan diri sebagai sepasang suami istri. Bung Karno berjanji menjadikan Tien sebagai pelabuhan terakhir.

Tien benar-benar menunjukkan darma bakti sebagai istri yang setia meski Bung Karno melanggar janjinya dengan menikahi beberapa perempuan lain (Ratna Sari Dewi, Haryatie, Yurike Sanger). Terbukti, hingga detik-detik malaikat maut menjemput Sang Putra Fajar pada 21 Juni 1970, Tien tetap berada di sisi sang suami tercinta.

Sejumput cinta yang tulus abadi itu terlukis dalam pengakuan Tien. “Saya cinta pada orangnya, pada Bung Karno-nya, bukan pada presidennya. Saya akan perlihatkan kepada masyarakat bahwa saya bisa setia dan akan mendampingi Bung Karno dalam keadaan apa pun, juga dalam kedudukannya. Dan saya telah membuktikannya.”

Graha Pena, 12 Maret 2013

Bacaan Must:

  1. Rahasia Terbesar Hartini (Roso Daras, 23 Januari 2010)
  2. Srihana-Srihani; Biografi Hartini Soekarno (Penerbit Ombak, 2009)
Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Maret 11, 2013, in Sejarah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: