Hilangnya Supersemar


Catatan Must Prast

kadang minum teh susu sore hari

Buku kontroversial karya Lettu pur Soekardjo. (Sumber: goodreads.com)

Buku kontroversial karya Lettu pur Soekardjo. (Sumber: goodreads.com)

Letnan Soekardjo Wilardjito berada pada hari yang bersejarah itu, 11 Maret 1966. Pengawal pribadi Bung Karno tersebut mengaku sempat mengangkat pistol untuk melindungi sang pemimpin besar revolusi dari todongan senjata Brigjen Panggabean.

Pengakuan ini terpetik dalam buku yang ditulis Soekardjo, Mereka Menodong Bung Karno (Galang Press, 2008). Purnawirawan TNI-AD yang pernah dibuang ke Pulau Buru itu mengungkap bahwa yang datang ke Istana Bogor pada hari Jumat tersebut tidak hanya tiga orang seperti disebutkan di buku-buku sejarah. Yakni, Mayjen Basuki Rachmat, Brigjen Amir Machmud, dan Brigjen M. Jusuf. Namun, ada satu perwira tinggi lagi, yaitu Brigjen Panggabean.

Tak urung, pengakuan Soekardjo tersebut menuai kehebohan. Ia dituding menyebarkan berita bohong. Hingga akhirnya, ia sempat disidang oleh Pengadilan Negeri Jogjakarta pada Desember 2000 dan terancam hukuman 15 tahun penjara. Semuanya bermula pascareformasi saat 1998 ketika ia mengaku bahwa Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) lahir di bawah tekanan dan todongan pistol.

Begitu kukuhnya, sampai-sampai Soekardjo berani melakukan sumpah pocong. Namun, akhirnya ia tidak jadi dipenjara karena pengakuannya dianggap tidak menimbulkan onar (Menguak Manipulasi Sejarah, 2012).

***

Bung Karno dan Letjen Soeharto. (Sumber: serbasejarah.wordpress.com)

Bung Karno dan Letjen Soeharto. (Sumber: serbasejarah.wordpress.com)

Tak seperti biasa, Jumat siang Bung Karno sudah hadir di Istana Bogor. Ia dikawal Brigjen Sabur, komandan Tjakrabirawa. Setelah turun dari helikopter, Ny Hartini, sang istri, menyambut dengan heran. Pasalnya, Bung Karno memang selalu singgah ke Istana Bogor tiap Jumat, namun waktunya selalu sore hari.

Beda dengan hari itu, sekitar pukul 11.00 suaminya sudah terlihat. Wajah Soekarno menyiratkan raut kegelisahan.

Setelah G 30 S meletus, suasana politik di ibu kota memang kian panas. Demonstrasi mahasiswa terjadi di mana-mana, terutama pada awal 1966. Mereka, dengan didukung TNI-AD, salah satuny menuntut PKI dibubarkan.

Hartini bertanya dengan raut bingung. ”Tumben kok datang siang-siang begini, Mas?” tanya dia. Bung Karno hanya menjawab singkat, “Jakarta sedang genting.”

Sebelum dinikahi Bung Karno, Hartini adalah janda dengan lima anak. Sang presiden langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia begitu terkejut melihat janda yang menawan tersebut. “Anaknya sudah lima, masih cantik begini?” ujar Bung Karno.

Siang itu Hartini memasak menu sayur lodeh, tempe, dan sambal tomat. Menurut Bung Karno, istrinya tersebut memang jago dan tiada duanya jika memasak lodeh. Ia perayu ulung.

Namun, hari itu tampaknya sang presiden tak bernafsu makan. Ia sangat gelisah. Bahkan, untuk bisa tidur pun, ia mesti menelan obat dahulu.

Jumat bersejarah tersebut, tiga perwira tinggi Angkatan Darat datang untuk membawa pesan dari Menpangad Letjen Soeharto, yang menggantikan Letjen A. Jani karena terbunuh pada subuh tragis 1 Oktober 1965. Ketiganya adalah Mayjen Basuki Rachmat (menteri urusan veteran), Brigjen Amir Machmud (Pangdam V/Djakarta), dan Brigjen M. Jusuf (menteri perindustrian).

Pasca pertemuan, lahirnya Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar). Salah satu isinya yang dinilai kontroversial adalah memerintahkan Soeharto untuk mengambil tindakan yang dirasa perlu demi pemulihan keamanan dan stabilitas pemerintahan.

***

Supersemar yang menghebohkan itu. (Sumber: wikipedia)

Supersemar yang menghebohkan itu. (Sumber: wikipedia)

Kini banyak kalangan menilai bahwa Supersemar yang ada saat ini palsu. Yang asli belum diketahui rimbanya. Ada pendapat yang menyebut bahwa Supersemar sengaja dilenyapkan dan diganti dengan yang ada sekarang untuk memperkuat legitimasi kekuasaan Orde Baru.

Salah satu yang menarik dicermati adalah pernyataan Ben Anderson, pengamat Indonesia yang pernah dicekal Soeharto. Ben mengungkapkan, dirinya pernah mewawancarai seorang tentara yang pernah bertugas di Istana Bogor. Sang serdadu yang nama dan pangkatnya sengaja tak disebutkan itu mengaku bahwa Supersemar memang sengaja dihilangkan.

Alasannya, surat tersebut berkop Markas Besar TNI Angkatan Darat (MBAD), bukan berkop burung garuda seperti yang dikenal saat ini. Tentu saja akan menimbulkan kecurigaan jika surat perintah presiden berkop TNI-AD.

Pengakuan Soekardjo, pernyataan Ben, dan versi lain menambah daftar panjang soal kontroversi Supersemar. Apa pun itu, Supersemar tak bisa dimungkiri mampu mengantarkan pengembannya ke kursi nomor satu di republik ini.

Begitu kontroversialnya, sampai-sampai ada pihak yang menyebut bahwa telah terjadi kudeta militer berlabel Supersemar. Sayang, banyak pelakunya yang tinggal sejarah. Terkubur bersama misteri yang menyelimuti surat tersebut.

Graha Pena, 11 Maret 2013

Bacaan Must:

  1. Kisah Istimewa Soekarno (Penerbit Kompas, 2010)
  2. Menguak Manipulasi Sejarah (Penerbit Kompas, 2012, Asvi Marwan Adam)
  3. Mereka Menodong Bung Karno (Galang Press, 2008, Lettu pur Soekardjo)
  4. Soekarno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (Cindy Adams, versi cetak ulang)

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Maret 10, 2013, in Sejarah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: