Getun Mbambung ke USS


Catatan Must Prast

pada dasarnya suka jalan-jalan

Saat saya terakhir pelesir ke Universal Studio Singapore (USS), tarifnya masih 68 dolar Singapura (S$). Kini pengelolanya menaikkannya S$ 2 jadi S$ 70. Tujuan sebenarnya adalah menekan jumlah pengunjungnya yang terus membeludak.

Di sana saya lholak-lholok karena bosan dengan segala taman dan atraksi. Sebetulnya, themed park seperti USS ini tak jauh beda dengan Dunia Fantasi di Ancol atau Trans Studio di Bandung. Namun, saya nurut saja lha wong dibayari. Namun, saya nyesel karena tidak bisa mengajak serta nyonya.  

Di sana saya mencoba beberapa permainan. Di antaranya, jet roller coaster biru (ada yang merah) yang kata petugasnya lintasannya tidak terlalu mengerikan. Dengkul ambleg, nyatanya saya merasa tertipu. Sesudah duduk dan ”kendaraan gila” itu berjalan pelan menuju lintasan puncak, jantung saya berdegup sangat kencang. Dugaan saya benar, saat turun, seakan-akan kami diempas ombak setinggi delapan meter. Serasa dibanting.

Saya menjerit-jerit dan teriak tidak keruan. Sekonyong-konyong secara spontan saya meneriaki petugas tadi ”asuuuu…kooon….”

Selama lintasan berputar kencang, saya menutup mata. Perut seperti dikocok. Keringat dingin segede jagung langsung menyisir lembut wajah saya. Ketika turun, terucap alhamdulillah. Namun, lutut saya gemetaran.

Selama beberapa saat, saya tak kuasa berjalan. Sempoyongan brur! Beberapa orang terlihat cekikikan melihat wajah saya yang pucat pasi.

Selanjutnya, saya mencoba memasuki beberapa wahana. Di antaranya, The Lost World, Far-Far Away, dan Shrek. Beberapa permainan tidak seekstrem jet roller coaster tadi. Namun, saya tidak trauma mencoba beberapa permainan lainnya. Yang saya pilih tak kalah menantang: komidi putar! Yuhuuuu, ekstrem malu, tapi tidak mengapa. Toh, tidak ada tetangga rumah yang tahu.

***

Di Jawa Pos, suatu ketika ada pembaca yang menulis di rubrik Gagasan. Ia menurunkan kritik tentang banyaknya warga Indonesia yang memilih liburan ke Singapura.

Ia memandang bahwa hal itu memalukan. Pasalnya, mereka justru memberikan pemasukan besar bagi negeri jiran (tetangga) tersebut. ”Mengapa kita tidak berpelesir saja ke tempat-tempat wisata di tanah air? Kan bisa memberikan devisa,” tulisnya setengah menyindir.

Saya pikir benar juga. Akhirnya tersisa getun pernah mbambung ke USS. Lha wong di Jawa Timur saja banyak terdapat tempat rekreasi. Misalnya, Wisata Bahari Lamongan (WBL) atau yang lebih dikenal dengan Wisata Tanjung Kodok, Taman Safari Prigen, ataupun Bromo.

Awal Januari lalu, saya dan keluarga piknik ke WBL. Di sana ada wahana roller coaster. Saya berniat naik bersama nyonya. Toh tidak seekstrem yang ada di USS. Selain itu, lintasannya pendek dan cuma tiga putaran.

Ternyata, saya keliru lagi. Meski tidak semengerikan roller coaster di USS, di bawahnya terdapat karang besar dengan deburan ombak yang bikin sensasinya tak kalah ekstrem. Seolah melihat jurang, saya teriak-teriak dan memegangi lengan nyonya saya. Mata merem melek, merem melek, membayangkan seandainya kami jatuh ke jurang karang besar itu. Ampun mama!

Begitu usai, dengkul ini tetap gemetar. Namun, saya tidak getun karena kami berpesiar di negeri sendiri. Paling tidak devisanya masuk ke Lamongan, bukan Singapura yang kian kaya dari para pelancongnya yang sebagian berasal dari sini.

Graha Pena, 7 Maret 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Maret 8, 2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: