Buang Kata ”Tak Bisa”


Catatan Must Prast

penulis Memoar Guru

Lima tahun silam, tepatnya 2008, Dahlan Iskan menurunkan buku ketiganya. Judulnya Tidak Ada Yang Tidak Bisa (Jaring Pena Surabaya). Buku ini mengupas kisah heroik Karmaka Surjaudaja (Kwee Tji Hoei). Waktu membawanya menjadi menantu pendiri Bank NISP, Lim Khe Tjie.

Tragis, mungkin ini kata yang pas untuk menggambarkan Karmaka. Betapa tidak, hidupnya diprediksi dokter tak lama lagi karena suatu penyakit berat. Hantaman cobaan paling berat dirasakan Karmaka saat dirinya mesti ganti hati. Ia kian terpukul tatkala mengalami gangguan ginjal berat sehingga harus tranplantasi organ penting itu.

Belum usai, ia terkena kanker kandung kemih. Di sisi lain, tulang kakinya retak. Ibaratnya, sudah jatuh tertimpa tangga, lalu ketumpahan cat, kemudian pot bunga menimpa kepala. Ampun mama!

Tak tahan memikul ujian mahadahsyat tersebut, ia terpikir untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Namun, semangat hidup pelan-pelan menyelinap. Spiritnya tumbuh kembali. Ia mulai berusaha berobat tanpa putus asa. Ia ingin sembuh. Semangat itulah yang diusung. Dahlan mengisahkannya dengan sangat baik. Khas. Sehingga menjadikan buku ini begitu renyah dan mengalir.

Buku ini sekarang tidak lagi diterbitkan Jaring Pena (lini penerbitan JP Books), melainkan Elex Media Komputindo. Dua tokoh ini (Karmaka dan Dahlan Iskan) menjadi suatu magnet besar dalam buku ini. Betapa tidak, keduanya pernah bergelut dengan maut, bertarung menaklukkan keputusasaan. Dahlan sendiri pernah menjalani transplantasi hati di Tiongkok setelah divonis kena sirosis.

Spiritnya adalah tidak ada kata tidak bisa. Kata ini memang sakti. Tiap orang pasti memiliki potensi. Inilah yang saya amati saat peluncuran mushaf Alquran raksasa di Lapas Banyuwangi pada 4 Maret lalu.

Penulisnya adalah Sugianto, 32 tahun. Ia salah seorang napi lapas kelas 2 B tersebut. Alquran itu diresmikan langsung oleh Dirjen Pemasyarakatan Kemenkum HAM M. Sueb. Karena mushaf, tentu saja kitab suci itu tulisan tangan. Ya, benar-benar ditulis dengan tangan.

Hebatnya, Sugianto ini sebelumnya tidak bisa membaca Alquran. Bahkan, ia mengaku tak mampu menulis dalam bahasa Arab. Ukuran Alquran yang ditulisnya tersebut memang jumbo. Yakni, berukuran 110 x 80 cm dan tebal 13 cm. Sebagaimana Karmaka, Sugianto membuang kata tidak bisa. Menaklukkan kemustahilan. Subhanallah!

Sebelum itu, Sugianto bersama napi lainnya melakukan tobat massal. Mengucapkan doa dan kalimat tayibah. Kiranya, prestasi (jika boleh disebut prestasi) Sugianto ini layak menjadi cerminan bagi banyak orang. Yakni, siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Man jadda wajada…!

Graha Pena, 6 Maret 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Maret 5, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: