Andrea Lupa Diri


Catatan Must Prast

penulis Memoar Guru

Sangat menarik adu argumen yang melibatkan Andrea Hirata dan Damar Juniarto ini. Topiknya tentang kesuksesan Laskar Pelangi yang menembus rekor penjualan tingkat dunia. Begitu kerasnya debat yang melibatkan dua ”pendekar” di dunia buku tanah air itu, sampai-sampai A.S. Laksana turun gunung dengan memotret perseteruan tersebut lewat Andrea Hirata dan Para Penyangkalnya (Jawa Pos, 24/2/213).

Semuanya berawal dari pernyataan Andrea. Ia mengklaim, hampir seratus tahun tidak ada karya anak bangsa yang mendunia. Pengamat perbukuan Indonesia Damar Juniarto pun tersengat. Seolah mewakili rapatan barisan penulis dan sastrawan, Damar mengkritik klaim Andrea tersebut dalam tulisan Pengakuan Internasional Laskar Pelangi: Antara Klaim Andrea Hirata dan Faktanya (Laksana, 24/2).

Damar menyangkal salah satu pernyataan Andrea itu. Damar menegaskan bahwa pengakuan internasional untuk karya sastra Indonesia terbilang banyak. Ia mencontohkan Pramoedya Ananta Toer yang pernah dinobatkan sebagai kandidat penyabet Nobel Sastra. Lainnya ada Y.B. Mangunwijaya dan N.H. Dini.

’’Jadi, klaim Andrea Hirata ini terdengar sangat mengolok-olok dirinya sendiri. Andrea Hirata telah mencederai sejarah dunia sastra Indonesia dengan menyebutkan tidak ada karya anak bangsa mendunia dalam kurun waktu hampir seratus tahun,” tulis Damar seperti dikutip oleh A.S. Laksana (Jawa Pos, 24/2/2013).

Merasa terluka oleh kecaman tersebut, Andrea malah melakukan blunder dengan menulis bahwa Indonesia membutuhkan kritikus yang benar-benar punya kompetensi. Reaksi Andrea ini menuai respons sengit dari sejumlah orang.

Ini bukan soal sirik dengan kegemilangan Laskar Pelangi. Sekali lagi bukan. Saya pun angkat topi dengan oplah Laskar Pelangi yang menembus jutaan kopi itu. Senada dengan A.S. Laksana, saya mempertanyakan pernyataan Andrea yang mengaitkan dirinya dengan ”kesejarahan” sastra kita. Tentu saja hal ini bikin berang orang lain karena Andrea terlihat sekali ingin menonjolkan dirinya sebagai ”the first” dan menganggap para pengkritiknya adalah orang yang berniat melemahkan kerja kerasnya memperkenalkan sastra Indonesia di tingkat dunia.

Yang lebih parah, Andrea menyebut tak ada kritikus sastra yang kompeten di tanah air.  Saya pun mafhum mengapa Laksana dan rekan-rekan penggiat sastra Indonesia merasa terpukul dan berang dengan klaim itu.

Saya mencoba berpikir positif saja. Andrea mungkin sedang lupa diri. Namun, sengatan yang keras justru dilontarkan Laksana. ”Apa ukuran kompetensi menurut Andrea Hirata? Apakah jika kritikus itu mau memberi label Laskar Pelangi sebagai sastra (atau sastra tinggi)?” tulis Laksana. Menohok!

Graha Pena, 4 Maret 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Maret 4, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: