Romansa Panglima Besar


Catatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Panglima Besar Jenderal Soedirman (Sumber: udadede.multiply.com)

Panglima Besar Jenderal Soedirman (Sumber: udadede.multiply.com)

TEMPO kembali menurunkan buku seri tokoh militer setelah Sarwo Edhie Wibowo dan Misteri 1965 (KPG, Juni 2012). Yakni, Soedirman, Seorang Panglima, Seorang Martir (KPG, Desember 2012). Ketokohan, kewibawaan, kepemimpinan, dan kepahlawanan Pak Dirman diakui oleh para sesepuh TNI seperti T.B. Simatupang, A.H. Nasution, Oerip Soemohardjo, bahkan pemimpin sipil seperti Soekarno dan Moh. Hatta.

Pak Dirman menonjol dalam pertempuran Ambarawa. Saat itu Kaji (sebutan Soedirman karena dikenal alim) menjadi komandan Divisi Banyumas dan berhasil memukul mundur pasukan Sekutu yang bersentaja lebih modern. Hebatnya, Kaji juga pernah melucuti senjata serdadu Jepang dengan kemampuan diplomasi yang di luar dugaan para petinggi TKR sehingga tak perlu pecah pertempuran berdarah.

Tak heran, ketika pemilihan Panglima Besar, seluruh panglima dan komandan divisi berkumpul dan sebagian besar sepakat memilih Kolonel Soedirman (keterangan Mayjen Didi Kartasasmita). Semua komandan memegang senjata dan praktis mirip pemilihan ala koboi. Soedirman menyisihkan calon lain seperti Oerip Soemohardjo, Amir Sjarifoeddin (kelak terlibat peristiwa Madiun 1948), dan Moeljadi Djojomartono dari Barisan Banteng.

Oerip yang kala itu berpangkat letnan jenderal harus rela dilangkahi perwira menengah berpangkat kolonel, bahkan pangkatnya dilorot menjadi mayor jenderal. Ya, Soedirman dipilih, bukan diangkat. Tak heran, ia disebut sebagai panglima di antara panglima. Namun, Oerip yang meraup suara terbanyak kedua setelah Soedirman dipilih menjadi kepala staf umum karena kecakapannya dalam strategi militer dan pengalamannya sebagai eks perwira Koninklijke Nederlandsch Indische Leger (KNIL).

Pak Dirman dilukiskan Hatta sebagai sosok pendiam yang keras kepala. Salah satunya, dalam kondisi kesehatan yang mengkhawatirkan lantaran kena TBC, sang jenderal tetap merokok. Rokok kesukaannya adalah kretek tingwe alias nglinting dewe. Kebiasaan ini akhirnya berdampak buruk yang membawa Pak Dirman terkena sakit paru akut.

Ke-ndableg-an Panglima Besar Jenderal Soedirman juga terjadi saat ia memutuskan melakukan perang gerilya melawan Belanda. Saat perutnya kosong dan belum makan 5 hari, dalam guyuran hujan lebat ia masih minta anak buahnya untuk memberikan rokok kretek kegemarannya.

Buku ini juga memotret sisi lain dari Pak Dirman. Ia dikenang oleh istrinya, Siti Alfiah, sebagai suami yang romantis. Pak Dirman sangat menyayangi sang istri. Terbukti, ia selalu memilihkan komestik dan busana yang baik untuk Alfiah. ”Ibu tinggal mengenakan,” ujar Teguh Bambang Tjahjadi, 63 tahun, anak bungsu Soedirman (TEMPO, 2012 : 82).

Suatu ketika Alfiah pernah merasa cemburu kepada Pak Dirman (Jenderal Soedirman sebenarnya berparas ganteng). Itu terjadi ketika ia berpidato di depan para putri Keraton Solo. Para perempuan cantik tersebut kagum kepada sang panglima karena penampilannya yang besus alias selalu rapi.

Terbakar api cemburu, Alfiah lantas bertanya kepada suaminya. ”Kamu senang ya? Kalau begitu, mau lagi?” Sang jenderal menjawab, ”Ya tidak, kan aku sudah punya kamu.”

Ketika terbaring sakit, Pak Dirman pernah memanggil istrinya. Para dokter tentara dan ajudan beliau sebelumnya melarang keras sang panglima besar untuk merokok. Namun, hal itu dilanggarnya. Karena benar-benar tak bisa meninggalkan kebiasaan merokoknya, Pak Dirman meminta istrinya merokok dan meniupkan asapnya ke wajah beliau.

Pada Minggu pagi, 29 Januari 1950, wajah Pak Dirman terlihat begitu cerah, padahal sudah lama tergolek sakit. Tubuhnya bahkan hanya terbungkus tulang dan kulit. Saat itu terdengar suara kaleng dan botol pecah bersamaan, kemudian tiang bendera melorot setengah tiang. Kepada beberapa pengawal Pak Dirman, Alfiah mengatakan, “Ah, itu hanya angin.”

Setelah salat Magrib, Alfiah dipanggil Soedirman di kamarnya. Mesra. Sang jenderal berkata, ”Bu, aku sudah tidak kuat. Titip anak-anak. Tolong aku dibimbing tahlil.”

Alfiah lalu menuntunnya mengucapkan Laa Ilaha Illallah. Tak lama kemudian, Pak Dirman mengembuskan napas terakhir. Seolah tak bisa dipisahkan, pada 22 Agustus 1997, Ny Alfiah Soedirman wafat dan dimakamkan tepat di samping pusara sang panglima besar yang rute gerilyanya tiap tahun dinapaktilasi oleh para taruna Akademi Militer. Selamat jalan, Jenderal!

Bumimoro, 28 Februari 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Februari 28, 2013, in Sejarah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: