Terapi Musik


Catatan Prasetyo

penggemar musik klasik

Pada 1989 lagu yang berjudul Masih Ada ini mampu merebut hati pencinta musik pop Indonesia. Lagu yang dibawakan duo 2D (Dian Pramana Putra dan Dedy Dhukun) ini tergolong easy listening. Liriknya pun simpel.

Umur lagu tersebut sudah 24 tahun. Namun, sampai sekarang saya masih tetap menyukainya. Nada-nadanya menenangkan. Demikian juga liriknya. Saat mendengarkannya, hati ini terhibur. Terutama jika gundah. Setidaknya saya mampu mengenang masa lalu, yang tak mungkin bisa terulang kembali.

Ketika lagu ini kali pertama dirilis, saya masih mengenakan celana pendek warna merah dan hidung beringus. Saya ingat betul saat itu lagu ini sering diputar di radio. Bagi muda-mudi pada zaman itu, lagu ini mungkin menjadi salah satu favorit karena liriknya memang romantis.

Lagu ini memiliki nostalgia tersendiri bagi saya, terutama saat kuliah di IKIP Surabaya. Radio anak muda Surabaya, yakni EBS FM, saat itu kadang memutar lagu lawas ini. Termasuk, Sonora FM, Radio Suzana, juga RRI.

Lagu ini pula yang membawa saya berkenalan dengan seorang mahasiswi satu almamater asal Tuban, Jawa Timur. Bermula dari sama-sama menyukai lagu ini, kami jadi semakin akrab. Ngobrol musik apa saja nyambung. Ada kecocokan di antara kami. Voila…! Kami sempat jadian.

Namun, seiring waktu dan kesibukan masing-masing, kami memutuskan tidak melanjutkan kisah asmara itu. So, jika mendengarkan lagi single Masih Ada ini, benak saya dibawa kembali ke masa-masa tersebut, ketika menempuh pendidikan di kampus pencetak guru terbesar di Indonesia Timur.

Salah satunya saat makan bakso bareng di kampus Lidah Wetan, ternyata duit di kantong cuma cukup untuk bayar minumannya saja. Alamak, dasar mahasiswa! Atau saat apel ke Perum Tasikmadu, ke rumah doi. Whuaaa, berkendara sepeda motor jadul dari Surabaya ke Tuban adalah perjalanan yang sangat mengesankan.

*****

Kini saya mendengarkan kembali lagu Masih Ada. Bukan untuk mengenang masa silam, melainkan meredakan stres dan menstabilkan kesehatan mental.

Ya, mendengarkan musik memberikan beberapa manfaat, termasuk manfaat kesehatan. Bahkan, berdasar penelitian dari  University of Kentucky, AS, setelah mendengar musik yang lembut, seorang pasien merasakan nyeri dan kecemasannya berkurang (Merdeka, 1/1/2013).

Harian Kompas (14/12/2011) malah mengutip bahwa mendengarkan musik bisa meningkatkan daya tahan tubuh. Hal ini didasarkan pada penelitian di Brunel University, London Barat. Yakni, musik dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh sebesar 15 persen, meningkatkan semangat dan efisiensi energi 1–2 persen.

Ketika saya harus menerima kenyataan bahwa SGOT dan SGPT saya cukup tinggi, saya bingung dan cemas. Karena tak mau larut dalam tekanan batin, saya mencoba terapi mendengarkan musik. Tentunya musik yang lembut dan saya sukai. Salah satunya adalah single Masih Ada yang dibawakan Dedy Dhukun dan Dian Pramana Putra.

Ternyata benar! Perasaan saya jadi lebih tenang. Kecemasan itu berangsur-angsur mundur teratur. Stres hilang. Namun, ada satu yang tak bisa hilang. Yakni, memori saat makan bakso, padahal uangnya hanya cukup untuk membayar minumannya saja. Alamak!

Graha Pena, 26 Februari 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Februari 26, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: