Meresensi Buku Pelajaran


Catatan @mustprasetyo

Klub Baca Buku IGI

LKS bergambar bintang porno Miyabi yang muncul di SMP Islam Brawijaya Mojokerto pada September 2012. (Sumber: republika.co.id)

LKS bergambar bintang porno Miyabi yang muncul di SMP Islam Brawijaya Mojokerto pada September 2012. (Sumber: republika.co.id)

Menjelang deadline koran, saya berbincang dengan salah seorang redaktur senior. Kami ngobrol seputar kurikulum 2013. Begitu asyiknya, sampai-sampai diskusi berujung pada tema buku pelajaran.

Kegelisahan kami sama: adanya buku pelajaran yang tidak beres. Contohnya banyak. Misalnya, pemuatan foto artis porno Jepang Miyabi di LKS kelas XII SMP Islam Brawijaya Mojokerto. Kasus ini terkuak pada September 2012. Ada pula buku berjudul Ratapan Gadis di Atas Kuburan untuk konsumsi murid SD kelas V. Ada konten berbau seks di situ.

Pada 18 Juli 2012, ditemukan buku-buku yang mambu pornografi untuk pengadaan perpustakaan sekolah di Banyuwangi. Yang menghebohkan, buku ini ditujukan untuk siswa SD. Hal serupa terjadi di SD Cempaka Arum, Bandung, pada Juni 2012. Di sana ada novel ”isis” (ada muatan pornografi), namun tersimpan rapi di perpustakaan sekolah tersebut. Yakni, Tambelo dan Tidak Hilang Sebuah Nama. Disdik Pemprov Jabar dimintai pertanggungjawaban lantaran buku itu dibiayai dari dana alokasi khusus (DAK).

Yang teranyar, kasus LKS nggilani. Salah satu artikelnya memuat judul AMINA DIPERKOSA SATU KALI, MINTA DUA KALI (Khilafah, 19/2/2013). Ampun!

Nah, inilah yang menjadi bahasan antara saya dan redaktur senior tersebut. Kami berpikir, hal-hal semacam ini harus dihentikan. Kasus itu kan terjadi karena longgarnya pengawasan atau bahkan ketiadaan sensor dari lembaga/instansi yang berwenang.

Alhasil, buku-buku yang ditujukan kepada anak di bawah umur malah kebablasan memuat konten yang tidak pas untuk mereka konsumsi. Ironis!

Karena itu, perlu ada solusi konkret. Semua pihak harus bersinergi dan bersama-sama mengantisipasi hal ini. Bagaimana caranya?

Salah satunya, masyarakat bisa menjadi asesor bagi buku-buku pelajaran dan LKS yang terbit. Caranya, menuliskan semacam sinopsis atau bisa juga artikel dalam bentuk resensi. Menurut saya, ini masuk akal.

Setidaknya langkah tersebut diharapkan bisa mengatasi segala kekacauan ini. Namun, tantangannya memang sangat berat. Selain minimnya minat baca masyarakat, siapa pula yang tertarik menyimak dan meresensi buku teks pelajaran?

Hhm, mengapa ini tidak dilakukan oleh para guru dan kepala sekolah saja, setuju?

Surabaya, 20 Februari 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Februari 19, 2013, in Edukasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: