Sebelum Rendang Ketan Hitam Punah


Catatan Must Prast

Jumat kemarin (15/2) saya menonton reportase kuliner di Trans TV. Liputannya mengenai masakan terkenal dari Padang, Sumatera Barat. Yakni, rendang.

Menu yang berbahan utama daging sapi ini sudah sangat tenar di seantero nusantara, bahkan sampai luar negeri. Namun, siapa sangka ada sejarah yang berada di balik masakan rendang ini.

Hal itu terkait dengan tradisi merantau bagi pemuda Minangkabau. Dilaporkan bahwa lazimnya mereka membawa bekal sebelum pergi ke tanah rantau. Tak terkecuali makanan. Salah satunya adalah rendang.  

Mengapa rendang? Ternyata salah satu alasannya adalah menu ini tidak cepat basi. Di sisi lain, budaya rantau dari Minang inilah yang memudahkan kita saat ini menjumpai resto Padang.

Di Kota Padang sendiri, para pelancong bakal mudah menjumpai toko oleh-oleh yang menjual aneka kudapan. Misalnya, rendang kering. Jangan khawatir, jumlah toko ini cukup banyak.

Ternyata, masakan ini juga banyak digemar pada warga negara asing. Salah satunya, Clara, perempuan asal Slovenia. Ia jatuh cinta pada rendang.

Kepada Trans TV, ia mengaku sempat kaget saat mengetahui bahwa cara memasak masakan itu memakan waktu hingga tiga jam. Ya, waktu memasak rendang tidak sebentar. Ini dilakukan untuk menghasilkan cita rasa yang lezat.

Bahkan, ada yang memasaknya dengan cara yang masih tradisional. Mereka menggunakan tungku dengan bahan bakar kayu. Konon teknik ini mampu menghasilkan aroma yang khas dan memikat.

Namun, di antara beberapa sajian rendang, saya tertarik dengan ulasan rendang ketan hitam. Ya, Anda tak salah dengar: rendang ketan hitam!

Menu ini sudah sangat sulit dijumpai di Padang. Hanya ada beberapa orang yang masih memasaknya. Kebanyakan ibu-ibu sepuh. Cara memasaknya pun amat tradisional.

Caranya, ketan hitam yang telah dimasak didinginkan. Setelah itu dipotong-potong layaknya lontong. Selanjutnya potongan bentuk dadu tersebut dimasukkan ke dalam kuah rendang yang telah diaduk-aduk berjam-jam.

Soal rasa? Si reporter mengatakan rasanya tidak kalah dengan rendang yang dibuat dari daging sapi. Teksturnya kenyal dan seksi. Nyam!

Mengapa ada rendang ketan hitam? Dahulu warga yang kurang mampu menyiasati mahalnya daging sapi dengan membuat rendang yang berbahan dasar ketan hitam.

Sayangnya, sekarang pembuatnya semakin sedikit. Jika mereka sudah tiada (rata-rata pembuatnya memang sudah berusia senja), dikhawatirkan menu ini juga akan punah. Yang menarik adalah komentar dari Bondan Winarno, pengasuh acara kuliner di stasiun televisi yang sama.

Dia menganjurkan menu rendang ketan hitam itu difoto, ditulis resepnya, dan didokumentasikan dalam bentuk buku. Tujuannya, menu ini bisa terus dilestarikan sebagai warisan kuliner bangsa Indonesia.

Betul! Kita patut waspada. Pasalnya, negeri jiran telah mengklaim bahwa rendang berasal dari Kotabaru, Malaysia. Gawat! Padahal, sebagaimana disebutkan Bondan, orang-orang Kotabaru yang membawa menu itu ya pendatang dari Padang.

Ayo lestarikan kuliner khas nusantara kita.

Sidoarjo, 16 Februari 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Februari 16, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: