Peristiwa Madiun


Catatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Gembong PKI Madiun 1948 Muso setelah pulang dari Uni Soviet. (Sumber: dpm.blogspot.com)

Gembong PKI Madiun 1948 Muso setelah pulang dari Uni Soviet. (Sumber: dpm.blogspot.com)

Tidak banyak buku yang mengupas rigid peristiwa kelam FDR/PKI di Madiun pada 1948. Buku yang bisa dibilang menguraikannya cukup baik adalah Peristiwa Madiun 1948 terbitan Inkopak-Hazera Jakarta karya Pinardi pada 1966. Namun, buku ini sudah sangat sukar diperoleh.

Untungnya, informasi lain saya dapat di buku Lubang-Lubang Pembantaian (Petualangan PKI Madiun) yang disusun Maksum dkk (1990) terbitan Grafiti Jakarta.

Para anggota FDR/PKI di bawah Muso dan Amir Sjarifuddin melakukan show of force di sekitar Madiun dan Magetan. Pemanasan ini dilakukan sebelum September 1948. Pembunuhan dan perampokan terjadi di mana-mana. Rata-rata warga yang bukan anggota FDR/PKI diculik, kemudian dibunuh dengan cara dicemplungkan ke sumur-sumur tua.

Salah satu tokoh terkenal yang dibunuh dalam peristiwa Madiun Affair ini adalah Gubernur Soerjo (gubernur Jatim yang namanya kini jadi salah satu nama jalan di Kota Surabaya) dan dr Muwardi. Namun, tidak ada yang lebih mengerikan dibandingkan peristiwa Soco.

Soco adalah salah satu nama desa yang terletak beberapa ratus meter dari Lanud Iswahjudi. Desa ini berada di Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan.

Di sinilah para tokoh masyarakat dijagal secara massal oleh FDR/PKI di sumur-sumur tua dan tegalan.

Para anggota FDR/PKI memakai baju hitam dan ikat kepala merah serta membawa senjata tajam seperti parang, celurit, dan tombak. Banyak pula yang melengkapi diri dengan senapan.

Sebagian besar massa PKI tersebut datang dari daerag Gorang-Gareng. Mereka mengepung Desa Soco pada pukul  03.00.

Mantan Perdana Menteri RI Mr Amir Sjarifuddin dihukum tembak atas keterlibatannya dalam FDR/PKI di Madiun pada 1948. (Sumber: inaredwhite.blogspot.com)

Mantan Perdana Menteri RI Mr Amir Sjarifuddin dihukum tembak atas keterlibatannya dalam FDR/PKI di Madiun pada 1948. (Sumber: inaredwhite.blogspot.com)

Di dekat lapangan terbang milik AURI itu, banyak terdapat rel-rel kereta lori dan pabrik gula (PG). Misalnya, PG Pagotan, Kanigoro, Glodok, dan Rejosari.

Saksi hidup bernama Jalim Anshori (berumur 60 tahun pada 1990) menuturkan, saat itu banyak warga yang ditangkap anggota PKI. Mereka digiring ke Soco untuk disembelih. Namun, sebenarnya tujuan utama PKI adalah mencari Sakidi, seorang guru vervogschool yang merupakan tokoh nasionalis setempat (PNI). Harga Sakidi ini ternyata sangat mahal bagi FDR (Front Demokratik Rakjat)/PKI (Partai Komunis Indonesia). Buktinya, setelah ia tertangkap di Desa Tanjung, dekat Soco, seluruh tawanan dilepaskan.

Nyonya Sakidi yang mendengar bahwa suaminya tertangkap langsung bergegas menyusul. Ia membawa serta dua anaknya yang berusia 1 dan 3 tahun. Ia mendapat kabar dari FDR/PKI bahwa suaminya sudah dibunuh. Nyonya Sakidi nekat untuk melihat sendiri jasad suaminya.

Jalim mengaku melihat Sujadi, salah satu algojo PKI yang membawa dua anak kecil di rumahnya. Rupanya, Sujadi telah menjagal Sakidi dan istrinya. Mayat keduanya kemudian dimasukkan ke dalam sebuah sumur tua di Soco.

Mungkin karena masih hati nurani sebagai manusia, Sujadi tidak membunuh dua balita anak Sakidi tersebut. Tak tega. Jalim menyebut, para pengikut FDR rata-rata adalah bandit, penggarong, dan bromocorah. Tak heran jika mereka tega menghabisi nyawa banyak orang.

Selain tokoh masyarakat nasionalis, target lain PKI adalah para ulama dan santri. Khodim (usia 65 tahun saat diwawancarai pada 1990) mengatakan, salah satu pesantren yang jadi sasaran adalah Ponpes Tegalrejo. Beberapa pengasuhnya seperti KH Imam Muljo yang sudah sepuh, KH Imam  Rakhmat, dan KH Sjamsuddin berusaha mempertahankan ponpes dari kepungan FDR/PKI.

Khodim mengingat, ada perintah “aneh” dari KH Imam Muljo yang sudah sangat tua itu. Yaitu, para santri tidak boleh menyakiti FDR/PKI, apalagi membunuhnya.

Hal yang sama diutarakan Djamal (umur 75 tahun pada 1990). Padahal, para santri sudah siap mempertahankan ponpes dengan membawa pentungan, sekop, dan bambu runcing.

Ketika massa PKI merangsek ke Ponpes Tegalrejo, KH Imam Muljo bertakbir, “Allahu akbar…!” Bersamaan dengan itu, mereka langsung roboh dan saling bertabrakan. Setelah roboh, mereka tidak bisa bangun. Karena tak boleh menyakiti, beberapa santri lantas membentak mereka dan menyuruh kabur, maka seketika itu mereka lari tunggang langgang (Lubang-Lubang Pembantaian, hal 72).

Pada Minggu malam, 19 September 1948, terjadi serangan kedua ke Ponpes Tegalrejo. Lagi-lagi KH Imam Muljo memerintahkan para santrinya untuk tidak membalas menyerang.

Karena dendam kesumat, massa FDR/PKI melempari pesantren itu dengan 85 granat. Ajaibnya, tidak ada satu pun granat yang meledak setelah KH Imam Muljo berdiri di sana.

Peristiwa PKI Madiun (Madiun Affair) adalah salah satu sejarah kelam dalam perjalanan bangsa Indonesia. Gembongnya, Muso, akhirnya tertangkap di toilet umum di pegunungan kapur Slaung, kawasan antara Ponorogo-Trenggalek, oleh kompi Sumadi dari Divisi Siliwangi. Banyak versi akan kematian Muso. Namun, semuanya menyebutkan bahwa Muso ditembak mati.

Sementara Amir Sjarifuddin yang merupakan mantan pejabat RI itu dihukum tembak mati. Ia tertangkap di Alas Ketu, Jawa Timur. Di depan regu tembak, Amir membawa kitab Injil dan berdoa sejenak. Beberapa saat kemudian, ia meregang nyawa untuk mempertanggungjawabkan Madiun Affair.

Dari buku ini, saya melihat bahwa paham komunis dengan jargon sama rata sama rasa itu hanya mampu menyentuh kalangan masyarakat miskin yang tidak tahu politik, juga bandit-bandit lokal. Namun, pemerintah tidak belajar dari Madiun Affair. Para pelariannya seperti Aidit dan M.H. Lukman tidak ditangkap dan justru membangun kekuatan PKI kembali. Soekarno malah membentuk paham Nasakom (nasionalis, agama, dan komunis) yang memberikan ruang gerak kepada PKI. Meskipun peristiwa G 30 S masih menjadi misteri akan keterlibatan PKI, namun jangan lupa bahwa massa PKI sering mengadakan provokasi di berbagai daerah. Pihak yang dianggap menghalang-halangi dibunuh.

Salah satunya adalah aksi sepihak BTI (Barisan Tani Indonesia) di Bandar Betsy, Sumut, yang mengakibatkan satu nyawa kesuma bangsa melayang, yaitu Pelda S. Soedjono. Juga aksi provokasi Kanigoro, Kediri.

Waspadai bahaya laten komunisme!

Sidoarjo, 15 Februari 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Februari 15, 2013, in Sejarah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: