Awas, Buku Bajakan


Catatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Ilustrasi: jualmp3playermurah.olsku.com

Ilustrasi: jualmp3playermurah.olsku.com

Minggu pagi (10/2/13), sekitar pukul 10.00 saya berangkat menuju Sirikit School of Writing (SSW) untuk belajar di sana. Sebelum itu, saya mampir ke sebuah tempat fotokopi. Sambil menunggu lembaran belajar saya difotokopi, saya melihat-lihat koleksi buku-buku yang terpajang di sana.

Ada berbagai jenis buku. Di antaranya, buku kuliner, novel sastra lama Balai Pustaka, buku populer, sejarah Wali Sanga, origami, dan buku pendidikan. Sebagian diberi sampul plastik, namun banyak pula yang dibiarkan terbuka.

Semuanya mengundang rasa penasaran saya. Betapa tidak, harganya murah banget. Semula saya pikir ada diskon. Saya lantas menyambar buku Kick Andy Kisah Inspiratif 3 terbitan Bentang Pustaka (Grup Mizan). Harganya cuma Rp 25 ribu.

Sebenarnya saya sudah tuntas membacanya. Namun, saya sengaja membeli lagi karena harganya yang melebihi Menara Pisa (baca: supermiring) itu. Harga aslinya sebenarnya Rp 46 ribu di toko buku.

Ternyata dugaan saya benar. Setelah membuka plastik yang membalut sampul buku tersebut, kualitas isinya memprihatinkan. Kertasnya sangat buram, bahkan lebih buram daripada kertas koran. Tipis. Foto-foto yang tercetak di situ tidak jelas, cenderung kabur. Ada sederet kejanggalan lain yang berbeda sama sekali dengan buku serupa yang sudah saya baca sebelumnya.

Jelas sudah bahwa yang saya pegang itu adalah buku bajakan. Saya lantas membuang pandangan ke rak buku-buku fiksi, terutama novel klasik terbitan Balai Pustaka, di situ. Salah satunya, Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan Sati (1928). Entah itu cetakan keberapa. Namun, secara sekilas saya langsung menangkap bahwa novel tersebut juga berkualitas bajakan.

Saya pun tergoda untuk menelusuri berbagai buku yang dipajang di sana. Termasuk buku kuliner dan buku pendidikan. Edan tenan, buku pendidikan setebal sekitar 100 halaman hanya dibanderol Rp 10 ribu.

Beberapa waktu lalu istri saya mengutarakan niat untuk pergi ke toko buku. Ia bermaksud untuk membeli buku panduan unas sekolah dasar (SD). Kebetulan ia memang guru kelas VI SD yang sebentar lagi para siswanya menjalani ujian nasional tersebut. Saya pun mengizinkannya.

Ia membeli buku SPM Plus SD/MI 2013 terbitan Esis dengan banderol Rp 39 ribu di toko buku. Karena ada diskon, ia mendapatkannya seharga Rp 33.500. Nah, buku serupa saya temui di tempat fotokopi tersebut. Persis!

Harganya pun pastinya lebih murah, tidak semahal di toko buku. Tapi, saya tidak menyarankannya membeli di situ, khawatir itu buku bajakan.

Setahun silam saya pernah membeli buku Panduan Jurnalistik (2011) karya Ahmad Faizin Karim, guru SMA Muhammadiyah 1 Gresik, di sana. Saya sudah membacanya tuntas.

Namur, sejujurnya saya resah. Ada semacam kekhawatiran dan tanggung jawab moral apabila buku yang saya tersebut adalah hasil bajakan. Setelah tahu, kini saya tidak akan mengulanginya. Bentuknya, saya tidak membaca kembali buku Kick Andy Kisah Inspiratif 3 versi bajakan itu. Cukup saya koleksi saja.

Saya bisa membayangkan betapa penerbit dan penulis dirugikan karena aksi membajak tersebut. Di sisi lain, tak bisa dimungkiri bahwa memberantas pembajakan buku tentu bukan pekerjaan mudah. Untuk itu, pemerintah harus bersikap tegas.

Ilustrasi: liemantara.com

Ilustrasi: liemantara.com

Namun, kita juga perlu menanamkan sikap kepada anak didik bahwa membeli karya bajakan itu tidak menguntungkan. Sebab, kualitas isi pasti ala kadarnya dan jauh berada di bawah versi orisinal atau aslinya. Apalagi, dalam buku bajakan ada saja halaman yang raib.

Secara realistis, saat ini sangat mudah menjumpai barang-barang bajakan. Bayangkan, VCD/DVD bajakan menjamur. Ada pula dompet bajakan, tas branded aspal (asli tapi palsu), rokok bajakan, sampai software bajakan. Jangan-jangan makanan pun bakal marak dibajak. Misalnya, nasi padang khas Lamongan. Wah…wah…

Surabaya, 11 Februari 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Februari 10, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Negara agraris…semua dibajak….

  2. Itulah Indonesia….

    salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: