Jurnalisme Sastrawi


Catatan Must Prast

Klub Baca Buku IGI

Saya terhenyak membaca buku Teror Subuh di Kanigoro (Bentang, 1995). Buku ini ditulis oleh wartawan senior Republika Ahmadun Yosi Herfanda berdasar penuturan pelaku sejarah salah satu prolog G 30 S, yakni Anis Abiyoso. Saya mengenal Herfanda sejak Ayat-Ayat Cinta yang dikarang Habiburrahman El Shirazy muncul secara berseri di harian nasional tersebut.

Karena besarnya minat pembaca, akhirnya Ayat-Ayat Cinta diputuskan dicetak dalam bentuk novel. Siapa sangka jika novel yang ber-setting Negeri Piramida ini menembus penjualan yang fantastis. Bahkan, pada 2008 dilaporkan bahwa royalti untuk Kang Abik (sapaan Habiburrahman El Shirazy) menembus angka Rp 1,3 miliar. Wow!  

Kembali ke Herfanda, kebetulan saya penyuka buku-buku berbau sejarah dan salah satunya adalah Teror Subuh di Kanigoro. Seperti diketahui, hari-hari menjelang meletusnya G 30 S, Partai Komunis Indonesia (PKI) mengadakan ”pemanasan” di mana-mana. Salah satu yang terkenal adalah peristiwa Bandar Betsy, Sumatera Utara. Anggota Barisan Tani Indonesia (BTI) dan Pemuda Rakyat (PR) melakukan provokasi di tanah milik negara di Bandar Betsy.

Aksi itu kemudian dihadang beberapa anggota TNI-AD. Salah satunya, Pelda S. Soedjono. Namun, tindakan aparat keamanan tersebut tidak diterima oleh massa PKI yang berjumlah ratusan orang itu. Soedjono akhirnya gugur setelah dikeroyok. Kepalanya  dicangkul dan jasadnya dipukuli oleh orang-orang BTI-PR secara beringas. Mengerikan. (Kisahnya bisa dibaca dalam buku yang ditulis Ibu A. Yani, istri Menpangad Letjen A. Yani).

PKI dengan ganas mencoba kekuatan lawan politiknya sekaligus mengukur kekuatannya sendiri. Banyak terjadi bentrokan di beberapa daerah. Peristiwa lain yang amat terkenal adalah kejadian di Kanigoro (Kanigoro Affair) pada 13 Januari 1965.

Kanigoro merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan Keras, Kabupaten Kediri. Saat itu tengah diadakan mental training oleh Pemuda Islam Indonesia (PII) di sana. Awal Januari tersebut kebetulan sedang memasuki bulan suci Ramadhan.

Anis Abiyoso kala itu menjabat sebagai ketua bagian kader II PII Jatim. Saat menjalani shalat Subuh, tepatnya saat duduk tasyahud, massa PKI masuk ke masjid tempat para kader PII shalat Subuh.

Mereka mendobrak pintu masjid. Anis melaporkan beberapa di antara mereka berpakaian lusuh dan membawa senjata tajam seperti celurit dan parang. Setelah shalat, Anis memperhatikan seseorang yang mengambil Alquran, lalu menyobeknya. Yang lain terlihat menginjak-injak kitab suci umat Islam tersebut kemudian berkata, “Iki sing marakke gudiken (Ini yang bikin penyakit kulit, Red)”. Anis lantas diseret keluar.

Massa PKI di luar mulai berteriak-teriak. “Bunuh! Hidup PKI. Balas peristiwa Madiun  (PKI Madiun 1948, Red). Ganyang antek Nekolim. Ganyang santri…!” Yang lain menyahut, “Bunuh…! Gorok…!”

Kontan, para anggota PII merasa merinding. Anis sebagai pimpinan lantas diikat dan lehernya dikalungi celurit. Mereka digiring dan diarak keliling kampung. Ada sekitar 120 kader PII, sedangkan massa PKI berjumlah ribuan.

Para kader PII itu dibawa berjalan kaki dari Kanigoro ke kantor polisi (Polsek) Keras. Jaraknya sebenarnya hanya 5 km. Namun, mereka berjalan memutar sejauh  15 km. Tidak ada korban jiwa dari pihak PII. Namun, aksi provokasi massa PKI tersebut sempat membuat khawatir.

Buku Teror Subuh di Kanigoro ini begitu nikmat dibaca. Meski dikemas dalam bahasa sastra, laporan jurnalistik setebal 85 halaman ini saya ludeskan sekitar 20 menit. Mas Yosi Herfanda menuliskan kembali laporan Anis (pelaku sejarah Kanigoro) tersebut dengan sangat apik.

Ia tak menampik bahwa laporan itu bisa disebut “novel sejarah”. Yup, laporan jurnalistik sastra atau jurnalisme sastrawi (literary journalism) sudah kondang sejak 1970-an di Amerika Serikat. Ada yang menyebutnya new journalism dan kini banyak memengaruhi gaya penulisan berita di berbagai belahan dunia. Termasuk Indonesia.

Seperti dikatan Thomas B. Connery dalam A Sourcebook of American Literary Journalisme, jurnalistik sastra atau jurnalisme sastrawi adalah penyajian fakta-fakta (informasi) yang bernilai jurnalistik dengan teknik narasi fiksi realis.

Buku Teror Subuh di Kanigoro bisa dibilang termasuk salah satunya. Buku ini menjadi salah satu catatan sejarah yang penting.

Kita tahu bahwa buku-buku sejarah agaknya kurang begitu diminati oleh para remaja kita. Padahal, merekalah sebenarnya sasaran utama yang akan meneruskan sejarah itu. Bisa jadi salah satu penyebabnya adalah gaya penulisan yang kaku. Jika demikian, gaya penulisan jurnalisme sastrawi bisa menjadi pilihan. Jangan sampai anak-anak kita tidak mengetahui perjalanan sejarah bangsanya. Seperti kata Bung Karno: Jas Merah (Jangan sekali-kali melupakan sejarah).

Sidoarjo, 9 Februari 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Februari 9, 2013, in Sejarah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: