Jangan Menyerah, Bung!


Catatan Must Prast

pengajar di Eureka Academia

Panglima Besar Jenderal Soedirman (Sumber: udadede.multiply.com)

Panglima Besar Jenderal Soedirman (Sumber: udadede.multiply.com)

Posturnya terbilang kurang ideal bagi seorang tentara. Kurus. Namun, siapa sangka jika Bung Karno memilihnya sebagai panglima besar dengan pangkat jenderal. Ya, dia adalah Soedirman, arek asli Purbalingga, Jawa Tengah. Mengapa Bung Karno kepincut?

Soedirman mengawali karirnya di militer dengan mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (Peta) bentukan Jepang. Sebelumnya, ia hanya seorang guru di sekolah rakyat milik Muhammadiyah di Cilacap pada 1936.

Bakat leadership-nya amat menonjol. Terbukti ia pernah didapuk menjadi komandan batalyon Peta untuk kawasan Banyumas, Jawa Tengah. Saat Jepang menyerah kepada AS di Perang Pasifik, TKR mulai melucuti senjata pasukan Jepang.

Di masa kepemimpinan Oerip Soemohardjo, panglima sementara waktu itu, Soedirman diangkat sebagai komandan Divisi V/Banyumas dengan pangkat kolonel (usianya baru 29 tahun).

Pak Dirman di Jogjakarta. (Sumber: ordinarylife-dailyjournal.blogspot.com)

Pak Dirman di Jogjakarta. (Sumber: ordinarylife-dailyjournal.blogspot.com)

Seusai proklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, di beberapa daerah pecah pertempuran melawan Sekutu-NICA yang hendak menduduki kembali negeri ini. Termasuk pertempuran paling terkenal di Surabaya pada 10 November 1945. Di Ambarawa juga terjadi pertempuran pasca gugurnya anak buah andalan Soedirman, Letkol Isdisman.

Setelah rapat pada 11 Desember 1945 dengan para komandan kesatuan TKR, esoknya Soedirman memimpin perang dahsyat di Ambarawa. Soedirman menerapkan taktik supit urang, yakni mengurung pertahanan musuh dari berbagai sudut. Peristiwa ini dikenal dengan nama Palagan Ambarawa (monumennya pun dibangun). Kolonel Soedirman dan pasukannya meraih kemenangan gemilang. Hal ini akhirnya diperingati sebagai Hari Juang Kartika (Hari Jadi TNI-AD).

Sukses itulah yang membuat Bung Karno tak ragu mengangkat Soedirman sebagai panglima besar. Ia pun kembali membuktikan tajinya. Saat Belanda melancarkan agresi militer ke ibu kota Jogjakarta, Jenderal Soedirman memimpin perang gerilya yang masyhur itu.

Saat itu ia harus ditandu karena sakit. Dokter mendiagnosis sang panglima terkena sakit paru. Sebenarnya ia dilarang bertempur, baik oleh Bung Karno dan Bung Hatta maupun dokter pribadinya. Toh, Soedirman bergeming dan bertekad untuk tetap memimpin anak buahnya mengusir Belanda.

Bagi Belanda, Soedirman adalah musuh nomor satu yang harus dilenyapkan. Hebatnya, dalam beberapa kali penyergapan oleh serdadu musuh, Soedirman selalu berhasil lolos dari maut.

Setelah kembali ke Jogja dengan selamat, ia disambut gegap gempita oleh pasukannya dan rakyat Indonesia. Namun, sakitnya sudah semakin parah. Hanya satu parunya yang berfungsi. Betapa pun kuat semangat Soedirman, toh ia tak kuasa membendung kuasa Tuhan. Ia mengembuskan napas terakhir di RS Panti Rapih Jogjakarta pada 1950 dalam usia 34 tahun.

*****

Cerita Pak Dirman itu sungguh menginspirasi saya untuk bangkit dan tidak mudah menyerah pada penyakit. Saya merasa kondisi kesehatan saya lebih baik sejak beberapa minggu nglentruk (tepar) karena sakit liver. Sebab, selain mendapat penanganan medis, saya mengimbangi dengan mengonsumsi obat herbal. Misalnya, minum sari kulit manggis dan jus gammat.

Saat ini saya berusaha menuntaskan pekerjaan menulis buku bersama Much. Khoiri (dosen Unesa) dan mengedit buku RSBI yang disusun tim IGI. Sungguh, kalau saya disurut rutin berolahraga, maka menulislah yang saya pilih sebagai olahraga dan terapi itu.

Ndablek? Tidak juga. Pak Dirman itu perokok berat sehingga terkena penyakit paru (TBC). Saat dirawat di RS, ia masih sempat meminta tolong kepada sang dokter. ”Mas Dokter, tolong sampeyan merokok, biar saya mencium baunya saja,” kata sang jenderal.

Nah, kalau saya tak mau disuruh berhenti menulis dan dianggap ndablek, maka Pak Dirman jauh lebih ndablek. Namun, bagaimanapun saya tetap mengagumi sosok Pak Dirman. Sebab, ia sangat gigih. Baik dalam berjuang maupun semangatnya untuk tetap bisa sekadar mencium asap rokok. Istilah kerennya: Jangan mudah menyerah, Bung…!

Graha Pena, 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Februari 9, 2013, in Sejarah. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Jenderal Sudirman adalah pahlawan favorit saya sepanjang sejarah perjuangan kemerdekaan di Indonesia. Yg saya kagumi dari beliau adalah semangat juangnya yang tinggi, pengorbanannya yang benar2 tulus bagi negara, sampai2 saat sakit keras pun dia terus berjuang di garis depan. Sosok seperti beliau di jaman ini mgkn tidak akan kita jumpai.

    Terima kasih atas ulasannya. Keep on posting.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: