Fotografi Itu Perjuangan!


Catatan Eko Prasetyo

Editor Jawa Pos

Saya dan Kepala SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Mushthafa saat pelatihan menulis dan fotografi pada 28 November 2012. (dok. Teddy)

Saya dan Kepala SMA 3 Annuqayah Guluk-Guluk Mushthafa saat pelatihan menulis dan fotografi pada 28 November 2012. (dok. Teddy)

Para penikmat fotografi tanah air pasti tidak asing dengan nama Darwis Triadi. Ya, dia adalah fotografer senior yang meniti karir mulai nol. Kisah hidupnya unik dan inspiratif. Salah satunya, sebenarnya pria kelahiran Solo ini tidak punya latar belakang pendidikan sesuai bidangnya saat ini.

Darwis adalah lulusan sekolah penerbang di Curug pada 1975. Karena merasa bukan dunianya, ia nekat nyemplung ke dunia potret-memotret mulai 1979. Untuk memperdalam pengetahuan fotografi, ia menempuh kursus tersebut di Swiss dan Jerman.

Darwis kemudian membagikan ilmu dan pengalamannya selama puluhan tahun dengan mendirikan Darwis Triadi School of Photography pada 2002. Yakni, sebuah sekolah fotografi di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Nah, saya mendapatkan pengalaman baru dalam dunia ini dari salah satu instruktur di Darwis Triadi School of Photography. Dia adalah Teddy K. Wardhana.

Kami berjumpa di Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, pada akhir November 2012. Saat itu (28/11) ia dijadwalkan mengisi pelatihan fotografi di Sekolah/Pesantren Annuqayah. Menurut M. Faizin, salah satu kiai muda di ponpes tersebut, pelatihan ini berlangsung menarik dan mampu menyedot antusiasme luar biasa dari para santri dan guru.

Begitu heroiknya, sampai-sampai Kepala SMA 3 Annuqayah M. Mushthafa rela mblusuk di bekas galian untuk memuntahkan jepretan kameranya. Pelatihan yang berlangsung seharian ini sangat seru. Sama heroiknya dengan perjalanan Teddy ke Guluk-Guluk. Betapa tidak, sejak menapak di Bangkalan, Teddy bersama rombongan yang terdiri atas Ahmad Rizali (pembina IGI), Liza (istri Rizali), dan Sekar (istri Teddy) nggowes sepeda sampai kawasan Ponpes Annuqayah. Mereka sempat bermalam di wilayah Sampang.

Saya tidak sempat mengikuti pelatihan fotografi dengan kamera ponsel yang dipandu Teddy karena pulang duluan ke Surabaya. Namun, sebelum saya meninggalkan Pulau Garam, Teddy membagikan tip seusai salat Duhur berjamaah di masjid ponpes. Yakni, memotret itu suatu pekerjaan yang menguras mental dan menguji kesabaran.

Dengan kata lain, untuk menghasilkan jepretan yang baik, kita tidak bisa asal-asalan membidikkan kamera. Sebab, memotret bisa dikatakan sebagai pekerjaan membelah waktu. Artinya, seorang tukang jepret membutuhkan momen tertentu untuk menghasilkan bidikan yang baik.

Di sinilah mental seorang fotografer diuji. Terkadang untuk menangkap satu momen penting dibutuhkan lebih dari 60 kali jepretan, bahkan bisa lebih. Tak heran jika fotografi ini begitu menguras tenaga, memforsir pikiran, dan sangat mengandalkan konsentrasi. Apabila sukses menghasilkan bidikan yang diinginkan, foto tersebut tidak hanya menjadi saksi bisu sebuah peristiwa atau sejarah, tapi juga berpeluang menjadi karya seni yang indah.

Setelah bertemu Teddy, saya mulai keranjingan belajar fotografi, terutama melalui kamera ponsel dan kamera saku. Ternyata memang tidak mudah mendapatkan angle yang sesuai dan baik.

Foto karya wartawan Jawa Pos Sholihuddin ini menyabet juara dunia di Belanda untuk kategori foto olahraga pada 1996. (Sumber: terbaca.com)

Foto karya wartawan Jawa Pos Sholihuddin ini menyabet juara dunia di Belanda untuk kategori foto olahraga pada 1996. (Sumber: terbaca.com)

Benak saya seakan terlempar ke sebuah foto di redaksi Jawa Pos. Foto itu dijepret oleh Sholihuddin, wartawan Jawa Pos, pada 1996. Dalam potret yang menyabet penghargaan World Press Photo di Belanda untuk kategori foto olahraga tersebut, terlihat sebuah truk TNI-AD yang penuh Bonek (suporter Persebaya Surabaya) yang hampir terguling ke kanan dengan suasana yang begitu ekspresif. Natural.

Saya yakin tidak mudah mendapatkan foto sefenomenal itu. Ya, sang jurnalis tersebut menemukan momentumnya dengan tepat. Tentunya, seperti kata Teddy, dibutuhkan kesabaran. Juga perjuangan.

Graha Pena, 4 Februari 2013

Iklan

About Eko Prasetyo

Mari Beramal lewat Ilmu

Posted on Februari 3, 2013, in Catatan Harian. Bookmark the permalink. 7 Komentar.

  1. sebuah momen memang tidak mudah didapatkan

  2. menarik untuk diketahui lebih jauh tips dan trik menggunakan kamera ponsel. Semoga saya dapat ilmunya nanti, biar koleksi foto saya di Blog Ane lebih bagus lagi.

  3. saya baru ketemu artikel ini setelah lama kejadiannya :))
    ditunggu kapan-kapan datang lagi ke Guluk-Guluk, Mas Pras…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: